Rabu, 13 Februari 2013

Arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia 2006-2016
(reposting mas Eko Gamping)

A. PENDAHULUAN

1. Pada awal milenium ini, Gereja Katolik Indonesia telah menyelenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI). Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia disahkan oleh KWI menjadi kebijakan pastoral Gereja Katolik Indonesia. SAGKI 2000 bertema: “Memberdayakan Komunitas Basis Gerejawi dan Insani.” SAGKI 2005 bertema: “Bangkit dan Bergeraklah! Gereja Membentuk Keadaban Publik Baru bangsa.”

2. Seiring dengan kebijakan itu, Komisi, Lembaga, Sekretariat, Departemen (KLSD) KWI sebagai perangkat KWI juga berusaha mengembangkan budaya kerjasama (korporatif) dengan mengedepankan kerjasama lintas-KLSD maupun lembaga-lembaga terkait lainnya. Misalnya pertemuan untuk mencari penegasan Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, yang terselenggara di Wisma Samadi Klender – Jakarta, tanggal 21 – 24 Juni 2006, terjadi atas kerjasama Komisi Kateketik KWI, Komisi Keluarga KWI, Karya Kepausan Indonesia dan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Katolik – Departemen Agama Republik Indonesia.

3. Usaha pembentukan habitus baru dan budaya kerjasama menuntut pertobatan (metanoia). Pertobatan itu mencakup perubahan sikap dan tindakan yang merupakan gerakan pembaruan menuju keadaban publik baru bangsa.

4. Tujuan kebijakan pastoral itu hanya dapat dicapai bila dimulai dengan pembinaan iman anak sejak dini.

5. Berdasarkan kenyataan diatas dan didukung pula oleh sharing pengalaman peserta Pertemuan Mencari Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, maka diperlukan penegasan bersama arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia masa kini.

B. PEMBINAAN IMAN ANAK

6. Anak sebagai subyek.

Anak sebagai pribadi yang berharga dan unik adalah subyek pembinaan. Maka anak harus menjadi fokus reksa pastoral. Yang dimaksud dengan anak disini adalah anak usia dini dan usia Sekolah Dasar (0 – 12 tahun).
7. Anak dalam tahap-tahap pembinaannya.

Dalam usaha pembinaan iman anak, kita harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak sesuai dengan karakteristik dan konteks sosial budayanya. Perlu kiranya diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh secara dominan dalam perkembangan anak yakni: keluarga, sekolah, teman sebaya dan kemajuan teknologi khususnya media.
8. Keluarga

Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica), tempat penyemaian dan pengembangan iman anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Anak dihantar dan dibimbing ke arah iman dewasa (ada keseimbangan antara pengetahuan dan penghayatan iman). Oleh karena orangtua adalah mitra Allah dalam karya penciptaan manusia baru, maka harus menjadi pembina utama dan pertama serta tak tergantikan, melalui kesaksian dan keteladanan hidup kristiani sejati yang diwujudkan dengan pemberian kasih sayang yang tulus, adil dan arif bijaksana (bdk.LG 11; GE 3; FC 50).
9. Pembina iman anak

Pembina iman anak yang utama dan pertama adalah orangtua. Dalam pelaksanaannya, orangtua bekerja sama secara sinergis dan seimbang dengan para pembina iman anak di sekolah, di paroki dan di masyarakat. Pembina iman anak harus memperhatikan martabat dan hak-hak anak.

10. Hirarki

Hirarki sebagai penanggungjawab reksa pastoral Gereja mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk membimbing, mengarahkan dan mendukung sepenuhnya reksa pastoral pembinaan iman anak. Tanggungjawab hirarki dalam reksa pastoral pembinaan iman anak terungkap dalam dokumen-dokumen Gereja universal dan partikular, antara lain:

a. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium art.11, Gaudium et Spes art. 50, Gravissimum Educationis art.3.

b. Catechesi Tradendae, art. 36

c. Familiaris Consortio, art.50

d Kitab Hukum Kanonik 1983, Kan.867.

e. Pedoman Gereja Katolik Indonesia 1995.

f. Hasil SAGKI 2000 yang dikukuhkan Sidang KWI 2000.

g. Hasil SAGKI 2005 yang dikukuhkan Sidang KWI 2005.

C. METANOIA

11. Demi tercapainya pembinaan iman anak yang seutuhnya dan sepenuhnya, diperlukan perubahan-perubahan (metanoia) dalam diri anak dan pelaku reksa pastoral.

a. Anak: menyadari dirinya sebagai subyek yang bertumbuh dan berkembang secara manusiawi dan kristiani serta inklusif sesuai tahap-tahap perkembangan yang dilaluinya.

b. Keluarga/Orangtua: menyadari bahwa keluarga adalah Gereja Rumah Tangga, yang berperan sebagai pembina utama dan pertama.

c. Wali Baptis: meningkatkan tanggungjawabnya dalam proses perkembangan iman anak baptis.

d. Gereja/Komunitas: lebih inklusif dan peduli pada pembinaan iman anak, terutama yang terlantar dalam pembinaan imannya.

e. Hirarki: lebih mendengarkan, melaksanakan dan meningkatkan mutu reksa pastoral sesuai ajaran Gereja.

f. Fasilitator/Para Pembina Iman Anak: membaharui diri terus menerus sebagai saksi Kristus sejati secara aktif-partisipatif.

g. Lembaga-Lembaga Reksa Pastoral: semakin meningkatkan kerjasama dengan membentuk jejaring yang sinergis.

D. REKOMENDASI

12. Dalam rangka sosialisasi dan realisasi arah dasar pembinaan iman anak, peserta pertemuan ini menyampaikan rekomendasi-rekomendasi kepada:
a. KWI

Mohon dukungan sepenuhnya serta kesediaan KWI dalam menindak-lanjuti hasil pertemuan pembinaan iman anak ini, dalam kerjasama lintas KLSD dan KKI demi masa depan Gereja dan bangsa.
b. Uskup Setempat

Mohon dukungan sepenuhnya dalam menindaklanjuti hasil pertemuan ini, dengan memfasilitasi pembinaan iman anak dan memasukkannya dalam program kerja Keuskupan serta mendorong Komisi-Komisi Keuskupan, Pastor Paroki untuk bekerjasama dan terlibat dalam upaya pembinaan iman anak.
c. KomKat, KomKel, KomDik, KomLit KWI, LBI dan KKI

Mohon agar membuat program kerja terpadu dalam pembinaan iman anak, dengan memperhatikan aspek-aspek perutusan dan kerjasama yang sinergis.
d. Ditjen Bimas Katolik

Mohon meningkatkan komitmen dalam pembinaan iman anak serta dukungan dana dan sarana, demi kemajuan bangsa dan negara.

Jakarta, 24 Juni 2006

PARA PESERTA PERTEMUAN PEMBINAAN IMAN ANAK GEREJA KATOLIK INDONESIA

Komisi Kateketik KWI
Komisi Keluarga KWI
Karya Kepausan Indonesia
Ditjen Bimas Katolik

1. Pada awal milenium ini, Gereja Katolik Indonesia telah menyelenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI). Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia disahkan oleh KWI menjadi kebijakan pastoral Gereja Katolik Indonesia. SAGKI 2000 bertema: “Memberdayakan Komunitas Basis Gerejawi dan Insani.” SAGKI 2005 bertema: “Bangkit dan Bergeraklah! Gereja Membentuk Keadaban Publik Baru bangsa.”

2. Seiring dengan kebijakan itu, Komisi, Lembaga, Sekretariat, Departemen (KLSD) KWI sebagai perangkat KWI juga berusaha mengembangkan budaya kerjasama (korporatif) dengan mengedepankan kerjasama lintas-KLSD maupun lembaga-lembaga terkait lainnya. Misalnya pertemuan untuk mencari penegasan Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, yang terselenggara di Wisma Samadi Klender – Jakarta, tanggal 21 – 24 Juni 2006, terjadi atas kerjasama Komisi Kateketik KWI, Komisi Keluarga KWI, Karya Kepausan Indonesia dan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Katolik – Departemen Agama Republik Indonesia.

3. Usaha pembentukan habitus baru dan budaya kerjasama menuntut pertobatan (metanoia). Pertobatan itu mencakup perubahan sikap dan tindakan yang merupakan gerakan pembaruan menuju keadaban publik baru bangsa.

4. Tujuan kebijakan pastoral itu hanya dapat dicapai bila dimulai dengan pembinaan iman anak sejak dini.

5. Berdasarkan kenyataan diatas dan didukung pula oleh sharing pengalaman peserta Pertemuan Mencari Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, maka diperlukan penegasan bersama arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia masa kini.

B. PEMBINAAN IMAN ANAK

6. Anak sebagai subyek.

Anak sebagai pribadi yang berharga dan unik adalah subyek pembinaan. Maka anak harus menjadi fokus reksa pastoral. Yang dimaksud dengan anak disini adalah anak usia dini dan usia Sekolah Dasar (0 – 12 tahun).
7. Anak dalam tahap-tahap pembinaannya.

Dalam usaha pembinaan iman anak, kita harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak sesuai dengan karakteristik dan konteks sosial budayanya. Perlu kiranya diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh secara dominan dalam perkembangan anak yakni: keluarga, sekolah, teman sebaya dan kemajuan teknologi khususnya media.
8. Keluarga

Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica), tempat penyemaian dan pengembangan iman anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Anak dihantar dan dibimbing ke arah iman dewasa (ada keseimbangan antara pengetahuan dan penghayatan iman). Oleh karena orangtua adalah mitra Allah dalam karya penciptaan manusia baru, maka harus menjadi pembina utama dan pertama serta tak tergantikan, melalui kesaksian dan keteladanan hidup kristiani sejati yang diwujudkan dengan pemberian kasih sayang yang tulus, adil dan arif bijaksana (bdk.LG 11; GE 3; FC 50).
9. Pembina iman anak

Pembina iman anak yang utama dan pertama adalah orangtua. Dalam pelaksanaannya, orangtua bekerja sama secara sinergis dan seimbang dengan para pembina iman anak di sekolah, di paroki dan di masyarakat. Pembina iman anak harus memperhatikan martabat dan hak-hak anak.

10. Hirarki

Hirarki sebagai penanggungjawab reksa pastoral Gereja mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk membimbing, mengarahkan dan mendukung sepenuhnya reksa pastoral pembinaan iman anak. Tanggungjawab hirarki dalam reksa pastoral pembinaan iman anak terungkap dalam dokumen-dokumen Gereja universal dan partikular, antara lain:

a. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium art.11, Gaudium et Spes art. 50, Gravissimum Educationis art.3.

b. Catechesi Tradendae, art. 36

c. Familiaris Consortio, art.50

d Kitab Hukum Kanonik 1983, Kan.867.

e. Pedoman Gereja Katolik Indonesia 1995.

f. Hasil SAGKI 2000 yang dikukuhkan Sidang KWI 2000.

g. Hasil SAGKI 2005 yang dikukuhkan Sidang KWI 2005.

C. METANOIA

11. Demi tercapainya pembinaan iman anak yang seutuhnya dan sepenuhnya, diperlukan perubahan-perubahan (metanoia) dalam diri anak dan pelaku reksa pastoral.

a. Anak: menyadari dirinya sebagai subyek yang bertumbuh dan berkembang secara manusiawi dan kristiani serta inklusif sesuai tahap-tahap perkembangan yang dilaluinya.

b. Keluarga/Orangtua: menyadari bahwa keluarga adalah Gereja Rumah Tangga, yang berperan sebagai pembina utama dan pertama.

c. Wali Baptis: meningkatkan tanggungjawabnya dalam proses perkembangan iman anak baptis.

d. Gereja/Komunitas: lebih inklusif dan peduli pada pembinaan iman anak, terutama yang terlantar dalam pembinaan imannya.

e. Hirarki: lebih mendengarkan, melaksanakan dan meningkatkan mutu reksa pastoral sesuai ajaran Gereja.

f. Fasilitator/Para Pembina Iman Anak: membaharui diri terus menerus sebagai saksi Kristus sejati secara aktif-partisipatif.

g. Lembaga-Lembaga Reksa Pastoral: semakin meningkatkan kerjasama dengan membentuk jejaring yang sinergis.

D. REKOMENDASI

12. Dalam rangka sosialisasi dan realisasi arah dasar pembinaan iman anak, peserta pertemuan ini menyampaikan rekomendasi-rekomendasi kepada:
a. KWI

Mohon dukungan sepenuhnya serta kesediaan KWI dalam menindak-lanjuti hasil pertemuan pembinaan iman anak ini, dalam kerjasama lintas KLSD dan KKI demi masa depan Gereja dan bangsa.
b. Uskup Setempat

Mohon dukungan sepenuhnya dalam menindaklanjuti hasil pertemuan ini, dengan memfasilitasi pembinaan iman anak dan memasukkannya dalam program kerja Keuskupan serta mendorong Komisi-Komisi Keuskupan, Pastor Paroki untuk bekerjasama dan terlibat dalam upaya pembinaan iman anak.
c. KomKat, KomKel, KomDik, KomLit KWI, LBI dan KKI

Mohon agar membuat program kerja terpadu dalam pembinaan iman anak, dengan memperhatikan aspek-aspek perutusan dan kerjasama yang sinergis.
d. Ditjen Bimas Katolik

Mohon meningkatkan komitmen dalam pembinaan iman anak serta dukungan dana dan sarana, demi kemajuan bangsa dan negara.

