Tampilkan postingan dengan label Rayon BUSIDIANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rayon BUSIDIANA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Februari 2013

Paroki Santo Petrus, Gubug

Posted by OMK Santo Michael On 21.29 No comments
SEJARAH PERKEMBANGAN PAROKI
Gereja Santo Petrus Gubug saat ini melayani 17 lingkungan yang terbagi ke dalam 5 wilayah. Secara historis perkembangan umat dari wilayah-wilayah awalnya terpisah-pisah, sehingga dapat diuraikan secara sendiri-sendiri, yaitu Sejarah perkembangan Gereja Santo Petrus Gubug, Sejarah perkembangan Gereja Kristus Raja Kedungjati, Sejarah Perkembangan wilayah Tanggungharjo, dan Sejarah Perkembangan Gereja Santo Paulus Penadaran.
A. Sejarah Perkembangan Gereja Santo Petrus Gubug
Benih-benih awal (embrio) Gereja Katolik Santo Petrus Gubug berangkat dari keprihatinan beberapa umat (± 9 orang) di antaranya Bpk. Petrus Soebirin, Bpk. Siswo Darmojo, dan Bpk Fransiscus Xaverius Marto Siswoyo, dengan tidak adanya tempat ibadat (Kapel/Gereja). Perkembangan umat katolik didukung oleh berdirinya SMP Keluarga Gubug yang didirikan pada tahun 1961, inisiatif dari warga katolik dan diprakarsai oleh Bpk Petrus Soebirin, Bpk Go Siamgie, dll. Ruangan lantai atas SMP Keluarga digunakan sebagai Kapel dengan pelindung “Santa Maria” untuk melaksanakan Misa dan Ibadat Sabda. Ibadat Sabda dilaksanakan setiap hari minggu, sedangkan Misa dilaksanakan satu kali dalam satu bulan. Gereja Santo Petrus pada saat itu masih berupa stasi dari paroki Purwodadi.
Dari SMP Keluarga tersebut beberapa siswa dibabtis, di antaranya Bpk. Agustinus Wasito (1965) dan Bpk Fransiscus Xaverius Pujiono (1968) yang sekarang menjadi anggota Dewan Paroki di Gereja ini.
Pada tanggal 4 Juni 1977, stasi Gubug mendapat kunjungan Uskup dalam rangka penerimaan Sakramen Krisma yang pertama. Sakramen Krisma diberikan kepada sejumlah umat dari Gubug dan sekitarnya (Tanggungharjo, Kedungjati, dan Penadaran). Karena jumlah umatnya banyak, ruangan SMP Keluarga tidak mampu menampung umat seluruhnya sehingga pelaksanaan Misa dan penerimaan Sakramen Krisma ditempatkan di Pendopo Kawedanan Gubug, seijin Bapak Wedono.
Selesai penerimaan Sakramen Krisma dilanjutkan wawanhati Uskup bersama umat, Romo Heri Vermeulen,MSF dan Romo Paulus Yasa Widharta,MSF. Bapak Uskup Yustinus Kardinal Darmoyuwono berpesan: ”kene kok ono umat sak mene akehe opo durung dilaporke?, carilah tanah, syukur sudah ada rumahnya, akan dibeli oleh keuskupan”.
Pesan Bapak Uskup ditindaklanjuti dan selang beberapa hari sudah mendapat tanah beserta rumah joglo di dekat pasar Gubug, tepatnya sebelah Timur Lapangan PUK Gubug. Tempat tersebut dibeli oleh keuskupan seharga Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) dan ditempati sebagai gereja.
Karena tempat tersebut terletak dekat pasar, maka sangat terdengar suara bising terutama dari penjual jamu yang menggunakan loud speaker yang dirasakan sangat mengganggu saat Ibadat serta kurang luas. Hal ini dilaporkan ke keuskupan dan diputuskan agar tempat tersebut dijual dan mencari tempat lain. Tanah tersebut dijual lagi dengan harga sama yaitu Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah). Dalam waktu singkat (5 Mei 1979) didapatkan tanah kembali (di jalan Ahmad Yani yang sekarang kita ditempati), seluas 0,5 ha seharga Rp. 3.500.000,- dan dibayar oleh keuskupan. Uang hasil penjualan tanah di dekat pasar Gubug dan dari umat dikumpulkan menjadi Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).
Dengan modal 5 juta tersebut umat tidak berani memulai membangun Gereja. Pada bulan Juni 1982 Romo Paroki Purwodadi (Romo Stefanus Broto Santoso,MSF) dan tokoh umat (Bpk. Agustinus Sugiyarto) dipanggil ke keuskupan intinya disuruh memulai pembangunan. Romo Julianus Sunarka,SJ (waktu itu sekretaris keuskupan merangkap Ekonom) menawarkan “uang bunga” meninggalnya Bapak Petrus Wanandi (Bapak dari Romo Markus Samsul Wanandi,SJ) sebesar Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) untuk pembangunan Gereja.
Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 1982 oleh:
1.  Romo Stefanus Broto Santoso, MSF. (Romo Paroki Purwodadi)
2.  Agustinus Sugiyarto (Ketua Stasi)
3.  Petrus Soebirin (Ketua Panitia Pembangunan)
4.  Kyai Kalim (Tokoh Mushola depan Gereja)
5.  Kyai Soeberi Sofyan (Tokoh Mushola dukoh)
Peletakan batu pertama ini disaksikan oleh umat Katolik yang mengikuti Misa Permberkatan.
Sumbangan dana utama lainnya mengalir dari:
1.  Keluarga Bapak Petrus Wanandi (Jakarta) : Rp. 27.500.000,-
2.  Presiden (Banpres) : Rp. 7.500.000,-
3.  Karya Kepausan Internasional (Via KWI) : Rp. 6.200.000,-
4.  Umat dan donator-donatur lain
Pembangunan tidak berjalan mulus. Setelah beberapa hari pekerjaan dimulai, pembangunan ditentang oleh sebagian masyarakat (kelompok non kristiani) yang berusaha untuk menghalangi dengan mengirimkan surat kaleng berisi ancaman-ancaman kepada panitia pembangunan. Karena dikhawatirkan akan terjadi keributan atau perusakan terhadap pembangunan dan pekerjanya, maka Kasdim Purwodadi (Mayor Abdul Manaf) mengirimkan surat pemberhentian pekerjaan.