Jakarta, 24 Juni 2006

PARA PESERTA PERTEMUAN PEMBINAAN IMAN ANAK GEREJA KATOLIK INDONESIA

Komisi Kateketik KWI
Komisi Keluarga KWI
Karya Kepausan Indonesia
Ditjen Bimas Katolik


https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/185572631479805/
Orang Muda Katolik (OMK) di tengah arus hubungan antar agama dan kepercayaan (HAK)

1. Meluas Sejak ”Zaman Kita”

Arus dialog antar-agama makin kuat sejak 1960-an. Seperti teologi pembebasan, teologi pluralisme agama-agama memiliki akar resminya dari Konsili Vatikan II (1962-1965), dan benihnya diperkenalkan kepada Gereja oleh Paus Paulus VI dalam ensikliknya Ecclesiam Suam (6 Agustus 1964). Teologi pluralisme agama-agama ini merupakan buah dari panggilan Konsili bagi Gereja agar berada dalam dialog dengan agama-agama lain. Jika teologi pembebasan mengambil titik pijak pada dokumen Gaudium et Spes (“Kegembiraan dan Harapan”), maka teologi pluralisme agama-agama berpijak pada dokumen Nostra Aetate (”Zaman Kita”), deklarasi hubungan Gereja terhadap agama-agama non-Kristen. Walaupun dokumen yang ditetapkan tahun 1965 ini ini singkat saja, hanya 5 artikel, namun telah secara signifikan mengubah sikap Gereja Katolik dalam membangun hubungan dengan masyarakat dan agama-agama lain. Khususnya, artikel di bawah ini sangat revolusioner, paling tidak menurut standard Gereja tahun 1960-an:

”Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci dalam agama-agama [!: The Catholic Church rejects nothing which is true and holy in these religions]. Dengan sikap hormat dan tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran yang menerangi semua orang” (NA, 2). Sampai di sini kita teringat pula akan Lumen Gentium : ”Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta GerejaNya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendakNya yg mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG, 16)

Catatan berikutnya dalam NA artikel 2 itu mengingatkan, bahwa Gereja tidak mau terjebak dalam indiferentisme:

”Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya (2Kor 5:18-19). Di sini ingatan melayang ke LG 14 yang berseru untuk orang Katolik sendiri: ”Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah pengantara dan jalan keselamatan yakni Kristus. Ia hadir dalam TubuhNya yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (Mrk 16:16; Yoh 3:5), Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja… Maka andaikata ada orang yang benar-benar tahu bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan”

Alinea terakhir NA 2: ”Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta peri hidup Kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya yang terdapat pada mereka.

Setelah itu, menguatlah arus dialog antar-agama dalam kepala dan anggota-anggota tubuh Gereja Katolik, dibandingkan era sebelumnya. Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) dalam sidang-sidangnya sejak tahun 1990 – 1995 bergembira dengan arus teologi pluralisme. Tidak heran karena konteks Asia menuntut Gereja berdialog dengan agama-agama lain di samping dengan budaya-budaya dan realitas kemiskinan. Memang, agama-agama besar terlahir di Asia. Bahkan penerbitan dokumen Dominus Iesus 5 September 2000 oleh Kongregasi Ajaran Iman, yang menekankan karya penyelamatan Allah melalui Kristus dalam Gereja Katolik Roma, yang sebenarnya mirip LG 14, tidak mematahkan semangat dialog, selain malahan menegaskan bahwa alasan dialog memang diakui muncul karena adanya perbedaan dalam hidup bersama. Isu-isu teologis yang timbul sejak Dominus Iesus tetap menunjukkan bahwa sikap positif atas dialog tetap menempati 95%, sedangkan penolakan atas dialog pasca terbitnya dokumen itu hanya 1% (Edmund Chia, Towards a Theology of Dialogue: Schillebeeckx’s Method as Bridge between Vatican’s Dominus Iesus and Asia’s FABC Theology. Bangkok: 2003). Komisi Dialog atau Hubungan Antar Kepercayaan di FABC, KWI serta Keuskupan dan Paroki pun dibentuk untuk mengembangkan dialog dengan agama-agama lain, memantapkan hubungan ekumenis, dan relasi dengan penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dialog kemudian berkembang dalam tujuh (7) bentuk: (1) dialog kehidupan, (2) dialog dalam hidup sehari-hari, (3) dialog karya, (4) kerja sama antar lembaga, (5) dialog pakar, (6) pemahaman dalam persahabatan, (7) dialog pengalaman religius. Dengan demikian sebenarnya bisa ditegaskan kebenaran iman kita ini: Allah sendiri-lah yang menghendaki ”keluar dari dirinya sendiri”, mendatangi manusia untuk berdialog dengan manusia untuk menyelamatkan manusia.
2. Realitas Orang Muda Katolik (OMK) Dalam Arus Dialog

Rapat Pengurus Komisi Kepemudaan KWI 12 Februari 2009, menegaskan agar klausul ”mengembangkan wawasan dan pengalaman dialog dengan agama-agama lain” dimasukkan dalam rancangan Pedoman Pastoral OMK. Usulan atas kalimat itu dalam Pedoman Pastoral OMK itu bukannya tanpa alasan. Arus zaman menuntut kita berdialog antar agama, dan Komisi Kepemudaan semestinya mengajak OMK berlatih berdialog. Maka, dialog antar-agama mesti menjadi perhatian Komisi Kepemudaan pula. Kita tahu dari pengalaman, betapa urusan Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) selama ini terkesan menjadi urusan orang tua. Padahal di lapangan, banyak ajakan berdialog kepada OMK di tingkat paroki, kevikepan/dekenat, maupun keuskupan, dan nasional baik oleh pemerintah maupun majelis agama-agama dan forum-forum lintas agama. Kebutuhan untuk menampilkan OMK dalam panggung dialog ini hendaknya bukan hanya karena desakan rasa malu karena selama ini kita sukar memenuhi undangan dari saudara-saudara kita karena minimnya OMK yang mau dan mampu terlibat, namun hendaknya didorong dari dalam oleh ketulusan hati yang penuh syukur atas kasih Allah yang menggapai semua orang. Kesungguhan untuk melibatkan OMK dalam HAK sebenarnyalah bukan karena OMK kita selama ini ”mengkawatirkan” jika harus menjelaskan pengetahuan iman Katolik mereka di antara teman-teman agama-agama lain yang begitu percaya diri, namun lebih-lebih karena perutusan oleh Tuhan sendiri untuk menaburkan cinta kasihNya demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia.
3. Harapan atas OMK di Tengah Arus Dialog Agama-Agama

Pastoral OMK mesti menganut blue ocean management. Karya kepemudaan tak bisa mengincar satu bentuk saja. Fokus Karya KomKep memang hanya satu yakni pengembangan OMK secara holistik pada katolisitas/spiritualitas, kepribadian, kemasyarakatan, kepemimpinan/organisasi dan profesionalitas. OMK Indonesia dengan segala dimensinya harus berkembang, dengan program, bentuk dan cara kegiatan yang beraneka ragam dan banyak pilihan, termasuk pengembangan diri OMK dalam hal dialog antaragama dan kepercayaan. Oleh karena itu, pastoral OMK dalam konteks HAK semestinya:

1. Menetapkan tujuan pelibatan OMK dalam HAK, berdasar needs analysis, tentu saja bisa dipakai berbagai alat analisis, seperti SWOT, dll, namun juga alat pikir tiga poros keadaban publik (NotaPastoral KWI 2004).
2. Menetapkan desain program yang nyata dalam kerja sama dengan Komisi HAK. Pembinaan Orang Muda Katolik yang holistik, bersama Komisi HAK semoga berani membidik keberanian OMK agar menghayati iman dengan praktek hidup, aktif terlibat dalam hidup kemasyarakatan, berjiwa pejuang wirausaha, menjalani studi dengan baik, mudah berefleksi, mudah mengayunkan hati dalam doa, dan ringan hati menjalin persahabatan dengan teman-teman agama-agama dan kepercayaan lain. Pendek kata, menghasilkan OMK yang siap berdialog dalam ketujuh bentuknya di atas dengan teman-teman agama-agama lain.
3. Menumbuhkan minat OMK akan pengetahuan imannya. Kenyataan ini berbanding lurus dengan kemalasan membaca kekayaan iman dan intelektual, suatu depositum fidei yang dalam dan luas dari Gereja Katolik. Kemalasan dan minimnya pengetahuan iman yang menjadi suatu batu sandungan jika ingin suatu dialog yang lebih mendalam dengan teman-teman agama-agama lain. Apa yang mau didialogkan jika tak tahu persis mengenai aspek-aspek pengetahuan imannya sendiri? Apa bisa berdialog jika tidak terjun langsung dan segera bergaul dengan teman-teman muda dari agama-agama lain?

4. Peluang

Zaman kita memberi peluang baru yakni minat OMK akan teknologi informasi terkini. Jika orang muda Katolik mulai membangun jejaring dalam berbagai minat dengan aneka milist, facebook, twitter, blog, website, tentu saja alat ini akan berguna pula bagi pengembangan jejaring muda Katolik penggerak HAK. Yang saya maksud bukanlah media kontak-kontak romantisme belaka, namun terlebih bagaimana memakai media internet untuk menambah pengetahuan iman Katolik bagi OMK, dan berdialog dengan agama-agama lain dalam 7 bentuknya di atas. Beberapa website Katolik yang dikelola dengan baik oleh umat bisa ditautkan dengan website OMK dalam rangka membina HAK. Orang muda agama lain bisa diundang agar berinteraksi di dalamnya untuk berdialog. Semoga.

Yohanes Dwi Harsanto Pr, Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI. Tulisan ini pernah dipaparkan dalam diskusi Komisi HAK Regio Jawa, Februari 2009.

https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/185572251479843/

List Materi Pelatihan OMK

Posted by omk santo michael On 11.46 No comments
Rekan-rekan,
Ketika beberapa kali menyusun kurikulum pelatihan, saya sering menjumpai banyak materi yang sama. Saya mencoba mendaftar berbagai materi pelatihan yang selama ini berkembang di tengah kita, sehingga sedikit banyak  membantu saya untuk mengecek kembali materi yang ada. Apakah lits sederhana ini berguna atau tidak, saya kembalikan ke teman-teman. Saya mohon tambahan dan koreksi untuk makin menyempurnakannya bagi kita semua.

Wassalam,

Cyprianus Lilik K. P.

PRAKONDISI
1.     Kontrak Belajar, perkenalan,
o    Pencairan suasana
o    Perkenalan
o    Alur proses
o    Harapan dan sumbangan
o    Kontrak belajar
o    Brainstorming
2.     Pengenalan dan Manajemen diri
o    Luka batin dan epikasi
o    Pengenalan dan manajemen diri

KATOLISITAS
3.     Spiritualitas
o    Wawasan spiritualitas
o    Olah rohani (Doa, retret)
o    Anatomi spiritualitas diri
4.     Wawasan iman
5.     Hidup menggereja
6.     Panggilan dan Perutusan

NILAI DASAR DAN KESADARAN KRITIS
7.     Universal Value, Social Human Rights, & Catholic values
o    HAM
o    Hak asasi sosial
o    ASG
o    Teologi Pemerdekaan
8.     Demokrasi dan Democratic Citizenship
o    Prinsip-prinsip demokrasi
o    Transisi Demokrasi
o    Pelembagaan Demokrasi
o    Kewarganegaraan (Civic Virtue)
9.     Analisa Sosial
o    Game ansos
o    Dasar-dasar ansos
o    Praktek ansos
o    Struktur masyarakat modern
10.  Pemetaan Ideologi (Liberalisme – Sosialisme, postmodernisme)
o    Liberalisme dan kolonialisme
o    Sosialisme
o    Postmodernisme
o    Fundamentalisme
§  Akar-akarnya,
§  Kaitannya dengan arus besar pertempuran ideologi
11.  Neoliberalisme dan Globalisasi
o    Neoliberalisme
o    Globalisasi
o    Gobal movement

KEINDONESIAAN
12.  Keindonesiaan I : sejarah, struktur sosial, antropologi Indonesia
o    Sejarah sosial masyarakat Indonesia
o    Struktur sosial masyarakat Indonesia
o    Sejarah kebangsaan Indonesia
o    Sejarah pemikiran sosial politik Indonesia
13.  Keindonesiaan II : Masyarakat politik Indonesia, dan Indonesia kontemporer
o    Indonesia dalam politik internasional
o    Indonesia dan developmentalisme
o    Masyarakat Indonesia kontemporer
o    Politik Indonesia kontemporer
14.  Keindonesiaan III : Agama-agama dan multikulturalisme
o    Sejarah agama-agama di Indonesia
o    Islam
o    Agama-agama non islam
o    Fundamentalisme religius di Indonesia
o    pluralisme dan multikulturalisme
o    Gerakan-gerakan pluralisme dan multikulturalisme Indonesia

POLITICAL SKILL
15.  Dasar-dasar politik
o    Apa itu politik
o    Dua macam politik
o    Advokasi
16.  Kebijakan publik
o    Dasar-dasar kebujakan publik
o    Pelembagaan politik Indonesia
o    Advokasi kebijakan publik
17.  Partai politik
o    Dasar partai politik
o    Sejarah Partai politik internasional
o    Sejarah partai politik Indonesia
o    Parpol Indonesia kontemporer
o    Rekruitmen politik dan kaderisasi partai
o    Komunikasi politik
18.  Lokal politik
o    Sejarah
o    Sosiologis dst

SOCIAL MOVEMENT
19.  Gerakan sosial
o    Gerakan sosial dan perubahan sosial
o    Dasar-dasar gerakan sosial
o    Manajemen gerakan
o    membangun gerakan sosial
o    pengembangan strategi gerakan
20.  gerakan sosial baru :
o    Feminisme
o    Lingkungan hidup
o    Gerakan kesenian alternatif
21.  Com dev, CO
o    Dasar-dasar Community organising
o    Animasi komunitas
22.  Jaringan (networking)
23.  Social campaign : Media dan advokasi/kampanye politik
24.  masyarakat sipil Indonesia
o    sejarah gerakan masyarakat sipil Indonesia
o    anatomi gerakan masyarakat sipil Indonesia
o    gerakan mahasiswa
o    gerakan rakyat
o    gerakan profesional
o    cyber civil society

MEDIA KREATIF
25.  Media Literacy (Cetak)
o    Dasar-dasar media
o    Media development
o    Analisa media
o    Strategi media
26.  film
27.  game dan animasi komunitas
28.  menulis
29.  aksi budaya
30.  lain-lain

ORGANISATIONAL SKILL
31.  Management – Program Planning
o    Manajemen kegiatan
o    Manajemen program
o    Manajemen organisasi
o    Manajemen perubahan
32.  Tata Kelola rumah tangga organisasi
33.  Logistik, Fundraising, dan manajemen keuangan
o    Perencanaan logistik
o    Manajemen keuangan
o    Penggalangan dana
34.  Team building & Conflict Management

PERSONAL SKILL
35.  manajemen diri
36.  meditasi
37.  olah fisik
38.  Personal planning
39.  Public Speaking
o    Debat
o    Rapat
o    Lobby
o    Seminar
o    Lain-lain
40.  Critical Thinking, Reading, & Wiriting
o    Critical Thinking
o    Critical Reading
o    Critical Wiriting
41.  Leadership
o    Transformatif leadership
o    Creative leadership
o    Teknologi partisipasi
o    Kepemimpinan Kristiani

PENUTUP
42.  Penutup :
o    Kapita selekta,
o    Review
o    Dasar-dasar pengembangan diri pasca pelatihan
o    Apa yang terlewat
o    Rencana tindak lanjut

o    Evaluasi dan Refleksi


https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/181143751922693/

Mudika atau OMK ?

Posted by omk santo michael On 11.44 No comments
Mudika atau OMK ?

OMK
Kata OMK Muncul dalam diskusi teman-teman KAJ tahun 2004 untuk menanggapi banyaknya kelompok-kelompok baru kaum muda yang tidak tertampung oleh Mudika. Selanjutnya istilah ini dipakai sebagai istilah umum dalam Pernas OMK 2005. Sebenarnya kata OMK dimaksud untuk menggantikan istilah umum “kaum muda Katolik”

Dengan demikian istilah OMK sebenarnya tidak menunjuk pada “komunitas” tetapi “istilah generik” seperti kata “kaum muda Katolik”. Namun demikian selanjutnya kata OMK dipergunakan salah kaprah sebagai pengganti kata Mudika.

Sebagai istilah, OMK tidak memiliki kerangka konseptual sebagai platform gerakan kaum muda Katolik baru, istilah ini dimunculkan hanya untuk menyegarkan kembali terminologi “kaum muda”, tanpa target dan perencanaan sistematis yang diturunkan dari terminologi baru ini. Demikian pula tidak ada dasar legal formal dari istilah OMK, yang ada adalah konsensus tidak sengaja yang tersebar dan meluas.

Orangmuda Katolik dimaksudkan untuk menggantikan istilah “kaum muda Katolik” bukan Mudika.

Mudika
Istilah Mudika muncul dalam dinamika pendampingan kaum muda Paroki Katedral Bogor 1974 dan kemudian tersebuar luas. Mudika lebih dimaksud pendampingan kaum muda Katolik teritorial. Sementara KMk dimaksud untuk menyebut gerakan kaum muda Katolik di lingkungan kampus (keluarga mahasiswa Katolik). Mudika adalah istilah sementara yang muncul untuk mengisi kekosongan pendampingan kaum muda pasca Pemuda Katolik

1985 disepakati berdirinya Komisi Kepemudaan KWI, sejak saat itu, Mudika dipakai untuk menyebut komunitas Katolik muda teritorial (pemuda) yang berorientasi ke dalam gereja, sementara Pemuda Katolik sebagai ormas dipercaya mengisi peran kesternal kaum muda Katolik.

Jadi OMK atau Mudika ?
Jadi mana yang lebih tepat, OMK atau Mudika ? Keduanya sama-sama tidak ada landasan legal-formalnya, keduanya sama-sama tidak memiliki kerangka konseptual dan organisasional yang jelas.

https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/178452605525141/

Sekolah Minggu

Posted by omk santo michael On 11.41 No comments
Sekolah Minggu
(Sebuah kisah lama, smeoga menyemangati kita semua !)

Bocah-bocah dusun di lingkungan St. Antonius Sendangsari bernyanyi-nyanyi dengan gembira. Mereka nampak nongkrong di pembatas jembatan kecil di pinggir jalan Sumberlawang. Beberapa mudika dan bapak ibu nampak berbincang tak jauh dari anak-anak itu.
Nah, itu dia Pak Kardi.
“Pak Kardi datang”. Seru seorang anak. Segera saja belasan anak berlarian ke jalan. Sebuah pick up tua berwarna merah mendekat. Sesaat kemudian, Pak Kardi yang mulai beruban dengan senyum yang khas penuh kebapakan turun menyapa anak-anak itu.
“Ayo naik, naik”
tanpa disusruh dua kali anak-anak Sendangsari pun berebutan naik ke bak belakang mobil merah itu.
“kamu ikut kan, John ?” Tanya Anna.
“Yo”
Keduanya pun lantas meloncat masuk ke dalam bak, bergabung bersama kanak-kanak yang gembira.
“Sudah siaaaaaaaappppp ?” Pak Kardi berteriak bertanya.
“Siiiaaaappp komandan.” Seru anak-anak itu kompak.
Glodhag, glodhag. Dan mobil pun bergoyangan bergerak perlahan Anak-anak itu pun melambaikan tangan pada orang tua-orang tua mereka yang mengantar di tepi jalan, juga pada beberapa kakak mudika yang ikut berkumpul pagi itu. Nendra dan Anton nampak mendampingi dengan motor-motor mereka.
Siapa tak senang dolan setiap minggu pagi, dengan mobil bak terbuka berkelana ke sana kemari melintas sawah-sawah merambah dusun demi dusun ? Itulah yang dilakoni anak-anak St. Antonius Sendangsari tiap minggunya. Tapi mereka bukan sekedar dolan. Mereka bertualang untuk mengikuti sekolah minggu di gereja stasi mereka. Sebuah gereja mungil yang terletak di lereng bukit agak jauh dari dusun mereka tinggal.

Dan anak-anak itu sangat senang pada Pak Kardi. Yang walaupun kadang galak, namun setia menjemput dan mengantar mereka. Demikian juga segenap warga Sumberlawang. Maka ketika Pak Kardi sakit seluruh stasi pun sepertinya ikut merasakan kesedihan. Benar memang Pak Alex lalu menggantikan untuk sementara peran Pak Kardi, namun toh tak mungkin seakrab dan sehangat sapaan Pak Kardi yang khas dengan gigi ompongnya itu.
Dan Pak Kardi adalah seorang pensiunan yang dengan setia mengisi minggu paginya dengan menjemputi kanak-kanak yang belia itu. Tak hanya anak-anak Sendangsari, namun juga Kalisari, Tlagasari, Tuksari, hingga Ranusari. Dan karena itu kadang-kadang Pak Kardi harus mengitari trayeknya dua atau tiga kali agar semua bocah Sumberlawang dapat bertemu dengan Kristus dan sahabat-sahabat dalam iman. Kadang-kadang ia ditemani Pak Barjo, seorang guru desa di Dusun Beliksari. Pak Dar dan beberapa bapak lain kadang mengawal dengan motor mereka. Demikian juga beberapa mudika nampak setia mengiringi adik-adik mereka. Dan jadilah sebuah konvoi unik tiap minggu pagi di jalan-jalan dusun-dusun Sumberlawang.
Aku diberkati, sepanjang hidupku diberkati, mulai dari bangun pagi, saing berganti malam aku diberkati….” Terdengar nyanyi gembira bocah-bocah itu. Anna pun ikut bernyanyi dengan riang. John yang meski telah diajari berkali-kali  tetap tak mampu mengambil nada yang tepat, lebih memilih menggeleng-geleng kepala sambil bertepuk tangan. “Penghayatan estetikmu kurang sih” komentar Anna suatu kali. “Coba bibirmu lebih maju”.
Tapi segala daya upaya nampak sama saja. John pun menyerah dengan usahanya, dan kini nampak berpasrah, lebih menikmati kegembiraan bersama di tengah-tengah mereka.

“Gimana Pak, Bu Darmi sudah sehat atau belum ?” tanya Pak Barjo yang kebetulan menemani Pak Kardi pagi itu, menyapa Pak Darmo, sembari menunggu kanak-kanak Dusun Tlagasari menaiki mobil.
“Pangestunipun, Pak. Sudah agak lumayan”
“Sudah jadi periksa ke Solo kan ?”
yang ditanya mengangguk-angguk.

Tapi pagi itu Pak Barjo tak bisa menemani hingga mereka tiba di gereja stasi, ia turun di perempatan dekat makam dusun, “Saya pamit dulu ya, saya harus mampir ke rumah bulik Sri.”
“Lha ada apa to Pak ? Tanya John.
“Itu lho persiapan mantu si Warni”
Di perempatan di depan, Pak Barjo pun turun. Mobil kini kembali bergoyangan melewati jalan dusun yang mulai rusak dan menamjak.
“Mestinya ya sudah diaspal lagi. Wong jalan penting kayak gini kok lubangnya ndak karuan.” Terdengar umpatan Nendra. Pak Kardi tertawa. Ia berkata,
“Besok, habis panen ini kita usul ke Pak Kadus, gimana ?”

Sesaat kemudian mereka tiba di Stasi.
“Ayooooo turun, turun, turun !!!” Seru Anna sembari berdiri di bak belakang. John sendiri sudah berada di bawah. Ia menyambut membantu setiap anak-anak yang berlompatan turun. Tentu agak sudah bagi mereka yang terlalu kecil untuk turun dari mobil. Mereka mempercayakan diri pada tangan-tangan muda yang menopangnya. Tapi seorang yang terakhir nampak sungkan malu-malu.
“Aku bisa turun sendiri, Oom John ! “ terdengar suara lembut dari atas bak. John pun mendelik. Oops, itu Anna.
Biasanya Anna akan dengan cerewet menyemburkan aneka kosakata. Tapi pagi itu, entah kenapa, gadis manis itu tersenyum. Dan John pun kehilangan kata-kata.

Beberapa mudika nampak sudah sibuk menyiapkan tempat. Kebetulan tak ada misa minggu pagi di stasi, karena perayaan ekaristi telah dipersembahkan hari Sabtu sore sebelumnya. Dan pagi ini giliran lingkungan St. Paulus yang mengisi sekolah minggu. Kang Bambang sudah siap dengan guyon kocak habis-habisannya (ia nampak sibuk berlatih dengan beberapa anak yang sudah hadir di sana). Sementara itu, Wisnu bersiap-siap dengan gitarnya. Ia nampak begitu serius menyetem gitar. Ini menjadi obyek yang menarik bagi beberapa anak cerdas kreatif yang berbakat seni. Tak butuh lima belas menit untuk memindahkannya ke papan tulis stasi, lengkap dengan segala distorsi bentuk dan komentar pelengkapnya.

Mereka, keluar lagi untuk menjemput tiga anak-anak lagi di dusun sebelah. Kali ini Pak Kardi, Anna, dan John yang memang koordinator urusan penjemputan, ditemani Niken dan Nanang. Itung-itung bertualang, kata mereka.
Di sana, di dusun Kalisari, di depan sebuah rumah dengan warung kecil di depannya, Gaby, Prita, dan Vina sundah menunggu. Bu Warsi nampak sibuk dengan bagor berisi dagangannya.
“Lho, Bu Warsi mau ikut juga ?  Kok tumben.” Komentar Nanang dari atas motornya.
“Iya je le, mumpung ada tumpangan gratis. Nanti mampir ke Pasar Legi ya, Pak Sopir ya.” Sahut bu Warsi dengan senyum kocak.
“Oalah, mau ke pasar to ?” Si nenek pun meringis.
“He he he, boleh dong nenek-nenek kreatif.”
Para mudika itu hanya melongo.

“Iya, nanti jangan lupa oleh-oleh buat Andien ya mbah ya ?” Kata Andien kecil.
“Iya, buat Carlo juga, mbah.”
“Andi juga”
“:Klisti, Mbah.” Terdengar suara cadel.
“Toni”                                                                       
“Wal ketan juruh ya”
“Bayu minta thiwul
“Robert tape ya mbah”
Lalu terdengar suara riuh bocah-bocah itu.

Dan simbah pun terkapar.