Panitia pembangunan tidak tinggal diam, namun melaporkan hal ini kepada Kasdam Jateng (Bapak Bridjen Leo Ngali). Secara lisan Bapak Brijen Leo Ngali memerintahkan ke Kasdim agar surat pemberhentian pembangunan dicabut kembali, dan akhirnya pembangunan dapat dilanjutkan.
Pembangunan Gereja selesai dan diberkati oleh Bapak Uskup Mgr. Alexander Soetandio Djajasiswaja, pada tanggal 30 November 1982.
Pada tahun 1983, Dewan Satasi Gubug merencanakan mendirikan sebuah SMA di bawah bimbingan Romo Julianus Sunarka, SJ. Rencana tersebut terealisir pada Tahun Pelajaran 1984 dengan menempati areal tanah PGPM Gereja Katolik Santa Maria Gubug dengan MOU berbunyi: ”Sekolah menempati tanah PGPM selama sekolah tersebut masih berdiri (buka), kalau sudah tutup maka gedung-gedungnya menjadi milik Gereja”.
Pada tahun 1985, Stasi Gubug ditetapkan oleh Keuskupan Agung Semarang menjadi Paroki Administratif dan menginduk ke Paroki Admodirono Semarang, dengan susunan pengurus sebagai berikut.
1.  Ketua Umum : Romo Ambrosius Darmasuwarna,MSF.
2.  Koordinator Umum : Agustinus Sugiyarto
3.  Koordinator I : Fransiscus Xaverius Sumardi
4.  Koordinator II : Robertus Munadi
5.  Sekretaris : Yohanes Eusatchius Suyono
6.  Bendahara : Johanes Joko Suwito
7.  Seksi-seksi
      a. Seksi Liturgi : Fransiscus Xaverius Sumardi
      b. Seksi Pewartaan : Petrus Soebirin
      c. Seksi Sosial /PSE : Agustinus Widodo
Pada tanggal 27 Juni 1985, Mgr. Yulius Kardinal Darmoatmojo berkenan mengadakan kunjungan pastoral di Gubug dalam rangka penerimaan Sakramen Krisma (102 orang). Selesai misa diadakan wawan hati dengan wakil umat dan Muspika Gubug. Dalam wawan hati tersebut Muspika mengusulkan untuk mendirikan rumah sakit Katolik. Usulan tersebut direstui Bapak Uskup, dan ditindak lanjuti. Dewan berkunjung ke Susteran Strada Pejaten Jakarta. Dalam pembicaraan awal suster Propinsial menyetujui, namun akhirnya tidak jadi kerena uangnya digunakan untuk keperluan lain. Hal ini dilaporkan ke Romo Julianus Sunarka,SJ. Romo Narko menghubungi Suster Yohanita di Sukabumi melalui telepon. Suster Yohanita menyetujui bahwa Suster-suster SFS dari Sukabumi akan berkarya di Gubug. Namun sampai saat ini Suster-suster masih berkarya di bidang pendidikan dan pelayanan umat, sedangkan bidang kesehatan (rumah sakit) belum terwujudkan.
Romo-Romo yang pernah berkarya di Gereja Santo Petrus Gubug
1. Romo Stefanus Broto Santoso, MSF (1982), Beliau pendiri Gereja Santo Petrus Gubug
2. Romo Nicolaus Antosaputro,MSF., Romo Robertus Bellarminus Pranatasurya,MSF., Romo Yustinus Harjosusanto,MSF. Pernah   melayani di Gereja Santo Petrus Gubug dan sering tinggal di Pastoran Gubug.
3. Romo Fransiskus Assisi Suryosunaryo, MSF. (1984), laju dari Purwodadi
4. Romo Ambrosius Darmasuwarna,MSF (1984), membuat Goa Maria di depan Pastoran. Beliau sangat dekat dengan Mudika dan melaksanakan Misa di Gubug setiap Minggu ke-5 dengan Bahasa Jawa.
5. Romo Aloysius Endrakaryana, MSF (1986), banyak kegiatan yang dilakukan:
a. Selain sebagai Pastor juga mengajar di SMA Keluarga Gubug dan SMA Budiluhur Tanggungharjo
b. Mendirikan asrama untuk siswa SMA Keluarga, namun hanya berjalan sebentar karena tidak ada yang mengelola (lokasi dibelakang susteran, bangunan lalu dijual)
c. Membentuk Sie Pagruktilaya dengan pengurus:
- Ketua : Bpk Yohanes Biyanto (alm)
- Sekretaris : Bpk. Robertus Munadi
- Bendahara : Ibu Yohana Fransiska Icuk Sudiyati
d. Membentuk Sie Kesehatan dengan pengurus:
- Ketua : Bpk Fransiskus Xaverius Slamet Riyanto
- Sekretaris : Bpk. Robertus Munadi
- Bendahara : Ibu Yohana Fransiska Icuk Sudiyati
e. Merintis tempat peziarahan di Penadaran (Sendangjati) dengan membuat Jalan Salib dari Bantengan menuju pusat peziarahan di atas bukit.
f. Aktif mengunjungi umat
g. Mendatangi undangan pertemuan yang diselenggarakan Muspika Kec. Gubug
6. Romo Fransiskus Assisi Tedjasuksmana, MSF (1993), kegiatan yang dilaksanakan:
a. Melaksanakan HUT HPS di Gereja Santo Petrus Gubug dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk (sponsor Kantor Pusat HPS Ganjuran Yogyakarta)
b. Pasar murah untuk umum bertempat Penadaran dan halaman Gereja Santo Petrus Gubug. Dengan melibatkan WK Gubug, WK Purwodadi, dan WK Jawa Tengah
c. Mengadakan seminar HUT HPS yang diikuti dari Semarang, Kudus, Salatiga, Kendal, Wonogiri, dll.
d. Mengadakan pelatihan penanaman semangka, cabe merah, dan kunci.Pembuatan pupuk kandang di Desa Mangunsari Tegowanu.
7. Romo Bernardus Haryasmara,MSF (1998), 1 Juli 1998 mengaktifkan Sekretariat dengan petugas Bpk. Robertus Munadi dan Bpk Fransiskus Xaverius Slamet Riyanto, sebagai pemegang kas kecil dan membuat laporan keuangan ke KAS.