Sabtu pagi, Juni 2004
dari kisah seorang teman.
WebRepOverall rating 


https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/185892481447820/
  1. analisa sosial dan metode berpikir
  2. situasi jaman (neoliberalisme, lingkungan, globalisasi, pluralisme, kebangsaan)
  3. olah rohani
  4. pembelajaran hidup menggereja, tradisi dan lain-lain
  5. pengorganisasian komunitas (community development)
  6. psikologi perkembangan dan konseling
  7. manajemen pendampingan, termasuk manajemen diri pendamping
  8. game, musik, dan ketrampilan lapangan yang lain
Penting :
Bahwa kemudian kita menemukan minat dan ketertarikan pribadi pada model pendampingan tertentu (sosial politik, komunitas doa, aksi karitatif, sekolah minggu), itu panggilan unik kita, tetapi seorang pendamping yang baik akan berusaha membangun pemahaman dan kesadaran yang utuh dalam dirinya. Dengan rendah hati dan terbuka untuk melengkapi dirinya dengan wawasan-wawasan baru yang ia butuhkan demi orang muda dampingannya.


https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/206235499413518/

Orangmuda, Katolik, Indonesia

Posted by omk santo michael On 11.33 No comments
Sekedar berbagi ...
Manusia suka mencari rasa aman di dalam batas-batas pengetahuannya dan juga cenderung untuk membatasi kegiatannya pada lingkungan itu. Tetapi Roh Tuhan yang menjiwai manusia baru dalam Kristus, selalu memperluas batas-batas pengetahuan dan kegiatan manusia itu. Terdapatlah suatu kekuatan di dalam batinnya; dan kekuatan ini mendorongnya untuk mengatasi setiap sistem dan setiap ideologi. Dalam lubuk hati dunia tersimpan rahasia manusia : Manusia menemukan dirinya sebagai anak Allah dalam suatu proses perkembangan sejarah dan psikologis. Dalam proses perkembangan ini, paksaan dan kebebasan, beban dosa dan dorongan Roh Kudus bertarung satu sama lain dan berganti-ganti kalah dan menang.
Octogesima Adveniens art. 37

MKI, Muda Katolik Indonesia, adalah nama organisasi kaum muda Katolik di tahun 1930an yang kemudian  berkembang menjadi Pemuda Katolik saat ini. dibalik nama ini sejatinya bersembunyi inspirasi bagir gerakan kita sebagai orang muda Katolik Indonesia : tiga semangat : semangat kemudaan, semangat Kekatolikan, dan semangat keindonesiaan. Semoga semangat ini menyala dan menginspirasi kita semua :)

Definisi Umum

Mudika adalah semua orang Muda Katolik Indonesia, yang baik bersama-sama maupun sebagai pribadi memiliki, mengolah, dan mengembangkan dalam dirinya empat kualitas dasar :
  1. Kemanusiaan
  2. Kemudaan
  3. Kekatolikan
  4. Keindonesiaan

Individu Mudika

Seorang Mudika adalah seorang Muda Katolik Indonesia yang sepenuhnya memiliki, siap untuk bertanggung jawab atas, sedia terlibat dan bekerja bersama-sama bagi masa depan yang bermartabat bagi diri pribadinya, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan itu sendiri.

Panggilan Seorang Mudika
Mudika adalah seorang Muda Katolik Indonesia yang :
  1. sadar dan mampu mengemban peran dan tanggung jawabnya sebagai orang muda dalam tugas kebangsaan yang dipercayakan kepadanya sebagai anak negeri Indonesia,
  2. sadar dan mampu mengemban tugas dan panggilan kemanusiaannya untuk selalu berpihak pada mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir, mereka yang senantiasa menjadi korban dari ketidakadilan dan kerakusan kekuasaan,
  3. sadar dan mampu mengemban tugas dan panggilannya sebagai warga Gereja, sebagai penerus tradisi iman beserta ajaran-ajarannya, sekaligus sebagai satu komunitas peziarahan dan perjuangan hidup bersama menuju sang Kasih Sejati, yakni Allah sendiri.
  4. sadar dan mampu mengemban tugas hakikinya sebagai orang muda, dalam menyempurnakan diri pribadi dan semua talenta yang dipercayakan kepadanya, dalam memperjuangkan impian dan idealisme kemudaannya, dalam kesadaran penuh bahwa masa depan yang ia perjuangkan adalah pula masa depan dari masyarakat, bangsa, gereja, dan kemanusiaan itu sendiri. Maka, menjadi sebuah keniscayaan baginya untuk bekerja bersama dengan semua sesama orang muda melintasi batas kebudayaan dan agama, menjadi daya gerak utama transformasi sejarah bangsanya,
  5. maka, menjadi sebuah keniscayaan pula, seorang Mudika pertama-tama haruslah mengerti, mendalami, dan menghidupi semangat, teladan hidup, dan ajaran Sang Kasih sendiri, yakni Kristus, Sang Manusia Muda yang secara khusus disampaikan kepada jaman ini lewat perantaraan Gereja Kudus. Demikianlah, menggereja menjadi kesempatan pembelajaran hidup yang pertama bagi seorang Muda Katolik, tanpa menjadi mati dan beku di dalamnya.

Wawasan Dasar

Seorang (penggerak) Mudika harus mengenal dan mengu-asai empat wawasan dasar ini (dibangun melalui materi-materi LKTD/kaderisasi di tiap-tiap basis) :
  1. 1.       Analisa Sosial :
  2. 2.       Wawasan sosio-kemasyarakatan
  • Kemampuan untuk merumuskan pertanyaan dasar dari realitas sosial yang dihadapi
  • menganalisa konteks persoalan secara struktural
  • membangun komparasi dengan realitas/wacana pembanding
  • membangun pengetahuan dan teori baru atas dasar kenyataan sosial yang dihadapi
  • membangun kerangka aksi
  • Pemahaman atas struktur masyarakat
  • Pemahaman sejarah masyarakat dan logika historis
  • Pemahaman atas isu-isu aktual/kontemporer
  1. 3.       Wawasan dasar kegerejaan dan kemudikaan
  • Pemahaman atas ajaran iman
  • Pemahaman atas sejarah iman
  • Pemahaman atas tanggung jawab, sejarah, dan identitas kemudikaan
  1. 4.       dasar-dasar pengorganisasian sosial (community development /community organizing)

Nilai dan kapasitas dasar seorang Mudika

Untuk itu ada nilai dan kapasitas dasar yang harus dihidupi oleh seorang Mudika :
  1. Sensus Catholicus, roh dan wawasan hidup Kristiani
  2. Spirit kemanusiaan, keberpihakan pada kaum lemah dan tertindas
  3. Semangat Kemudaan, spontanitas, kegembiraan, persa-habatan, keberanian, ketahanan.
  4. Sensus Kulturalis, kesadaran mendalam akan kebuda-yaan dan peradaban kemanusiaan, serta akan realitas sosial sehari-hari masyarakatnya
  5. Kesadaran Kritis, peka dan cerdas membaca tantangan sosial riil dalam hidup kesehariannya
  6. Man of Action, berani bersikap, terlibat, dan bertin-dak kongkrit
  7. Manusia dan Komunitas Proses, aksi-refleksi, pembela-jaran individual dan kolektif, spiral pastoral

Komunitas Mudika

Komunitas Mudika adalah rumah pembelajaran hidup bersama secara teritorial untuk memampukan kita mengemban tugas kebudayaan sebagai Orang Muda, Katolik, dan Indonesia.
Komunitas Mudika adalah cara kita berkumpul, cara kita menyatukan diri, cara kita memadukan sumber-sumber daya di tengah kita, cara kita berjuang, cara kita bertanggung jawab atas panggilan kemanusiaan, bagi siapa saja yang lemah miskin dan tersingkir, panggilan menggereja dalam iman, serta menjawab tantangan kebangsaan sebagai pemuda Indonesia.

Tujuan Komunitas

Hidup komunitas diarahkan pada :
  1. Pembelajaran Diri dan Komunitas : Mudika adalah ruang tumbuh bagi diri dan komunitas lokalnya
  2. Pembelajaran Iman dan Gereja : eksistensi spiritual dan praksis iman
  3. Transformasi Sosial menuju Masyarakat Adil dan Manusiawi : ekstensi kemanusiaan dan kebangsaan.

Ciri Khas dan Kekuatan Komunitas Mudika

  1. Spirit kemudaan (spirit of youth), gembira, berani, nakal, dan spontan
  2. Katolisitas dan tradisi menggereja
  3. Kebangsaan-keindonesiaan
  4. Komunitas proses-komunitas transformatif
  5. Keterlibatan, persahabatan, dan persaudaraan
  6. Teritorial dan lokal
  7. Perbedaan dan kesetaraan sebagai kekuatan
  8. demokratik-partisipatif ke dalam & ke luar dirinya
  9. berorientasi tindakan kongkrit, dan pergulatan hidup yang nyata

Nilai dasar pengorganisasian

Nilai dasar pengorganisasian Komunitas Mudika adalah :
  1. 1.       Demokratik-Partisipatif
  • Saling kontrol, saling mengapresiasi, saling menumbuhkan
  • Keterlibatan : dari, oleh, dan untuk semua
  1. 2.       Emansipatoris-transformatif
  • Merubah dan memberdayakan diri baik individual maupun kolektif dalam komunitas
  • Merubah masyarakat dan dunia sekitar
  1. 3.       See – judge - act : Merintis dan mendorong perubahan masyarakat berpijak pada Spiral Pastoral :
  • Berpijak dan bersatu dengan kenyataan
  • Merenungkan/merefleksikan kenyataan
  • Merencanakan dan mempersiapkan perubahan
  • Bertindak dan merubah kenyataan
  • Mengevaluasi dan belajar dari kenyataan

Prinsip Pengorganisasian Bersama

Kalau Mudika begitu kaya bentuk dan wujudnya di tiap-tiap basis parokial bagaimana ia bisa disatukan ? Kita butuh prinsip pengaturan bersama, yakni cara komunitas kita bergaul dan hidup dalam masyarakat komunitas-komunitas :

  1. Setiap komunitas adalah lingkaran pemberdayaan : Setiap komunitas wajib membangun dirinya menjadi komunitas yang sekalipun kecil, tetapi lincah, hidup, kritis, bertindak kongkrit, dan visioner. Setiap komunitas harus terus berjuang untuk bertumbuh dan bergerak maju mewujudkan visi dan misi bersama, pertumbuhan iman, karakter, dan wawasan anggotanya, pertumbuhan gereja lokalnya, serta transformasi dunia sekitarnya.
  2. Otonomi : otonomi tiap basis komunitas sangat dihargai, namun masing-masing basis harus memegang teguh prinsip-prinsip pengorganisasian bersama  ini. 
  3. Jejaring, communion of communities : Setiap komunitas harus berjejaring dengan komunitas lain, terlebih komunitas-komunitas yang berdekatan secara geografis dan administratif kegerejaan. Bukan organisasi hirarkhis-teritorial, namun jejaring komunitas-komunitas, yang mengelompokkan diri berdasarkan kedekatan teritorial gerejawi (blok-lingkungan-wilayah/stasi-paroki-rayon-kevikepan-keuskupan).
  4. Antar komunitas harus saling bekerja sama dan berkomunikasi secara rutin, demokratis, fair, dan terarah untuk mengkomunikasikan perkembangan, tantangan, dan hal-hal baru yang terjadi di masing-masing basis pengorganisasian Mudika.
  5. Hubungan simpul-simpul komunitas Mudika adalah hubungan subsidiaritas-solidaritas. Subsidiaritas : yang lebih besar menopang yang lebih kecil dengan mengisi hal-hal yang tidak mungkin digarap di tataran simpul yang lebih kecil (pelatihan penggerak Mudika Lingkungan oleh Mudika Paroki, pembentukan simpul-simpul Mudika se-paroki,  dst).Solidaritas : mereka yang setara harus saling mendukung dan solider satu sama lain (antarlingkungan, antarstasi/wilayah, dan antarparoki)Maka hubungan kepengurusan Mudika antara Mudika Paroki yang bertanggung jawab antas kaum muda Katolik separoki dengan Mudika Wilayah/Stasi/Lingkungan tentu saja lebih bercorak fasilitasi untuk berjejaring, untuk peningkatan kapasitas, dan pelatihan pengkaderan, maupun bentuk support yang lain.
  6. Serta kesepakatan-kesepakatan lain yang dibangun sebagai kearifan hidup bersama setempat secara adil dan demokratis dan dipelihara di masing-masing gereja setempat.

Yogya, 2008

 https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/232783340092067/

OMK dan Kaderisasinya

Posted by omk santo michael On 11.29 No comments
Orang Muda Katolik, satu kata yang penuh dengan makna, dinamika dan perjuangan. Sungguh menyenangkan dapat terus-menerus bergumul dengan orang muda, yang tak pernah diam pada satu sisi saja, selalu mencari perubahan, mencari sesuatu yang baru, mencari jati diri, menemukan Yesus dalam pergaulan yang semakin global. Hal ini yang membuat saya tak hanya berhenti pada tataran dialog namun juga turut terjuan dalam setiap sepak terjang orang muda, dimanapun dan kapanpun saya memiliki kesempatan.

Kaderisasi yang diadakan di Paroki Santo Barnabas ini telah menjadi bukti betapa sulitnya menjala domba-domba yang hilang di era modernisasi dan globalisasi yang kian menghantui kehidupan orang muda yang identik dengan semangat muda, ambisi serta emosinal yang tinggi. Menjadi orang muda seharusnya menjadi sebuah kebanggaan bagi setiap orang karena pada saat itulah ia sebagai manusia dipertanyakan jati dirinya, digembleng dalam kehidupan duniawi untuk menjadi dewasa kelak pada umurnya.

Proses kaderisasi yang dirangkai dalam waktu singkat ini seakan mengajak saya melihat kembali bagaimana saya sebagai orang muda dapat menjadi berarti bagi orang muda yang lain. Saya banyak belajar dalam keseluruhan proses ini, setiap pernyataan dan tindakan menjadi sebuah renungan untuk melihat sejauh apa saya memaknai iman saya sebagai orang muda. Seiring proses ini berjalan, saya menemukan bahwa mungkin saya salah dalam memahami orang muda, memahami orang muda itu sulit, tak semudah membalik tangan. Semua logika dan idelisme yang selama ini saya geluti terasa didobrak oleh pola pikir sederhana yang dimiliki orang muda lain.

Dari sisi lain, orang muda kerap kali dipandang sebelah mata bahkan mungkin dengan mata tertutup saja dirasa cukup. Munculnya keraguan dari orang muda terdahulu kian mengucilkan makna orang muda sebagai penentu dan pemilik masa depan. Hal ini pula yang kemudian mengerucutkan pola pandang orang muda kini untuk terus berjuang bahkan dengan semangat tinggi ingin menerbos tembok-tembok perkasa yang kerap menghalangi jalan orang muda untuk maju menjadi yang terdepan. Sulit memang, tapi inilah kenyataannya, dimana orang muda selalu saja diharapkan untuk menjadi penerus saja, untuk mengikuti apa yang sudah ada, mengikuti kata-kata para seniornya, dan menjalankannya sesuai dengan yang diperintahkan. Tidak perlu kreatifitas, tidak perlu memandirikan diri, dan tidak perlu berkutat dengan logika dan idelisme. Yang ada hanya ya dan tidak.

Melihat itu semua, saya merasa iba pada orang muda terdahulu yang tidak mau bercermin terlebih dahulu sebelum memberikan cermin mereka pada orang muda masa kini yang jelas pasti akan berbeda. Mungkin kini saatnya bagi orang muda untuk melangkah lebih jauh dari para pendahulu sehingga mereka tidak lagi akan mengerti apa yang orang muda kerjakan, tetapi justu mereka akan melihat dan mengikuti orang muda yang kini tengah terbakar oleh semangat pelayanan, kasih dan persaudaraan. Saya sendiri ingin belajar dari mereka yang terdahulu, namun melihat sikap ini, hati saya menjadi sedih, dan penuh luka. Saya tidak ingin seperti mereka yang kehilangan itegritasnya, saya ingin orang muda ini maju dan menjadi yang terdepan. Saya ingin mereka melakukan apa yang mereka suka, apa yang mereka pikir itu baik, dan apa yang mereka pikir itu benar, sampai pada saatnya nanti saya yakin mereka akan belajar dari apa yang telah mereka lewati, hingga menemukan makna tersediri sebagai Orang Muda Katolik yang di cita-citakan oleh Allah.

Belajar dari proses pendampingan ini, saya melihat bahwa orang muda lebih menghargai pengalman mereka sendiri ketimbang pengalaman orang lain, mendampingi mereka itu perlu, tapi perlu juga membatasi pendampingan agar tidak memaksakan logika dan idelisme pendamping dan menghilangkan pelajaran yang akan mereka peroleh dari kehidupan muda mereka.

-=Malik=-

https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/240143262689408/

MUDA MUDI

Posted by omk santo michael On 11.24 No comments
Orang muda. Anak muda. Orang dan anak. Istilah yang terasa bedanya. Klasifikasi berdasarkan usia. Terlintas kalimat “Orang-orang tua yang telah banyak berkelana dalam kehidupan seringkali belum tahu apa itu kehidupan. Kemudian kita, anak muda mengikuti jejak mereka dengan berbagai cara. Mulai dari meniru sampai dengan menentang melawan. Hasilnya, jejak mereka pun kita ikuti.” Klasifikasi berdasarkan usia ini rasanya seperti pengulangan yang memiliki tahapan kegiatan.

Dari kisah hidup Soe Hok Gie, yang pernah penulis lihat dari 2 sumber. Film dan buku. Ada tersurat bahwa saat itu, mahasiswa kerjanya hanya kuliah kemudian pulang. Bergaul dengan keasyikannya sendiri berdasarkan kepentingan sendiri. Kemudian menimbun ilmu sendiri dan digunakan untuk kepentingan sendiri. Demi pekerjaan yang menjanjikan kelimpahan material, kepastian alur kehidupan, dan kemudahan mendapatkan keinginan. Sepertinya, sama dengan mahasiswa saat ini. Karyawan muda saat ini. Bahkan mungkin orang-orang tua saat ini.

Ketakutan akan ketidak pastian masa depan membuat manusia jatuh kepada sisi buruk oportunisme dan utilitarianisme. Sehingga, kata-kata oportunis dan utilitarianis seakan najis, padahal ada sisi baik di dalamnya. Para pemaki itu pun sebenarnya melakukan dua hal ini. Oportunis dalam menajiskan oportunisme membuat mereka mendapatkan kesempatan “terpandang” oleh sekitar, dan dengan pengaruh ini mencapai kemudahan. Utilitarianis dalam menajiskan utilitarianisme membuat mereka mendapatkan kegunaan untuk bersosialisasi dengan para penentang, membuat jejaring berdasarkan kegunaan masing-masing dan mencari kesempatan untuk mewujudkan keinginan. Sama saja.

Eksistensialisme orang-orang muda. Merasa hebat dan menentang para orang tua. Tetap saja tujuannya adalah untuk menunjukkan kekuatan. Bukankah orang-orang tua pun memberi arahan untuk menunjukkan kekuatan. Teguh pendirian orang muda dan keras tak mau menerima masukan, dengan tujuan mencapai keinginan dan membuktikan diri mampu menaklukan kehidupan. Seperti orang tua yang membuat aturan yang harus dijalani untuk menaklukan kehidupan dan mengatasinya.

Orang-orang muda melihat para orang tua, yang melahirkan kekaguman bagi dirinya. Kemudian mengikuti jejaknya dan seringkali terjebak untuk menjadi sang idola dengan cara cepat. Aku harus menjadi dia, katanya. Seringkali pula terjebak dalam alur dan pola kehidupan orang lain yang dijalaninya. Alur dan pola kehidupan pribadinya terbuang. Semua demi satu hal, menjadi sosok yang diidolakan. Dengan, sayangnya seringkali membuang sosok alamiah dirinya.

Banyak pengalaman yang hadir dari usia. Banyak kisah-kisah hidup yang dapat menjadi rujukan dan perbandingan. Hal-hal inilah yang menjadi pisau bermata dua dalam kehidupan. Satu sisi menjadi sarana mengisi kehidupan dengan kebijaksanaan, dan di sisi lain mengosongkan kehidupan dengan membuat orang mengikuti alur dan pola tertentu untuk mencapai suatu kondisi dan bentuk tertentu. Setelah bentuk dan kondisi ini tercapai, makna mulai dipertanyakan. Sepertinya sepanjang hidup dari muda hingga tua, makna selalu menjadi hal yang terlupakan namun selalu melekat. Melekat dan terlupakan.

Orang muda, malas belajar dari pengalaman untuk melakukan aktualisasi dan kontekstualisasi. Mengikuti pola dan alur tercepat karena ingin cepat-cepat tua. Dalam lingkup definisi tua adalah mapan, memiliki posisi dalam kehidupan, mendapatkan yang diinginkan. Degradasi definisi ini pun akibat dari dua sisi tajam pengalaman.

Orang tua, merasa paling berpengalaman dan tidak mau melihat konteks. Melakukan penyama-rataan karena secara fakta memang pernah muda. Hanya tidak mau memandang muda pada tahun berapa, tanggal berapa dan dalam situasi dunia seperti apa. Sama saja. Orang tua dan orang muda, sama-sama dikendalikan hasrat untuk berkuasa.

Pengulangan-pengulangan pengalaman dan sejarah bukan menjadi hal yang aneh. Suatu kehidupan dengan pola yang sama, hanya dengan bentuk yang berbeda. Dengan jejak yang sama hanya dengan langkah yang berbeda. Dengan pesan yang sama, hanya saja yang satu dengan surat kertas dan satu lainnya dengan Blackberry messenger.

Orang-orang tua yang telah banyak berkelana dalam kehidupan seringkali belum tahu apa itu kehidupan. Kemudian kita, orang muda mengikuti jejak mereka dengan berbagai cara. Mulai dari meniru sampai dengan menentang melawan. Hasilnya, jejak mereka pun kita ikuti.

Dalam tahap awal, kehidupan serasa melepaskan diri seseorang dari kesadarannya. Yang ingin dikejar adalah kekuasaan dan penaklukan atas kehidupan. Tahap selanjutnya, pola-pola dan alur-alur yang hadir dari pengalaman, yang tadinya berniat untuk membantu para manusia mencapai jalan tercepat dalam  mencapai kesadaran mengatasi kehidupan, malah menjadi sistem penyamaan alur kehidupan. Setiap kesamaan akan menghasilkan persaingan. Seperti itulah kehidupan orang muda dan orang tua. Selalu berulang.


10 November 2011

https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/271752842861783/ 
PERATURAN PANTANG DAN PUASA
KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA
UNTUK TAHUN 2013

TEMA: “Makin Beriman, Makin Bersaudara, Makin berbelarasa”

Masa Prapaskah/ Waktu Puasa Tahun 2013dimulai pada hari Rabu Abu, 13 Februari sampai dengan hari Sabtu, 30 Maret 2013.
“Semua orang beriman kristiani menurut cara masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi’ (KHK k.1249). Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya “secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewaj ibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang”(ibi d). Semua orangberiman diajak untuk merefleksikan pengalaman hidup dan mengadakan pembaharuan untuk semakin setia sebagai murid Yesus.
Dalam rangka pertobatan dan pembaharuan hidup beriman, Gereja mengajak kita semua untuk mewujudkannya, terutama dalam masa prapaskah ini dengan memperhatikan beberapa ketentuan berikut ini :
Dalam Masa Prapaskahkita diwajibkan:
- Berpantang dan berpuasa pada hari Rabu, 13 Februaridan hari Jumat Suci, 29 Maret 2013. Pada hari Jumat lain-lainnya dalam Masa Prapaskahhanya berpantang saja.
- Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k.97 §1).
- Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari.
- Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).
- Pantang yang dimaksud di sini: tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih dan menentukan sendiri, misalnya:pantan g daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok.
- Dalam rangka mewujudkan pertobatan ekologis, kita diajak untuk ambil bagian dalam gerakan pantang plastik dan styrofoam.
Untuk memaknai masa prapaskah ini marilah kita mengusahakan orientasi dan perilaku yang membuat kita semua makin beriman, makin bersaudara dan makin berbelarasa. Kita usahakan agar suasana tobat dan syukur mewarnai masa penuh rahmat ini. Sangat dianjurkan agar berbagai kegiatan yang bersuasana pesta, misalnya: perkawinan, tidak dilakukan dalam kesempatan ini. Namun jika ada alasan yang berat untuk melakukannya, hendaklah tetap dilaksanakan secara sederhana.
Semoga dengan menjalani masa prapaskah ini, iman kita semakin diteguhkan. Kita percaya dengan-Nya persaudaraan kita akan semakin diakrabkan dan pada gilirannya kita semakin berbelarasa terhadap saudara-saudara kita yang menderita.
Jakarta, 9 Februari 2013

Mgr. Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta

natalan bersama di stasi penadaran,paroki gubug

Posted by omk santo michael On 00.17 No comments








Selasa, 12 Februari 2013

kegiatan awal awal di bentuk

Posted by omk santo michael On 23.25 No comments



































Rapat Rayon BUSIDIANA

Posted by omk santo michael On 19.05 No comments
Minggu 11 februari,andung ,probo,wawan mengikuti rapat rayon Busidiana di Gubug. membahas agenda mendatang yakni Kemroh. Kami mewakili dari OMK Paroki Purwodadi. ^ paroki yang tergabung di rayon BUSIDIANA hadir semua kecuali juwana. Dari gubug ada sekitar 7 orang,dari pati 1 orang,dari purwodadi 3 orang,dari kudus 2 orang dan dari jepara 1 orang. Dari hasil rapat itu,kemroh mendapat usulan di adakan di Penadaran paroki Gubug sekitar bulan Juni-Juli. Namun masih ada kegiatan cek tempat yang belum tau kapan akan dilaksanakan.
Rapat Rayon selanjutnya akan bertempat di paroki jepara,tanggal dan waktu menyusul. hasil rapat di gubug akan di bawa lagi ke rapat omk kevikepan yang akan berlangsung tanggal 17 di paroki sambbiroto semarang.