8. Romo Agustinus Suwartono Susilodiharjo,MSF. Beliau mengaktifkan kegiatan mudika. Pada suatu malam pernah kedatangan tamu tak diundang, tidak diketahui asalnya tetapi sudah berada di ruang makan Pastoran dan mengambil jaket Romo Sus. Sebelum pergi Romo Susilo meminta jaketnya kembali.
9. Romo Antonius Heru Susanto,MSF. Beliau aktif mengunjungi umat, orang sakit baik di rumah atau yang sedang opname.
10. Romo Dicdatus Carv. Prihambodo,MSF. Bersama Romo Ignatius Wignyasumarta,MSF., Romo Albertus Agus Ariestiyanto,MSF., dan Dewan Paroki membangun Pastoran, Aula, Kantor Sekretariat, Kamar mandi, Ruang Kesehatan, gudang, dan tempat parkir. Pelaksana Bpk Santoso Hidayat (pengusaha sirop Kartika), dengan dana dari Bpk. Arif Hartono (Jakarta).
11. Romo Yosef Tjoek Prasetyo, MSF. Bersama Dewan Paroki membangun menara lonceng, pagar depan. Dana dari umat (tidak mau disebutkan namanya). Membangun pagar samping dan belakang dengan dana dari PLN Semarang. Menghapus Misa Sabtu Sore karena umatnya sedikit.
12. Romo Petrus Lasadi,MSF. Romo Alexander Erwin,MSF, meningkatkan kegiatan mudika
13. Romo Aloysius Rinata Hadiwardaya,MSF. Mulai merintis PPDP, melaksanakan pemilihan Dewan Harian secara langsung untuk masa bhakti 2007-2010, dengan susunan terpilih sebagai berikut:
- Ketua : Albertus Agus Ariestiyanto,MSF
- Wakil Ketua I : Aloysius Rinata Hadiwardaya, MSF
- Wakil Ketua II : Agustinus Sugiyarto
- Sekretaris I : Yulius Subandiyono
- Sekretaris II : Agnes Sayekti Handayani
- Bendahara I : Maria Magdalena Harni
- Bendahara II : Robertus Munadi
- Koor Bid. Liturgi : Sr Maria Verena, SFS
- Koor Bid. Pewartaan : Cosmas Dariyo Susilo
- Koor Bid. Pelayanan : Johaes Rasul Kastipan
- Koor Bid. Persaudaraan : Fransiskus Xaverius Gintono Bejo
- Koor Bid. Wilayah : Agustinus Wasito
Pada tahun 2007 s.d 2008, Dewan Harian belum bisa melaksanakan tugas secara optimal, karena setelah pelantikan Pada bulan Juni 2007, sekretaris I dan sekretaris II melanjutkan program studi pasca sarjana. Pada akhir tahun 2008, Romo Aloysius Rinata Hadiwardaya, MSF digantikan oleh Romo Petrus Bimo Handoko, MSF.
14. Romo Petrus Bimo Handoko, MSF. (2009).
a. Mengadakan pergantian petugas sekretariat dari Bpk. Robertus Munadi dengan Fransiskus de Sales Lukman Safii.
b. Mengadakan pemilihan pergantian Pengurus Dewan Harian periode 2010-3013, dengan susunan terpilih sebagai berikut:
- Ketua : Albertus Agus Ariestiyanto,MSF
- Wakil Ketua I : Petrus Bimo Handoko, MSF.
- Wakil Ketua II : Johanes Rasul Kastipan
- Sekretaris I : Yulius Subandiyono
- Sekretaris II : Agnes Sayekti Handayani
- Bendahara I : Romana Saptorini
- Bendahara II : Maria Magdalena Harni
- Koor Bid. Liturgi : Sr Maria Verena, SFS
- Koor Bid. Pewartaan : Fransiskus Xaverius Suparno
- Koor Bid. Pelayanan : Albertus Warjono
- Koor Bid. Persaudaraan : Stefanus Adhi Heriyadi
- Koor Wilayah : Agustinus Wasito
c. Membentuk Tim 8 yang terdiri dari: Petrus Bimo Handoko,MSF, Agustinus. Sugiyarto, Yulius Subandiyono, Sr. M. Verena, SFS., Robertus Munadi, Fransiskus Xaverius Suparno, Stefanus Zaenuri, dan Yulius Sri Sapto (alm) untuk menyusun draff PPDP.
d. Mempresentasikan/membahas draff PPDP bersama Dewan Harian, Koordinator Wilayah, Ketua Wilayah, dan Ketua-ketua lingkungan.
e. Menyusun Doa Persiapan menuju paroki mandiri
f. Bersama Yulius Subandiyono menyusun Analisis SWOT dan Visi Misi Gereja
g. Memulai menyusun Tim-tim Kerja dan membuat program kerja, meskipun belum dapat dilaksanakan sepenuhnya.
h. Melaksanakan HPS dan peresmian Sendangjati Penadaran oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Ignatius Suharyo. dilanjutkan penanaman 10.000 pohon dihadiri Bupati Grobogan.
i. Pada akhir tahun 2009, Romo Petrus Bimo Handoko,MSF digantikan oleh Romo Bernardus Haryasmara,MSF.
15. Romo Bernadus Haryasmara,MSF. (2010). Beliau berkonsentrasi menyiapkan Paroki mandiri dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Menindaklanjuti draff PPDP dan membahasnya bersama Romo Laurentius Suhar Dwi Budi Prasetya, Pr., Dewan Harian, Koordinator Wilayah, Ketua-ketua Wilayah, dan Ketua-ketua lingkungan.
b. Menyusun tim-tim kerja dan program kerja
c. Menyusun RAPB
d. Menyiapkan pendataan umat dengan format dari KAS.
Kepengurusan PGPM
PGPM Santa Maria masa bhakti 2002 s.d 2006
Ketua : Romo Ignatius Wignyosumarto,MSF
Sekretaris : Agustinus Sugiyarto
Bendahara : Robertus Munadi
Anggota : Fransiskus Xaverius. Pujiono
: Fransiskus Xaverius Gintono Bejo
PGPM Santa Maria masa bhakti 2006 s.d 2010
Ketua : Romo Albertus Agus Ariestiyanto,MSF
Sekretaris : Agustinus Sugiyarto
Bendahara : Robertus Munadi
Anggota : Fransiskus Xaverius Pujiono
                  : Fransiskus Xaverius Bejo
DATA UMAT PAROKI SANTO PETRUS GUBUG
Tahun
Jml Umat
Babtis
Komuni I
Krisma
Diterima dari Kristen
s.d 1998
1.314
16
24
-
3
1999
1.331
31
20
138
-
2000
1.379
57
5
-
-
2001
1.441
79
47
-
-
2002
2003
1.445
9
36
-
-
2004
1.506
65
-
109
1
2005
1.532
50
49
-
1
2006
1.458
23
-
64
-
2007
1.461
41
-
-
1
2008
1.525
67