Kamis, 07 Februari 2013

Paroki Santo Petrus, Gubug

Posted by omk santo michael On 21.29 No comments
SEJARAH PERKEMBANGAN PAROKI
Gereja Santo Petrus Gubug saat ini melayani 17 lingkungan yang terbagi ke dalam 5 wilayah. Secara historis perkembangan umat dari wilayah-wilayah awalnya terpisah-pisah, sehingga dapat diuraikan secara sendiri-sendiri, yaitu Sejarah perkembangan Gereja Santo Petrus Gubug, Sejarah perkembangan Gereja Kristus Raja Kedungjati, Sejarah Perkembangan wilayah Tanggungharjo, dan Sejarah Perkembangan Gereja Santo Paulus Penadaran.
A. Sejarah Perkembangan Gereja Santo Petrus Gubug
Benih-benih awal (embrio) Gereja Katolik Santo Petrus Gubug berangkat dari keprihatinan beberapa umat (± 9 orang) di antaranya Bpk. Petrus Soebirin, Bpk. Siswo Darmojo, dan Bpk Fransiscus Xaverius Marto Siswoyo, dengan tidak adanya tempat ibadat (Kapel/Gereja). Perkembangan umat katolik didukung oleh berdirinya SMP Keluarga Gubug yang didirikan pada tahun 1961, inisiatif dari warga katolik dan diprakarsai oleh Bpk Petrus Soebirin, Bpk Go Siamgie, dll. Ruangan lantai atas SMP Keluarga digunakan sebagai Kapel dengan pelindung “Santa Maria” untuk melaksanakan Misa dan Ibadat Sabda. Ibadat Sabda dilaksanakan setiap hari minggu, sedangkan Misa dilaksanakan satu kali dalam satu bulan. Gereja Santo Petrus pada saat itu masih berupa stasi dari paroki Purwodadi.
Dari SMP Keluarga tersebut beberapa siswa dibabtis, di antaranya Bpk. Agustinus Wasito (1965) dan Bpk Fransiscus Xaverius Pujiono (1968) yang sekarang menjadi anggota Dewan Paroki di Gereja ini.
Pada tanggal 4 Juni 1977, stasi Gubug mendapat kunjungan Uskup dalam rangka penerimaan Sakramen Krisma yang pertama. Sakramen Krisma diberikan kepada sejumlah umat dari Gubug dan sekitarnya (Tanggungharjo, Kedungjati, dan Penadaran). Karena jumlah umatnya banyak, ruangan SMP Keluarga tidak mampu menampung umat seluruhnya sehingga pelaksanaan Misa dan penerimaan Sakramen Krisma ditempatkan di Pendopo Kawedanan Gubug, seijin Bapak Wedono.
Selesai penerimaan Sakramen Krisma dilanjutkan wawanhati Uskup bersama umat, Romo Heri Vermeulen,MSF dan Romo Paulus Yasa Widharta,MSF. Bapak Uskup Yustinus Kardinal Darmoyuwono berpesan: ”kene kok ono umat sak mene akehe opo durung dilaporke?, carilah tanah, syukur sudah ada rumahnya, akan dibeli oleh keuskupan”.
Pesan Bapak Uskup ditindaklanjuti dan selang beberapa hari sudah mendapat tanah beserta rumah joglo di dekat pasar Gubug, tepatnya sebelah Timur Lapangan PUK Gubug. Tempat tersebut dibeli oleh keuskupan seharga Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) dan ditempati sebagai gereja.
Karena tempat tersebut terletak dekat pasar, maka sangat terdengar suara bising terutama dari penjual jamu yang menggunakan loud speaker yang dirasakan sangat mengganggu saat Ibadat serta kurang luas. Hal ini dilaporkan ke keuskupan dan diputuskan agar tempat tersebut dijual dan mencari tempat lain. Tanah tersebut dijual lagi dengan harga sama yaitu Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah). Dalam waktu singkat (5 Mei 1979) didapatkan tanah kembali (di jalan Ahmad Yani yang sekarang kita ditempati), seluas 0,5 ha seharga Rp. 3.500.000,- dan dibayar oleh keuskupan. Uang hasil penjualan tanah di dekat pasar Gubug dan dari umat dikumpulkan menjadi Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).
Dengan modal 5 juta tersebut umat tidak berani memulai membangun Gereja. Pada bulan Juni 1982 Romo Paroki Purwodadi (Romo Stefanus Broto Santoso,MSF) dan tokoh umat (Bpk. Agustinus Sugiyarto) dipanggil ke keuskupan intinya disuruh memulai pembangunan. Romo Julianus Sunarka,SJ (waktu itu sekretaris keuskupan merangkap Ekonom) menawarkan “uang bunga” meninggalnya Bapak Petrus Wanandi (Bapak dari Romo Markus Samsul Wanandi,SJ) sebesar Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) untuk pembangunan Gereja.
Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 1982 oleh:
1.  Romo Stefanus Broto Santoso, MSF. (Romo Paroki Purwodadi)
2.  Agustinus Sugiyarto (Ketua Stasi)
3.  Petrus Soebirin (Ketua Panitia Pembangunan)
4.  Kyai Kalim (Tokoh Mushola depan Gereja)
5.  Kyai Soeberi Sofyan (Tokoh Mushola dukoh)
Peletakan batu pertama ini disaksikan oleh umat Katolik yang mengikuti Misa Permberkatan.
Sumbangan dana utama lainnya mengalir dari:
1.  Keluarga Bapak Petrus Wanandi (Jakarta) : Rp. 27.500.000,-
2.  Presiden (Banpres) : Rp. 7.500.000,-
3.  Karya Kepausan Internasional (Via KWI) : Rp. 6.200.000,-
4.  Umat dan donator-donatur lain
Pembangunan tidak berjalan mulus. Setelah beberapa hari pekerjaan dimulai, pembangunan ditentang oleh sebagian masyarakat (kelompok non kristiani) yang berusaha untuk menghalangi dengan mengirimkan surat kaleng berisi ancaman-ancaman kepada panitia pembangunan. Karena dikhawatirkan akan terjadi keributan atau perusakan terhadap pembangunan dan pekerjanya, maka Kasdim Purwodadi (Mayor Abdul Manaf) mengirimkan surat pemberhentian pekerjaan.
Panitia pembangunan tidak tinggal diam, namun melaporkan hal ini kepada Kasdam Jateng (Bapak Bridjen Leo Ngali). Secara lisan Bapak Brijen Leo Ngali memerintahkan ke Kasdim agar surat pemberhentian pembangunan dicabut kembali, dan akhirnya pembangunan dapat dilanjutkan.
Pembangunan Gereja selesai dan diberkati oleh Bapak Uskup Mgr. Alexander Soetandio Djajasiswaja, pada tanggal 30 November 1982.
Pada tahun 1983, Dewan Satasi Gubug merencanakan mendirikan sebuah SMA di bawah bimbingan Romo Julianus Sunarka, SJ. Rencana tersebut terealisir pada Tahun Pelajaran 1984 dengan menempati areal tanah PGPM Gereja Katolik Santa Maria Gubug dengan MOU berbunyi: ”Sekolah menempati tanah PGPM selama sekolah tersebut masih berdiri (buka), kalau sudah tutup maka gedung-gedungnya menjadi milik Gereja”.
Pada tahun 1985, Stasi Gubug ditetapkan oleh Keuskupan Agung Semarang menjadi Paroki Administratif dan menginduk ke Paroki Admodirono Semarang, dengan susunan pengurus sebagai berikut.
1.  Ketua Umum : Romo Ambrosius Darmasuwarna,MSF.
2.  Koordinator Umum : Agustinus Sugiyarto
3.  Koordinator I : Fransiscus Xaverius Sumardi
4.  Koordinator II : Robertus Munadi
5.  Sekretaris : Yohanes Eusatchius Suyono
6.  Bendahara : Johanes Joko Suwito
7.  Seksi-seksi
      a. Seksi Liturgi : Fransiscus Xaverius Sumardi
      b. Seksi Pewartaan : Petrus Soebirin
      c. Seksi Sosial /PSE : Agustinus Widodo
Pada tanggal 27 Juni 1985, Mgr. Yulius Kardinal Darmoatmojo berkenan mengadakan kunjungan pastoral di Gubug dalam rangka penerimaan Sakramen Krisma (102 orang). Selesai misa diadakan wawan hati dengan wakil umat dan Muspika Gubug. Dalam wawan hati tersebut Muspika mengusulkan untuk mendirikan rumah sakit Katolik. Usulan tersebut direstui Bapak Uskup, dan ditindak lanjuti. Dewan berkunjung ke Susteran Strada Pejaten Jakarta. Dalam pembicaraan awal suster Propinsial menyetujui, namun akhirnya tidak jadi kerena uangnya digunakan untuk keperluan lain. Hal ini dilaporkan ke Romo Julianus Sunarka,SJ. Romo Narko menghubungi Suster Yohanita di Sukabumi melalui telepon. Suster Yohanita menyetujui bahwa Suster-suster SFS dari Sukabumi akan berkarya di Gubug. Namun sampai saat ini Suster-suster masih berkarya di bidang pendidikan dan pelayanan umat, sedangkan bidang kesehatan (rumah sakit) belum terwujudkan.
Romo-Romo yang pernah berkarya di Gereja Santo Petrus Gubug
1. Romo Stefanus Broto Santoso, MSF (1982), Beliau pendiri Gereja Santo Petrus Gubug
2. Romo Nicolaus Antosaputro,MSF., Romo Robertus Bellarminus Pranatasurya,MSF., Romo Yustinus Harjosusanto,MSF. Pernah   melayani di Gereja Santo Petrus Gubug dan sering tinggal di Pastoran Gubug.
3. Romo Fransiskus Assisi Suryosunaryo, MSF. (1984), laju dari Purwodadi
4. Romo Ambrosius Darmasuwarna,MSF (1984), membuat Goa Maria di depan Pastoran. Beliau sangat dekat dengan Mudika dan melaksanakan Misa di Gubug setiap Minggu ke-5 dengan Bahasa Jawa.
5. Romo Aloysius Endrakaryana, MSF (1986), banyak kegiatan yang dilakukan:
a. Selain sebagai Pastor juga mengajar di SMA Keluarga Gubug dan SMA Budiluhur Tanggungharjo
b. Mendirikan asrama untuk siswa SMA Keluarga, namun hanya berjalan sebentar karena tidak ada yang mengelola (lokasi dibelakang susteran, bangunan lalu dijual)
c. Membentuk Sie Pagruktilaya dengan pengurus:
- Ketua : Bpk Yohanes Biyanto (alm)
- Sekretaris : Bpk. Robertus Munadi
- Bendahara : Ibu Yohana Fransiska Icuk Sudiyati
d. Membentuk Sie Kesehatan dengan pengurus:
- Ketua : Bpk Fransiskus Xaverius Slamet Riyanto
- Sekretaris : Bpk. Robertus Munadi
- Bendahara : Ibu Yohana Fransiska Icuk Sudiyati
e. Merintis tempat peziarahan di Penadaran (Sendangjati) dengan membuat Jalan Salib dari Bantengan menuju pusat peziarahan di atas bukit.
f. Aktif mengunjungi umat
g. Mendatangi undangan pertemuan yang diselenggarakan Muspika Kec. Gubug
6. Romo Fransiskus Assisi Tedjasuksmana, MSF (1993), kegiatan yang dilaksanakan:
a. Melaksanakan HUT HPS di Gereja Santo Petrus Gubug dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk (sponsor Kantor Pusat HPS Ganjuran Yogyakarta)
b. Pasar murah untuk umum bertempat Penadaran dan halaman Gereja Santo Petrus Gubug. Dengan melibatkan WK Gubug, WK Purwodadi, dan WK Jawa Tengah
c. Mengadakan seminar HUT HPS yang diikuti dari Semarang, Kudus, Salatiga, Kendal, Wonogiri, dll.
d. Mengadakan pelatihan penanaman semangka, cabe merah, dan kunci.Pembuatan pupuk kandang di Desa Mangunsari Tegowanu.
7. Romo Bernardus Haryasmara,MSF (1998), 1 Juli 1998 mengaktifkan Sekretariat dengan petugas Bpk. Robertus Munadi dan Bpk Fransiskus Xaverius Slamet Riyanto, sebagai pemegang kas kecil dan membuat laporan keuangan ke KAS.
8. Romo Agustinus Suwartono Susilodiharjo,MSF. Beliau mengaktifkan kegiatan mudika. Pada suatu malam pernah kedatangan tamu tak diundang, tidak diketahui asalnya tetapi sudah berada di ruang makan Pastoran dan mengambil jaket Romo Sus. Sebelum pergi Romo Susilo meminta jaketnya kembali.
9. Romo Antonius Heru Susanto,MSF. Beliau aktif mengunjungi umat, orang sakit baik di rumah atau yang sedang opname.
10. Romo Dicdatus Carv. Prihambodo,MSF. Bersama Romo Ignatius Wignyasumarta,MSF., Romo Albertus Agus Ariestiyanto,MSF., dan Dewan Paroki membangun Pastoran, Aula, Kantor Sekretariat, Kamar mandi, Ruang Kesehatan, gudang, dan tempat parkir. Pelaksana Bpk Santoso Hidayat (pengusaha sirop Kartika), dengan dana dari Bpk. Arif Hartono (Jakarta).
11. Romo Yosef Tjoek Prasetyo, MSF. Bersama Dewan Paroki membangun menara lonceng, pagar depan. Dana dari umat (tidak mau disebutkan namanya). Membangun pagar samping dan belakang dengan dana dari PLN Semarang. Menghapus Misa Sabtu Sore karena umatnya sedikit.
12. Romo Petrus Lasadi,MSF. Romo Alexander Erwin,MSF, meningkatkan kegiatan mudika
13. Romo Aloysius Rinata Hadiwardaya,MSF. Mulai merintis PPDP, melaksanakan pemilihan Dewan Harian secara langsung untuk masa bhakti 2007-2010, dengan susunan terpilih sebagai berikut:
- Ketua : Albertus Agus Ariestiyanto,MSF
- Wakil Ketua I : Aloysius Rinata Hadiwardaya, MSF
- Wakil Ketua II : Agustinus Sugiyarto
- Sekretaris I : Yulius Subandiyono
- Sekretaris II : Agnes Sayekti Handayani
- Bendahara I : Maria Magdalena Harni
- Bendahara II : Robertus Munadi
- Koor Bid. Liturgi : Sr Maria Verena, SFS
- Koor Bid. Pewartaan : Cosmas Dariyo Susilo
- Koor Bid. Pelayanan : Johaes Rasul Kastipan
- Koor Bid. Persaudaraan : Fransiskus Xaverius Gintono Bejo
- Koor Bid. Wilayah : Agustinus Wasito
Pada tahun 2007 s.d 2008, Dewan Harian belum bisa melaksanakan tugas secara optimal, karena setelah pelantikan Pada bulan Juni 2007, sekretaris I dan sekretaris II melanjutkan program studi pasca sarjana. Pada akhir tahun 2008, Romo Aloysius Rinata Hadiwardaya, MSF digantikan oleh Romo Petrus Bimo Handoko, MSF.
14. Romo Petrus Bimo Handoko, MSF. (2009).
a. Mengadakan pergantian petugas sekretariat dari Bpk. Robertus Munadi dengan Fransiskus de Sales Lukman Safii.
b. Mengadakan pemilihan pergantian Pengurus Dewan Harian periode 2010-3013, dengan susunan terpilih sebagai berikut:
- Ketua : Albertus Agus Ariestiyanto,MSF
- Wakil Ketua I : Petrus Bimo Handoko, MSF.
- Wakil Ketua II : Johanes Rasul Kastipan
- Sekretaris I : Yulius Subandiyono
- Sekretaris II : Agnes Sayekti Handayani
- Bendahara I : Romana Saptorini
- Bendahara II : Maria Magdalena Harni
- Koor Bid. Liturgi : Sr Maria Verena, SFS
- Koor Bid. Pewartaan : Fransiskus Xaverius Suparno
- Koor Bid. Pelayanan : Albertus Warjono
- Koor Bid. Persaudaraan : Stefanus Adhi Heriyadi
- Koor Wilayah : Agustinus Wasito
c. Membentuk Tim 8 yang terdiri dari: Petrus Bimo Handoko,MSF, Agustinus. Sugiyarto, Yulius Subandiyono, Sr. M. Verena, SFS., Robertus Munadi, Fransiskus Xaverius Suparno, Stefanus Zaenuri, dan Yulius Sri Sapto (alm) untuk menyusun draff PPDP.
d. Mempresentasikan/membahas draff PPDP bersama Dewan Harian, Koordinator Wilayah, Ketua Wilayah, dan Ketua-ketua lingkungan.
e. Menyusun Doa Persiapan menuju paroki mandiri
f. Bersama Yulius Subandiyono menyusun Analisis SWOT dan Visi Misi Gereja
g. Memulai menyusun Tim-tim Kerja dan membuat program kerja, meskipun belum dapat dilaksanakan sepenuhnya.
h. Melaksanakan HPS dan peresmian Sendangjati Penadaran oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Ignatius Suharyo. dilanjutkan penanaman 10.000 pohon dihadiri Bupati Grobogan.
i. Pada akhir tahun 2009, Romo Petrus Bimo Handoko,MSF digantikan oleh Romo Bernardus Haryasmara,MSF.
15. Romo Bernadus Haryasmara,MSF. (2010). Beliau berkonsentrasi menyiapkan Paroki mandiri dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Menindaklanjuti draff PPDP dan membahasnya bersama Romo Laurentius Suhar Dwi Budi Prasetya, Pr., Dewan Harian, Koordinator Wilayah, Ketua-ketua Wilayah, dan Ketua-ketua lingkungan.
b. Menyusun tim-tim kerja dan program kerja
c. Menyusun RAPB
d. Menyiapkan pendataan umat dengan format dari KAS.
Kepengurusan PGPM
PGPM Santa Maria masa bhakti 2002 s.d 2006
Ketua : Romo Ignatius Wignyosumarto,MSF
Sekretaris : Agustinus Sugiyarto
Bendahara : Robertus Munadi
Anggota : Fransiskus Xaverius. Pujiono
: Fransiskus Xaverius Gintono Bejo
PGPM Santa Maria masa bhakti 2006 s.d 2010
Ketua : Romo Albertus Agus Ariestiyanto,MSF
Sekretaris : Agustinus Sugiyarto
Bendahara : Robertus Munadi
Anggota : Fransiskus Xaverius Pujiono
                  : Fransiskus Xaverius Bejo
DATA UMAT PAROKI SANTO PETRUS GUBUG
Tahun
Jml Umat
Babtis
Komuni I
Krisma
Diterima dari Kristen
s.d 1998
1.314
16
24
-
3
1999
1.331
31
20
138
-
2000
1.379
57
5
-
-
2001
1.441
79
47
-
-
2002
2003
1.445
9
36
-
-
2004
1.506
65
-
109
1
2005
1.532
50
49
-
1
2006
1.458
23
-
64
-
2007
1.461
41
-
-
1
2008
1.525
67

-
2
2009
1.561
45
35
-
1
2010
1.574
18
11
126
2
Demikian sejarah perkembangan Gereja (umat) dan pembangunan gereja St. Petrus Gubug, sebagai catatan kecil yang diharapkan mampu mendorong bagi umat untuk berperan serta dalam kehidupan menggereja.
B. Sejarah Perkembangan Gereja Kristus Raja Kedungjati
Perjalanan sejarah Gereja Katolik Kristus Raja Kedungjati tidak bisa dilepaskan dari sesepuh/umat perdana/rasul awam, biarawan, biarawati serta imam yang lebih kurang 45 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1965 seorang warga katolik yang bernama Justinus Soetedjo dari Dinas Kesehatan Angkatan Darat Semarang pindah ke Desa kedungjati dengan keluarganya. Sejak tinggal di Kedungjati beliau berhasil mempertemukan beberapa keluarga Katolik, seperti keluarga: Bpk. CB. Kardjani, Bapak F. Soemitro, Bpk. Markus Saguh, Bpk. JC Santosa, Bpk. Agustinus Soepangat, Bpk. Julius Slamet Sastro Supadmo, dan lainnya. Keluarga-keluarga tersebut merupakan embrio terbentuknya Gereja Katolik di Desa Kedungjati. Kegiatan-kegiatan keagamaan/rohani yang dilakukan pada saat itu antara lain Doa bersama (sembahyangan), Ibadat Sabda, Misa Ekaristi Kudus.
Karena pada waktu itu belum ditentukan kewilayahan Kedungjati masuk Paroki mana, maka untuk dapat mengadakan Misa Ekaristi Kudus Bpk. Justinus Soetedjo meminta bantuan dari Pastor Salatiga dan Semarang. (Paroki Keluarga Kudus Admodirono), bahkan kadang-kadang minta pelayanan Misa Ekaristi Kudus dari Rochhani Katekis Kodam VIII Diponegoro, yaitu Kapten Wuryanto dan Romo Mayor Handojo.
Mengingat waktu itu belum memiliki tempat ibadah/gedung Gereja maka upacara Ibadat Sabda maupun Misa Ekaristi Kudus dilakukan dengan berpindah-pindah tempat di rumah umat, kemudian menyewa sebuah rumah milik Bpk. Kroyo Hardjoko dan selanjutnya pindah di rumah Bpk. Sardjo Harjotinojo, bahkan pada waktu itu pernah melakukan Ibadat Minggu di Taman Makam Bakti Pahlawan Kedungjati.
Semangat umat yang menggelora untuk mempunyai tempat ibadah sendiri, maka pada tahun 1967 atas usaha umat Kedungjati mendapatkan bantuan dari paroki Keluarga Kudus Admodirono dan dukungan dari Keuskupan Agung Semarang, yang akhirnya dapat membeli sebuah rumah sekolah tiga lokal milik perseorangan dan diubah menjadi bentuk Kapel. Harga rumah tersebut pada saat itu ± Rp. 125.000,- (seratus duapuluh lima ribu rupiah). Perubahan rumah sekolah menjadi Kapel itu dirancang oleh arsitek dari Paroki Admodirono dibawah pengawasan Romo De Koneng dengan kontruksi yang terbuat dari bahan kayu jati. Kapel didirikan di atas tanah milik Pengurus Gereja dan Papa Miskin (PGPM) Keuskupan Agung Semarang yang sebagian ditempati Sekolah Dasar Negeri 2 Kedungjati. Pada tanggal 1 Mei 1970 diresmikan dan diberkati oleh Vikaris Jendral Keuskupan Agung Semarang dan diberi nama Gereja Katolik Kristus Raja Kedungjati.
Sekitar tahun 1975 dilayani oleh Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Purwodadi sampai tahun 1983, selanjutnya pelayanan diserahkan kembali ke Paroki Keluarga Kudus Admodirono Semarang, dan kemudian diserahkan ke Paroki Santo Paulus Sendangguwo sampai Sekarang.
Dalam perjalanan waktu, umat semakin bertambah dengan bergabungnya warga gereja baru. Kapelpun mengalami penyempurnaan yang semula berlantai tanah kemudian iplester, luas bangunan juga bertambah yang semula 12 x 14 meter menjadi 17 x 15m.
Semangat dari para sesepuh Gereja menjadi modal yang kuat bagi para pengurus Gereja selanjutnya. Pada tahun 1997 saat Stasi Kedungjati di Ketuai oleh Bapak Gregorius R Soepartono, umat bertekad untuk merenovasi Kapel agar menjadi lebih indah dan nyaman, dengan rencana: peninggian lantai ± 30 cm, dinding tembok, dan lantai keramik. Setelah melalui rapat Dewan Pengurus Gereja, maka pada thaun 1998 dibentuk panitia Renovasi dan pembangunan Gedung Gereja yang diketuai oleh Bpk. Alexander Targono BS. Selanjutnya sesudah Hari Raya Paskah tepatnya tanggal 15 April 1998 pekerjaan tahap I dimulai, yaitu dengan membuat pondasi dan dinding tembok . Pada awal tahun 1999 Romo Bernardus Haryasmara,MSF mulai berkarya di wilayah Kedungjati di mana untuk mempercepat renovasi beliau mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya dan langsung turun tangan. Puji Tuhan pada akhir tahun 1999, gedung Gereja dapat diselesaikan.
Pada perayaan Tahun Yubileum Agung 2000, tepatnya tanggal 2 Agustus 2000 Mgr. Ignatius Suharyo. Uskup Keuskupan Agung Semarang berkenan memberkatinya.
Pada tahun 2002 Romo Dicdatus Carv. Prihambodo,MSF berkarya di wilayah Kedungjati mengusahakan pagar BRC sebanyak 55 lembar untuk pembangunan pagar keliling Gereja dan kekurangannya diusahakan oleh umat sendiri. Pembangunan pagar diketuai oleh Bpk. Kusdi Sukoco. Karena terbatasnya dana pekerjaan pembuatan pagar tersebut dilakukan secara bertahap dan memakan waktu sekitar 3 (tiga) tahun.
Pada tahun 2010 bertepatan dengan Tahun Syukur KAS, umat Katolik Wilayah Kedungjati merayakan Hari Ulang Tahun Gereja yang ke-40 (pancawindu). Puncak acaranya dirayakan 21 Nopember 2010 bertepatan dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam.
Ajakan Santo Paulus menjadi inspirasi peneguh “mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah dalam Yesus Kristus’ (1 Tes 5: 18).
C. Sejarah Perkembangan Umat di Wilayah Matius Tanggungharjo
Pada bulan Pebruari tahun 1970, Desa Tanggungharjo mendapat kunjungan Bapak dan Ibu Yustinus Sutejo yang waktu itu menjabat sebagai DANRAMIL Kedungjati. Kunjungan tersebut juga membawa misi ajaran Kristus (agama Katolik) dan bertemu beberapa tokoh yang mempunyai keyakinan sama, antara lain: Bpk. Matius Martahardjono (alm)/ carik Tanggungharjo, Fransiskus Xaverius Sumadi (alm) Kepala SD, Y. Sadjiman/guru SMP N Tanggungharjo). Salah satu hasil pertemuan adalah untuk mendata umat Katolik di Desa Tanggungharjo dan sekitarnya.
Kegiatan pendataan umat diawali satu minggu setelah terjadi pertemuan dengan tokoh tadi, pendataan sampai wilayah Desa Ringinpitu dan bertemu dengan Bpk. Rakidin (pensiunan Guru) yang waktu itu mempunyai pengaruh yang luar biasa karena banyak membawa perubahan pada masyarakat setempat, dan beliau berkenan membantu dalam pendataan tersebut hingga beliau sampai pindah keyakinan menjadi murid Kristus.
Ternyata umat Katolik di Desa Tanggungharjo dan sekitarnya lumayan banyak, namun untuk melakukan kegiatan-kegiatan gereja belum dapat dilaksanakan, dan masih merayakan di Paroki Gedangan Semarang. Data umat Katolik diserahkan kepada Paroki Gedangan oleh Bpk. Yustinus Sutejo, dan mulai saat itu menjadi warga Paroki Gedangan Semarang.
Pada bulan Maret 1970 diadakan kegiatan Misa Kudus di Tanggungharjo yang dihadiri oleh umat Katolik dari Tanggungharjo, Kedungjati, Gedangan, dan Telawah yang dipimpin oleh Romo Yudo. Dalam sambutannya beliau memberi nama pada pertemuan tersebut “TANTIDAWAH’, (artinya: Tanggungharjo, Kedungjati, Gedangan, dan Telawah).
Pada Bulan April 1970 diadakan perayakan pesta Paskah di rumah Bpk. Carik yang dihadiri Tanggungharjo, Kedungjati dan sekitarnya. Kegiatan gereja mulai dapat berjalan dan mendapat dukungan dari masyarakat sekitar dengan baik. Perkembangan umat Katolik semakin maju sehingga pesta Paskah dan Perayaan Natal dapat dilaksanakan secara Rutin.
Bulan Januari 1972, tokoh-tokoh agama di sekitar mayoritas guru, merintis sebuah sekolahan Katolik yang berguna untuk menyebarkan ajaran Kristus melalui jalur pendidikan sehingga berdirilah SMP Budiluhur, yang tenaga pengajarnya didatangkan dari wilayah Klaten, antara lain:
1) Bpk. Ignatius Sungkono (alm) Kepala SMP Budiluhur
2) Bpk. Bambang (sekarang bertugas di SMP N 1 Purworejo)
3) Bpk. Pantiyono (sekarang di SD N Klaten)
4) Bpk. Fransiskus Xaverius Sudino (sekarang Kepala SMP Budiluhur Tanggungharjo)
Dengan berdirinya SMP Budiluhur, sangat membantu sekali dalam perkembangan dan pengakuan masyarakat akan agama Katolik. Alhasil masyarakat mulai sadar untuk tidak fanatisme berlebihan. Sejak Tahun 1982 Ekaristi dilaksanakan setiap Minggu ke-2 dan ke-4, bertempat di rumah Bapak Carik.
Untuk meningkatkan pelayanan di Wilayah Tanggungharjo perlu dipikirkan pembangunan KAPEL, mengingat selama ini kegiatan Ekaristi dan Perayaan-perayaan lainnya dilaksanakan di Rumah Bapak Carik (Agung Sutadi, S.H)
D. Sejarah Perkembangan Gereja Santo Paulus Penadaran
Gereja awal mula adalah sekelompok orang yang percaya kepada Sang Kristus Yesus, Sabda tersebut terjadi juga di Desa Penadaran, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Pada Tahun 1966 yang semula sekelompok orang yang mengadakan perkumpulan / pertemuan di suatu lapangan sekolah yang sekarang adalah Sekolah Dasar Negeri 1 Penadaran Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.