-
2
2009
1.561
45
35
-
1
2010
1.574
18
11
126
2
Demikian sejarah perkembangan Gereja (umat) dan pembangunan gereja St. Petrus Gubug, sebagai catatan kecil yang diharapkan mampu mendorong bagi umat untuk berperan serta dalam kehidupan menggereja.
B. Sejarah Perkembangan Gereja Kristus Raja Kedungjati
Perjalanan sejarah Gereja Katolik Kristus Raja Kedungjati tidak bisa dilepaskan dari sesepuh/umat perdana/rasul awam, biarawan, biarawati serta imam yang lebih kurang 45 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1965 seorang warga katolik yang bernama Justinus Soetedjo dari Dinas Kesehatan Angkatan Darat Semarang pindah ke Desa kedungjati dengan keluarganya. Sejak tinggal di Kedungjati beliau berhasil mempertemukan beberapa keluarga Katolik, seperti keluarga: Bpk. CB. Kardjani, Bapak F. Soemitro, Bpk. Markus Saguh, Bpk. JC Santosa, Bpk. Agustinus Soepangat, Bpk. Julius Slamet Sastro Supadmo, dan lainnya. Keluarga-keluarga tersebut merupakan embrio terbentuknya Gereja Katolik di Desa Kedungjati. Kegiatan-kegiatan keagamaan/rohani yang dilakukan pada saat itu antara lain Doa bersama (sembahyangan), Ibadat Sabda, Misa Ekaristi Kudus.
Karena pada waktu itu belum ditentukan kewilayahan Kedungjati masuk Paroki mana, maka untuk dapat mengadakan Misa Ekaristi Kudus Bpk. Justinus Soetedjo meminta bantuan dari Pastor Salatiga dan Semarang. (Paroki Keluarga Kudus Admodirono), bahkan kadang-kadang minta pelayanan Misa Ekaristi Kudus dari Rochhani Katekis Kodam VIII Diponegoro, yaitu Kapten Wuryanto dan Romo Mayor Handojo.
Mengingat waktu itu belum memiliki tempat ibadah/gedung Gereja maka upacara Ibadat Sabda maupun Misa Ekaristi Kudus dilakukan dengan berpindah-pindah tempat di rumah umat, kemudian menyewa sebuah rumah milik Bpk. Kroyo Hardjoko dan selanjutnya pindah di rumah Bpk. Sardjo Harjotinojo, bahkan pada waktu itu pernah melakukan Ibadat Minggu di Taman Makam Bakti Pahlawan Kedungjati.
Semangat umat yang menggelora untuk mempunyai tempat ibadah sendiri, maka pada tahun 1967 atas usaha umat Kedungjati mendapatkan bantuan dari paroki Keluarga Kudus Admodirono dan dukungan dari Keuskupan Agung Semarang, yang akhirnya dapat membeli sebuah rumah sekolah tiga lokal milik perseorangan dan diubah menjadi bentuk Kapel. Harga rumah tersebut pada saat itu ± Rp. 125.000,- (seratus duapuluh lima ribu rupiah). Perubahan rumah sekolah menjadi Kapel itu dirancang oleh arsitek dari Paroki Admodirono dibawah pengawasan Romo De Koneng dengan kontruksi yang terbuat dari bahan kayu jati. Kapel didirikan di atas tanah milik Pengurus Gereja dan Papa Miskin (PGPM) Keuskupan Agung Semarang yang sebagian ditempati Sekolah Dasar Negeri 2 Kedungjati. Pada tanggal 1 Mei 1970 diresmikan dan diberkati oleh Vikaris Jendral Keuskupan Agung Semarang dan diberi nama Gereja Katolik Kristus Raja Kedungjati.
Sekitar tahun 1975 dilayani oleh Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Purwodadi sampai tahun 1983, selanjutnya pelayanan diserahkan kembali ke Paroki Keluarga Kudus Admodirono Semarang, dan kemudian diserahkan ke Paroki Santo Paulus Sendangguwo sampai Sekarang.
Dalam perjalanan waktu, umat semakin bertambah dengan bergabungnya warga gereja baru. Kapelpun mengalami penyempurnaan yang semula berlantai tanah kemudian iplester, luas bangunan juga bertambah yang semula 12 x 14 meter menjadi 17 x 15m.
Semangat dari para sesepuh Gereja menjadi modal yang kuat bagi para pengurus Gereja selanjutnya. Pada tahun 1997 saat Stasi Kedungjati di Ketuai oleh Bapak Gregorius R Soepartono, umat bertekad untuk merenovasi Kapel agar menjadi lebih indah dan nyaman, dengan rencana: peninggian lantai ± 30 cm, dinding tembok, dan lantai keramik. Setelah melalui rapat Dewan Pengurus Gereja, maka pada thaun 1998 dibentuk panitia Renovasi dan pembangunan Gedung Gereja yang diketuai oleh Bpk. Alexander Targono BS. Selanjutnya sesudah Hari Raya Paskah tepatnya tanggal 15 April 1998 pekerjaan tahap I dimulai, yaitu dengan membuat pondasi dan dinding tembok . Pada awal tahun 1999 Romo Bernardus Haryasmara,MSF mulai berkarya di wilayah Kedungjati di mana untuk mempercepat renovasi beliau mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya dan langsung turun tangan. Puji Tuhan pada akhir tahun 1999, gedung Gereja dapat diselesaikan.
Pada perayaan Tahun Yubileum Agung 2000, tepatnya tanggal 2 Agustus 2000 Mgr. Ignatius Suharyo. Uskup Keuskupan Agung Semarang berkenan memberkatinya.
Pada tahun 2002 Romo Dicdatus Carv. Prihambodo,MSF berkarya di wilayah Kedungjati mengusahakan pagar BRC sebanyak 55 lembar untuk pembangunan pagar keliling Gereja dan kekurangannya diusahakan oleh umat sendiri. Pembangunan pagar diketuai oleh Bpk. Kusdi Sukoco. Karena terbatasnya dana pekerjaan pembuatan pagar tersebut dilakukan secara bertahap dan memakan waktu sekitar 3 (tiga) tahun.
Pada tahun 2010 bertepatan dengan Tahun Syukur KAS, umat Katolik Wilayah Kedungjati merayakan Hari Ulang Tahun Gereja yang ke-40 (pancawindu). Puncak acaranya dirayakan 21 Nopember 2010 bertepatan dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam.
Ajakan Santo Paulus menjadi inspirasi peneguh “mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah dalam Yesus Kristus’ (1 Tes 5: 18).
C. Sejarah Perkembangan Umat di Wilayah Matius Tanggungharjo
Pada bulan Pebruari tahun 1970, Desa Tanggungharjo mendapat kunjungan Bapak dan Ibu Yustinus Sutejo yang waktu itu menjabat sebagai DANRAMIL Kedungjati. Kunjungan tersebut juga membawa misi ajaran Kristus (agama Katolik) dan bertemu beberapa tokoh yang mempunyai keyakinan sama, antara lain: Bpk. Matius Martahardjono (alm)/ carik Tanggungharjo, Fransiskus Xaverius Sumadi (alm) Kepala SD, Y. Sadjiman/guru SMP N Tanggungharjo). Salah satu hasil pertemuan adalah untuk mendata umat Katolik di Desa Tanggungharjo dan sekitarnya.
Kegiatan pendataan umat diawali satu minggu setelah terjadi pertemuan dengan tokoh tadi, pendataan sampai wilayah Desa Ringinpitu dan bertemu dengan Bpk. Rakidin (pensiunan Guru) yang waktu itu mempunyai pengaruh yang luar biasa karena banyak membawa perubahan pada masyarakat setempat, dan beliau berkenan membantu dalam pendataan tersebut hingga beliau sampai pindah keyakinan menjadi murid Kristus.
Ternyata umat Katolik di Desa Tanggungharjo dan sekitarnya lumayan banyak, namun untuk melakukan kegiatan-kegiatan gereja belum dapat dilaksanakan, dan masih merayakan di Paroki Gedangan Semarang. Data umat Katolik diserahkan kepada Paroki Gedangan oleh Bpk. Yustinus Sutejo, dan mulai saat itu menjadi warga Paroki Gedangan Semarang.
Pada bulan Maret 1970 diadakan kegiatan Misa Kudus di Tanggungharjo yang dihadiri oleh umat Katolik dari Tanggungharjo, Kedungjati, Gedangan, dan Telawah yang dipimpin oleh Romo Yudo. Dalam sambutannya beliau memberi nama pada pertemuan tersebut “TANTIDAWAH’, (artinya: Tanggungharjo, Kedungjati, Gedangan, dan Telawah).
Pada Bulan April 1970 diadakan perayakan pesta Paskah di rumah Bpk. Carik yang dihadiri Tanggungharjo, Kedungjati dan sekitarnya. Kegiatan gereja mulai dapat berjalan dan mendapat dukungan dari masyarakat sekitar dengan baik. Perkembangan umat Katolik semakin maju sehingga pesta Paskah dan Perayaan Natal dapat dilaksanakan secara Rutin.
Bulan Januari 1972, tokoh-tokoh agama di sekitar mayoritas guru, merintis sebuah sekolahan Katolik yang berguna untuk menyebarkan ajaran Kristus melalui jalur pendidikan sehingga berdirilah SMP Budiluhur, yang tenaga pengajarnya didatangkan dari wilayah Klaten, antara lain:
1) Bpk. Ignatius Sungkono (alm) Kepala SMP Budiluhur
2) Bpk. Bambang (sekarang bertugas di SMP N 1 Purworejo)
3) Bpk. Pantiyono (sekarang di SD N Klaten)
4) Bpk. Fransiskus Xaverius Sudino (sekarang Kepala SMP Budiluhur Tanggungharjo)
Dengan berdirinya SMP Budiluhur, sangat membantu sekali dalam perkembangan dan pengakuan masyarakat akan agama Katolik. Alhasil masyarakat mulai sadar untuk tidak fanatisme berlebihan. Sejak Tahun 1982 Ekaristi dilaksanakan setiap Minggu ke-2 dan ke-4, bertempat di rumah Bapak Carik.
Untuk meningkatkan pelayanan di Wilayah Tanggungharjo perlu dipikirkan pembangunan KAPEL, mengingat selama ini kegiatan Ekaristi dan Perayaan-perayaan lainnya dilaksanakan di Rumah Bapak Carik (Agung Sutadi, S.H)
D. Sejarah Perkembangan Gereja Santo Paulus Penadaran
Gereja awal mula adalah sekelompok orang yang percaya kepada Sang Kristus Yesus, Sabda tersebut terjadi juga di Desa Penadaran, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Pada Tahun 1966 yang semula sekelompok orang yang mengadakan perkumpulan / pertemuan di suatu lapangan sekolah yang sekarang adalah Sekolah Dasar Negeri 1 Penadaran Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.
Awal mula Gereja Santo Paulus adalah peristiwa datangnya seorang pemburu babi hutan dari Salatiga yang bernama Letnan Kolonel Soekoco beliau sering berburu babi hutan di Desa Penadaran, karena habitat babi hutan di sekitar hutan Desa Penadaran sangat banyak dan merupakan hama tanaman jagung, karena tidak ada persewaan penginapan maka Beliau tidur di rumah bapak kepala Desa. Yang bernama Bpk. Parjo.
Ketertarikan pertama seorang kepala desa dengan tamunya tersebut adalah , ketekunan berdoa oleh Bpk. Letnan Kolonel Soekoco, khususnya Doa sebelum dan sesudah makan dengan menggunakan tanda salib. Menjadi pertanyaan besar oleh Bpk Parjo Kepala Desa Penadaran Agama apa yang dianut oleh seorang tamunya tersebut. Berkembang dan rasa ingin tahulah yang menjadi awal kepercayaan. Maka timbulah kesanggupan untuk mulai belajar Agama Katolik dari seorang pemburu babi hutan tersebut.
Dari sebuah rumah penduduk yang cukup sederhana maka mulailah Bpk Letnan Kolonel Soekoco menyampaikan kabar Gembira sebagai Misi Kristus ditempat itu. Pada waktu itu Pastor yang ikut dalam misi Kristus adalah Romo A. Sandiwan Broto, Pr. dari Paroki Santo Paulus Miki Salatiga. Makin banyak yang mendengarkan Sabda Tuhan tersebut maka tidak muat lagi rumah penduduk yang sempit tersebut, maka dialihkan tempat yaitu di lapangan terbuka didepan Sekolah Dasar Negeri 1 Penadaran. Dengan berbagai keajaiban terjadi dan dirasakan oleh umat di Desa Penadaran Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan yang masih menggema yaitu kala mau hujan di tempat Lapangan tersebut maka hujan tak akan terjadi sebelum pertemuan selesai.
Pada Tahun Bulan Mei tahun 1967, Pembaptisan yang Pertama dilakukan Oleh Romo A. Sandiwan Broto, Pr. sejumlah 15 0rang di Sendang Sumber sebelah Selatan Desa Penadaran, Yang sekarang masih dipelihara kesrakalannya tempat itu oleh Setiap Kepala Desa yang Menjabatnya. Yaitu setiap ada acara sedekah bumi/Apitan maka dilaksanakan kesrakalannya dengan selamatan Panggang ayam dan dibersihkan oleh seluruh perangkat desa.
Pada Tahun 1968 dilaksanakan kembali Pembaptisan oleh Romo A. Sandiwan Broto, Pr. dengan tempat yang sama sebanyak 41orang. Dari beberapa pelajaran sabda Tuhan tersebut masyarakat Desa Penadaran Mulai mempercayai semua ajaranNya. Terutama dalam membina keluarganya masing masing, yang dapat dirasakan adalah peristiwa kawin cerai yang dengan mudah dilakukan masyarakat desa Penadaran. Dengan ajaran Kristus maka tak akan terulang lagi kawin cerai.
Dengan beberapa tokoh masyarakat yang sudah dipercaya untuk membantu menyampaikan Sabda Tuhan maka berkembang dengan pesat pada tahun 1969 sejumlah 150 KK mulai memeluk agama katolik, kurang lebih 92 % Penduduk Desa Penadaran memeluk Agama Katolik. Yang terdiri dari 3 lingkungan kring yaitu Lingkungan Tegalrejo yang Ketua lingkungannya adalah Bpk. Paulus Sawilan, Lingkungan Sasak di ketuai oleh Bpk. Petrus Nyamin, Lingkungan Bantengan diketuai oleh Bpk. Titus Minhat. Dalam bidang administrasi ikut Paroki Santo Paulus Miki Salatiga.