Awal mula Gereja Santo Paulus adalah peristiwa datangnya seorang pemburu babi hutan dari Salatiga yang bernama Letnan Kolonel Soekoco beliau sering berburu babi hutan di Desa Penadaran, karena habitat babi hutan di sekitar hutan Desa Penadaran sangat banyak dan merupakan hama tanaman jagung, karena tidak ada persewaan penginapan maka Beliau tidur di rumah bapak kepala Desa. Yang bernama Bpk. Parjo.
Ketertarikan pertama seorang kepala desa dengan tamunya tersebut adalah , ketekunan berdoa oleh Bpk. Letnan Kolonel Soekoco, khususnya Doa sebelum dan sesudah makan dengan menggunakan tanda salib. Menjadi pertanyaan besar oleh Bpk Parjo Kepala Desa Penadaran Agama apa yang dianut oleh seorang tamunya tersebut. Berkembang dan rasa ingin tahulah yang menjadi awal kepercayaan. Maka timbulah kesanggupan untuk mulai belajar Agama Katolik dari seorang pemburu babi hutan tersebut.
Dari sebuah rumah penduduk yang cukup sederhana maka mulailah Bpk Letnan Kolonel Soekoco menyampaikan kabar Gembira sebagai Misi Kristus ditempat itu. Pada waktu itu Pastor yang ikut dalam misi Kristus adalah Romo A. Sandiwan Broto, Pr. dari Paroki Santo Paulus Miki Salatiga. Makin banyak yang mendengarkan Sabda Tuhan tersebut maka tidak muat lagi rumah penduduk yang sempit tersebut, maka dialihkan tempat yaitu di lapangan terbuka didepan Sekolah Dasar Negeri 1 Penadaran. Dengan berbagai keajaiban terjadi dan dirasakan oleh umat di Desa Penadaran Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan yang masih menggema yaitu kala mau hujan di tempat Lapangan tersebut maka hujan tak akan terjadi sebelum pertemuan selesai.
Pada Tahun Bulan Mei tahun 1967, Pembaptisan yang Pertama dilakukan Oleh Romo A. Sandiwan Broto, Pr. sejumlah 15 0rang di Sendang Sumber sebelah Selatan Desa Penadaran, Yang sekarang masih dipelihara kesrakalannya tempat itu oleh Setiap Kepala Desa yang Menjabatnya. Yaitu setiap ada acara sedekah bumi/Apitan maka dilaksanakan kesrakalannya dengan selamatan Panggang ayam dan dibersihkan oleh seluruh perangkat desa.
Pada Tahun 1968 dilaksanakan kembali Pembaptisan oleh Romo A. Sandiwan Broto, Pr. dengan tempat yang sama sebanyak 41orang. Dari beberapa pelajaran sabda Tuhan tersebut masyarakat Desa Penadaran Mulai mempercayai semua ajaranNya. Terutama dalam membina keluarganya masing masing, yang dapat dirasakan adalah peristiwa kawin cerai yang dengan mudah dilakukan masyarakat desa Penadaran. Dengan ajaran Kristus maka tak akan terulang lagi kawin cerai.
Dengan beberapa tokoh masyarakat yang sudah dipercaya untuk membantu menyampaikan Sabda Tuhan maka berkembang dengan pesat pada tahun 1969 sejumlah 150 KK mulai memeluk agama katolik, kurang lebih 92 % Penduduk Desa Penadaran memeluk Agama Katolik. Yang terdiri dari 3 lingkungan kring yaitu Lingkungan Tegalrejo yang Ketua lingkungannya adalah Bpk. Paulus Sawilan, Lingkungan Sasak di ketuai oleh Bpk. Petrus Nyamin, Lingkungan Bantengan diketuai oleh Bpk. Titus Minhat. Dalam bidang administrasi ikut Paroki Santo Paulus Miki Salatiga.
Rutinitas Pelaksanaan Ibadat Sabda dan Ekaristi mulai dilaksanakan di rumah umat yaitu Pendapa Kepala Desa dan Rumah Bpk. Paulus Sawilan.
Mayoritas penduduk bertani dengan lahan pertanian terbatas, dan masih primitive. Maka hasil panen tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sebagai puncak peristiwa ini adalah pada tahun 1974 Desa Penadaran dilanda krisis pangan, banyak keluarga yang menderita gizi buruk, makan seadanya ubi sebagai andalannya dampak itu juga terjadi di dunia pendidikan khususnya di tingkat SD putus sekolah. Pada tahun 1975 Yayasan Sugiyopranoto Semarang membantu umat Desa Penadaran dengan cara Program Transmigrasi dan orang tua asuh. Dari program tersebut sebanyak 72 KK umat katolik ditransmigrasikan di Sumatra, dan 67 anak menjadi anak asuh di Semarang. Yang masih menetap dibantu dengan bahan makanan yaitu BULGUR (dari campuran ubi dan beras di keringkan) maka pada waktu itu mendapat julukan umat Bulgur.
Pada akhir tahun 1976 mulai merangkak kepulihan perekonoian umat Katolik dengan keadaan umat tinggal 50%, Yang sekarang 50% yang di Sumatera Talang Semarang dan sekitarnya Sudah Menjadi Paroki yang merupakan cikal bakal asli Desa Penadaran. Dengan berbagai bimbingan oleh Romo Ignatius Wignyasumarta,MSF. Yang dilakukan dengan cara hafalan baik doa–doa dan nyanyian paduan suara maka mulailah bangkit kembali umat katolik Penadaran. Untuk Penerimaan Sakramen Penguatan pada tahun itu dilaksanakan di kantor kawedanan Gubug . Makin bertambahlah umat meskipun tempat misa yang masih dilaksanakan di rumah warga. Perkawinan yang semula dilaksanakan di KUA tetapi dengan kepercayaan akan Yesus Kristus, mulailah diperbaharui di Gereja Katolik Santo Paulus Miki Salatiga, makin banyak pula keluarga baru yang menerima sakramen Perkawinan. Makin berkembanglah umat Katolik.
Karena proses perkawinan yang harus dilakukan di Catatan Sipil Kabupaten maka pada tahun 1977 Wilayah Penadaran pindah ke Paroki Hati Kudus Purwodadi. Pelayanan dilaksanakan 1 kali misa dalam satu bulan minggu-minggu biasa diisi oleh ibadat sabda Pro Diakon Bpk. Paulus Sawilan. Kondisi jalan yang tidak baik. Pada tahun 1980 dengan tanah hibah ukuran 74m x 16,5m dari keluarga Bpk. Paulus Sawilan didirikan kapel dari kayu dan tempat duduk kayu (dingklik/kursi panjang tanpa senderan) dari swadaya umat yang beralaskan tanah dengan ukuran 15m x 6m, yang sampai sekarang tempat gereja. Pada tahun 1980 kondisi ekonomi masih dibawah garis kemiskinan, maka banyak umat katolik Penadaran masih sering menerima sumbangan baik pakaian pantas pakai dan bahan makanan. Melihat kondisi gereja yang semacam itu tergeraklah salah satu umat di Paroki Atmodirono Semarang untuk membangun. Pada tahun 1986 dibangulah gereja semi permanen dengan ukuran 24m x 9 m. Dengan Gereja yang cukup luas pada waktu itu maka lingkungan dipecah menjadi 6 lingkungan yaitu Lingkungan Tegalrejo, Sasak 1, Sasak 2, Bantengan 1, Bantengan 2, dan Bantengan 3.
Pada Tahun 1992 yang digembalakan oleh Romo Aloysius Endrakaryana, MSF. Mulai dibangun juga tempat ziarah yaitu Gua Maria Sendangjati dan Gua Santo Yosef yang terletak di pegunungan Bayang Kaki disebelah timur laut gereja dengan jarak kurang lebih 1,6 km. yang sekarang terkenal dengan sebutan “ Golgota di ladang jagung“
Dengan perkembangan umat menurut statistik gereja pada tahun 1992 umat katolik berjumlah 160 KK, 670 jiwa, maka misa 2 kali dalam satu bulan dengan bahasa jawa dan bahasa Indonesia. Minggu selain misa adalah Ibadat yang dipimpin oleh 2 orang Diakon awam, kemudian pada tahun 2004, misa 3 kali dalam 1 bulan, misa dibantu oleh 4 Prodiakon.
Perkembangan Umat katolik yang mayoritas petani lahan hutan milik Perum Perhutani menjadi pesat oleh karena kepercayaan dan berkah Tuhan Yesus yang selalu menyertai umat-Nya yang serba kekurangan. Alhasil umat menjadi budaya megik , dikala ada keluarga yang mengingkari janjinya terhadap Yesus/ pindah agama maka tak lama kehidupannya akan menderita seumur hidup, itu sudah terbukti kebenaranya yang terjadi di umat katolik Wilayah Penadaran. Dan Perkawinan akan langgeng tatkala perkawinan yang dilakukan di Gereja.
Pada tanggal 28 Oktober 2008 perayaan Peringatan Hari Pangan Sedunia ( HPS ) dilaksanakan di tempat Ziarah Gua Maria Sendang Jati yang dikenal dengan Golgota di ladang jagung. Dengan kegiatan Lomba-lomba, dan Penanaman 10.000 pohon disekitar Gua Maria Sendang Jati dan seluruh wilayah desa Penadaran, yang dihadiri oleh Mgr. Ignatius Suharyo, Bupati Grobogan, Muspika Kabupaten Grobogan dan Romo-romo KISDIANA. Pelaksnaan Atas Prakarsa LPUBTN, Yayasan Marsudirini, dan Kelompok Tani UB Ngudi Rejo Penadaran. Akibat HPS tersebut diatas Tempat Ziarah tersebut menjadi terkenal dan diakui salah satu tempat ziarah Keuskupan Agung Semarang, meskipun pembangunannya masih sederhana karena keterbatasan dana.
Karena banyaknya umat pengunjung ke tempat ziarah tersebut maka dengan berkah Tuhan Yesus maka pada tanggal 28 November 2010 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gereja Santo Paulus Penadaran dengan kepanitiaan terdiri dari Rm Albertus Agus Ariestiyanto, MSF., Bpk. MP. Suteja Alim Wijaya, Bpk. Ir. Suwartana Suryaputra, Bpk. dr. I. Hartantyo, Sp.A (K), Bpk. Theodorus Jimmy Susilo, dan Bpk. Viktorius Suparjo. Pembangunan direncanakan membutuhkan biaya sebesar Rp. 967.000.000,- (sembilan ratus enam puluh tujuh juta rupiah). Pembangunan Gereja dilebarkan ke tanah milik Bpk. Fransiskus Xaverius Hari dengan cara tukar guling tanah depan gereja milik warga yang dibeli oleh gereja.

Sumber : http://santopetrusgubug.wordpress.com/2011/07/07/sejarah-paroki-st-petrus-gubug/
  • Facebook
  • Twitter