Rutinitas Pelaksanaan Ibadat Sabda dan Ekaristi mulai dilaksanakan di rumah umat yaitu Pendapa Kepala Desa dan Rumah Bpk. Paulus Sawilan.
Mayoritas penduduk bertani dengan lahan pertanian terbatas, dan masih primitive. Maka hasil panen tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sebagai puncak peristiwa ini adalah pada tahun 1974 Desa Penadaran dilanda krisis pangan, banyak keluarga yang menderita gizi buruk, makan seadanya ubi sebagai andalannya dampak itu juga terjadi di dunia pendidikan khususnya di tingkat SD putus sekolah. Pada tahun 1975 Yayasan Sugiyopranoto Semarang membantu umat Desa Penadaran dengan cara Program Transmigrasi dan orang tua asuh. Dari program tersebut sebanyak 72 KK umat katolik ditransmigrasikan di Sumatra, dan 67 anak menjadi anak asuh di Semarang. Yang masih menetap dibantu dengan bahan makanan yaitu BULGUR (dari campuran ubi dan beras di keringkan) maka pada waktu itu mendapat julukan umat Bulgur.
Pada akhir tahun 1976 mulai merangkak kepulihan perekonoian umat Katolik dengan keadaan umat tinggal 50%, Yang sekarang 50% yang di Sumatera Talang Semarang dan sekitarnya Sudah Menjadi Paroki yang merupakan cikal bakal asli Desa Penadaran. Dengan berbagai bimbingan oleh Romo Ignatius Wignyasumarta,MSF. Yang dilakukan dengan cara hafalan baik doa–doa dan nyanyian paduan suara maka mulailah bangkit kembali umat katolik Penadaran. Untuk Penerimaan Sakramen Penguatan pada tahun itu dilaksanakan di kantor kawedanan Gubug . Makin bertambahlah umat meskipun tempat misa yang masih dilaksanakan di rumah warga. Perkawinan yang semula dilaksanakan di KUA tetapi dengan kepercayaan akan Yesus Kristus, mulailah diperbaharui di Gereja Katolik Santo Paulus Miki Salatiga, makin banyak pula keluarga baru yang menerima sakramen Perkawinan. Makin berkembanglah umat Katolik.
Karena proses perkawinan yang harus dilakukan di Catatan Sipil Kabupaten maka pada tahun 1977 Wilayah Penadaran pindah ke Paroki Hati Kudus Purwodadi. Pelayanan dilaksanakan 1 kali misa dalam satu bulan minggu-minggu biasa diisi oleh ibadat sabda Pro Diakon Bpk. Paulus Sawilan. Kondisi jalan yang tidak baik. Pada tahun 1980 dengan tanah hibah ukuran 74m x 16,5m dari keluarga Bpk. Paulus Sawilan didirikan kapel dari kayu dan tempat duduk kayu (dingklik/kursi panjang tanpa senderan) dari swadaya umat yang beralaskan tanah dengan ukuran 15m x 6m, yang sampai sekarang tempat gereja. Pada tahun 1980 kondisi ekonomi masih dibawah garis kemiskinan, maka banyak umat katolik Penadaran masih sering menerima sumbangan baik pakaian pantas pakai dan bahan makanan. Melihat kondisi gereja yang semacam itu tergeraklah salah satu umat di Paroki Atmodirono Semarang untuk membangun. Pada tahun 1986 dibangulah gereja semi permanen dengan ukuran 24m x 9 m. Dengan Gereja yang cukup luas pada waktu itu maka lingkungan dipecah menjadi 6 lingkungan yaitu Lingkungan Tegalrejo, Sasak 1, Sasak 2, Bantengan 1, Bantengan 2, dan Bantengan 3.
Pada Tahun 1992 yang digembalakan oleh Romo Aloysius Endrakaryana, MSF. Mulai dibangun juga tempat ziarah yaitu Gua Maria Sendangjati dan Gua Santo Yosef yang terletak di pegunungan Bayang Kaki disebelah timur laut gereja dengan jarak kurang lebih 1,6 km. yang sekarang terkenal dengan sebutan “ Golgota di ladang jagung“
Dengan perkembangan umat menurut statistik gereja pada tahun 1992 umat katolik berjumlah 160 KK, 670 jiwa, maka misa 2 kali dalam satu bulan dengan bahasa jawa dan bahasa Indonesia. Minggu selain misa adalah Ibadat yang dipimpin oleh 2 orang Diakon awam, kemudian pada tahun 2004, misa 3 kali dalam 1 bulan, misa dibantu oleh 4 Prodiakon.
Perkembangan Umat katolik yang mayoritas petani lahan hutan milik Perum Perhutani menjadi pesat oleh karena kepercayaan dan berkah Tuhan Yesus yang selalu menyertai umat-Nya yang serba kekurangan. Alhasil umat menjadi budaya megik , dikala ada keluarga yang mengingkari janjinya terhadap Yesus/ pindah agama maka tak lama kehidupannya akan menderita seumur hidup, itu sudah terbukti kebenaranya yang terjadi di umat katolik Wilayah Penadaran. Dan Perkawinan akan langgeng tatkala perkawinan yang dilakukan di Gereja.
Pada tanggal 28 Oktober 2008 perayaan Peringatan Hari Pangan Sedunia ( HPS ) dilaksanakan di tempat Ziarah Gua Maria Sendang Jati yang dikenal dengan Golgota di ladang jagung. Dengan kegiatan Lomba-lomba, dan Penanaman 10.000 pohon disekitar Gua Maria Sendang Jati dan seluruh wilayah desa Penadaran, yang dihadiri oleh Mgr. Ignatius Suharyo, Bupati Grobogan, Muspika Kabupaten Grobogan dan Romo-romo KISDIANA. Pelaksnaan Atas Prakarsa LPUBTN, Yayasan Marsudirini, dan Kelompok Tani UB Ngudi Rejo Penadaran. Akibat HPS tersebut diatas Tempat Ziarah tersebut menjadi terkenal dan diakui salah satu tempat ziarah Keuskupan Agung Semarang, meskipun pembangunannya masih sederhana karena keterbatasan dana.
Karena banyaknya umat pengunjung ke tempat ziarah tersebut maka dengan berkah Tuhan Yesus maka pada tanggal 28 November 2010 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gereja Santo Paulus Penadaran dengan kepanitiaan terdiri dari Rm Albertus Agus Ariestiyanto, MSF., Bpk. MP. Suteja Alim Wijaya, Bpk. Ir. Suwartana Suryaputra, Bpk. dr. I. Hartantyo, Sp.A (K), Bpk. Theodorus Jimmy Susilo, dan Bpk. Viktorius Suparjo. Pembangunan direncanakan membutuhkan biaya sebesar Rp. 967.000.000,- (sembilan ratus enam puluh tujuh juta rupiah). Pembangunan Gereja dilebarkan ke tanah milik Bpk. Fransiskus Xaverius Hari dengan cara tukar guling tanah depan gereja milik warga yang dibeli oleh gereja.

Sumber : http://santopetrusgubug.wordpress.com/2011/07/07/sejarah-paroki-st-petrus-gubug/

Paroki Administratif BMW de la Salette,Juwana

Posted by OMK Santo Michael On 21.27 No comments
Paroki Administratif Juwana terletak kurang lebih 12 km arah Timur laut dari Gereja St. Yusuf Pati. Sebelum menjadi Paroki Administratif Juwana statusnya ialah Stasi Juwana, Paroki Pati. Menurut Buku Sejarah Provinsi MSF Jawa pada tahun 1949 Rm. P. Stienen, MSF yang menjadi Pastor Paroki Pati mendapat tugas khusus membangun gedung gereja Paroki Pati dan mempersiapkan Stasi Juwana.
Keberadaan gedung gereja Stasi Juwana tak lepas dari Ibu Maria Chatarina Chauvin yang merelakan sebagian tanahnya untuk lokasi gereja tersebut. Demikian juga Bapak Bedjo Ludiro dengan kawan-kawannya yang memprakarsi pembangunan gereja di Stasi Juwana ini.
Setelah gedung gereja Stasi Juwana selesai dibangun diberi nama BMV de la Salette Juwana. Misa pertama dilaksanakan pada 10 Juli 1956 bersama Uskup Agung Semarang Mgr. A. Soegijopranata. Namun seiring berjalannya waktu dan berdasarkan SK. Keuskupan Agung Semarang tanggal 7 April 1990 No.112 / B / I / A / 90 nama gereja Stasi Juwana ditetapkan dengan nama GEREJA KATOLIK SANTA MARIA LA SALETTE JUWANA.

Sebelum mempunyai gereja St. Maria La Salette Juwana pada tahun 30 - 40 an sudah pernah diadakan Perayaan Ekaristi, walaupun hanya pada waktu Natal bertempat di rumah Bp. S. von Boltog. Kemudian menjelang akhir tahun 1948 mengalami kemajuan, Perayaan Ekaristi ( Misa ) yang biasa dilaksanakan 6 bulan sekali di rumah Bp. FX. Widya Saputra Jalan Silugonggo 14 Juwana menjadi dua kali sebulan pada hari Minggu pertama dan ketiga karena mulai tahun 1949 di Pati mempunyai 2 Pastor yaitu Rm. Stienen, MSF dan Rm.Yacobs, MSF hingga tahun 1956.

Dengan berjalannya waktu, pada tahun 1983 umat Juwana membangun sebuah ruangan sebagai sarana kegiatan umat yang diberi nama SASANA PRADHANA AVE MARIA.
Pada saat Rm. Harsawijaya MSF bertugas sebagai Pastor Pembantu Paroki Pati untuk Juwana beliau menetap dan tinggal di tengah-tengah umat Juwana. Keberadaan Rm. Harsawijaya MSF merupakan anugerah yang berlimpah bagi umat Juwana karena keadaan ini sangat lama di dambakan oleh umat Juwana. Dan tanggal13 April 1994 status Stasi Juwana menjadi Paroki Administatif Juwana. Dengan Susunan Pengurus Dewan Parokinya sebagai berikut:

1. Ketua Umum    : Pastor Paroki
2. Ketua I    : I. Sugeng Pranoto
3. Ketua II    : Alex Pujianto
4. Sekretaris I    : A. Suparlan   
5. Sekretaris II: FF. Triwatiningsih
6. Bendahara I    : Bambang Santoso
7. Bendahara II    : FX. Budi Santoso

Gereja Santa Maria La Salette Juwana, memiliki dua Stasi yaitu Stasi Tlogomojo dan Stasi Jakenan. Menurut Pedoman Dasar Dewan Paroki Keuskupan Agung Semarang tahun 2004 Status untuk Stasi Tlogomojo dan Jakenan menjadi Lingkungan. Mengenai keberadaan LINGKUNGAN Tlogomojo dan gereja SAN INIGO yang terletak kurang lebih 7 Km arah Tenggara dari Juwana dan masuk wilayah kecamatan Batangan pada sekitar tahun 1982 atas bimbingan Bapak A. Kunarso dan Bapak Y. Soedarto (Alm.) serta Pamong-pamong yang lain Lingkungan Tlogomojo berkembang pesat dan menggembirakan, dimulai dengan adanya Doa bersama, Ibadat Sabda dan kemudian Parayaan Ekaristi bersama masih bertempat di rumah warga. Atas kebulatan tekad bersama dengan uang terkumpul Rp 65.000,- dibelilah sebidang tanah untuk lokasi kapel. Waktu itu Pastor Paroki Pati Rm. Marta Wiryana, MSF dan kemudian diganti Rm. PC. Yoedadihardja, MSF (Alm.) dilanjutkan pembangunan gedung gereja di atas tanah ukuran 6 x 9 m yang dirasa cukup menampung umat untuk melaksanakan kegiatan. Atas berkenannya beliau Bapak Uskup Agung Semarang Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ gereja Tlogomojo diresmikan penggunaannya pada 16 Mei 1985 dengan nama GEREJA KATOLIK SAN INIGO. Dari dulu sampai sekarang di Lingkungan Tlogomojo Perayaan Ekaristi diadakan sebulan sekali ( hari Minggu ke dua ) untuk selebihnya dilayani oleh Prodiakon dari Juwana.

Tentang keberadaan Lingkungan Jakenan kurang lebih sejak tahun 1980 ada umat katolik menetap di Kecamatan Jakenan. Sebelumnya mereka selalu mengikuti Perayaan Ekaristi dan kegiatan kerohanian lainnya di Juwana dan di Pati. Semakin lama semakin banyak umat katolik yang menetap di Jakenan dan sekitarnya termasuk di wilayah Kecamatan Pucakwangi, melihat perkembangan umat yang demikian itu maka Rm. PC. Yoedadihardja, MSF ( Alm. ) membeli sebidang tanah dan gedung yang dijadikan kapel dengan harapan Lingkungan Jakenan semakin berkembang. Namun sampai saat ini umat di Jakenan terus berkurang. Ada 3 atau 4 keluarga yang tersisa mereka selalu mengikuti Misa di Gereja Pati.

Dengan berjalannya waktu yang dibarengi dengan pergantian Pastor Paroki serta kebijaksanaan Pastoral dalam hidup menggereja umat, benih-benih iman menghasilkan buah yang berlimpah sebagai nampak pada data berikut ini:

• Tahun 1970 umat Katolik berjumlah 594 Jiwa .
• Tahun 1980 umat Katolik berjumlah 634 Jiwa .
• Tahun 1990 umat Katolik berjumlah 813 Jiwa .
• Tahun 2000 umat Katolik berjumlah 640 Jiwa

Setelah sekitar 50 tahun karya misi dan pastoral dilaksanakan pada tahun 2005 ini umat Paroki Administratif Juwana berjumlah 726 jiwa.

sumber http://www.kas.or.id/?id=160&action=Read

Paroki Stella Maris, Jepara

Posted by OMK Santo Michael On 21.22 No comments
Satu hal yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang, ialah justru di kota Jepara sinilah Gereja Katolik yang pertama dan yang tertua di Jawa Tengah didirikan, yaitu pada tahun 1638 dengan seizin     Sultan Agung. Di seluruh Kesultanannya orang bebas memeluk dan memperkembangkan Agama Katolik. Demikianlah menurut ahli sejarah Oderius. Akan tetapi sayang bahwa orang-orang Belanda dari VOC tidak begitu tolerant seperti Sultan Agung dan karena dikeluarkannya Undang-undang Anti-Katolik oleh J.P. Coen, habis musnahlah riwayat Gereja Katolik kuno Jepara, karena imam-imamnya dibuang ke luarg negeri, umat diangkut dari Jepara ke penjara Batavia dan agama Katolik selanjutnya dilarang.
Baru setelah negeri Belanda dikuasai Napoleon, undang-undang Anti Katolik dibatalkan dan mulailah benih-benih agama Katolik ditaburkan lagi di Jawa Tengah, 27 Desember 1808, pastor pertama J. Priensen tiba di Semarang dan menetap di Gedangan. Meskipun dengan banyak rintangan dari pihak pemerintah, gereja Semarang mulai meluas ke Solo, Magelang dan Ambarawa. Akhirnya pada tahun 1914 menerima izin dari Sri Sultan Yogyakarta penyebaran orang Katolik untuk orang Jawa.

Sejak adanya larangan agama Katolik oleh J.P. Coen, sejarah tidak mencatat adanya bekas-bekas agama Katolik dalam wilayah Jepara. Baru dalam dekade-dekade yang akhir-akhir ini mulailah benih-benih agama Katolik yang ditaburkan dalam tahun 1638 semi kembali, setelah mengalami kematian selama 3 abadm yaitu dengan didirikannya stasi Pecangaan yang dipimpin oleh Pastor Stienen MSF pada tahun 1936. Kecuali sebuah H.I.C.S di Pecangaan, didirikannya sekolah-sekolah Rendah Misi di Krasak, Karangrandu, Troso dan Kedung.

Pada waktu nitu di kota Jepara barau ada beberapa glintir saja orang-orang Katolik asli Jepara dan sejumlah guru-guru, yang kebanyakan datang dari daerah selatan (Solo, Klaten, Yogyakarta,  Muntilan dan Ambarawa). Sebagai orang (tokoh) Katolik yang tertua adalah Sdr. Tan Tjing Sioe. Beliaulah cikal bakal umat Katolik Jepara.

Perang Dunia II berkobar, balatentara Jepang menguasai Indonesia (Ned. Indie). Pastor-pastor dimasukkan dala kamp-kamp konsentrasi. Juga Pastor Stienen. Stasi Pecangaan yang barau mulai tumbuh itu berantakan.

Kalau sebelum perang titik berat aktivitas Katolik ada di Pecangaan, maka setelah Proklamasi beralihlah kegiatan itu ke kota Jepara. Gedung-gedung sekolah Misi di daerah Pecangaan disewa ole Dinas PD&K dan dipakai sebagai SD, sedangkan gedung bekas Pastori Pecangaan yang mula-mula juga disewa oleh Instansi Pemerintah kemudian diminta kembali dan dijadika Gereja, Asrama Guru-guru dan SMP Keluarga.
   
Pada masa perjuangan fisik (1945-1949) karena hubungan dengan Semarang terputus, keperluan rohaniah orang-orang Katolik di Jepara dilayani dari Paroki Purwosari, Sala. Di Kudus dan di Pati pada waktu itu belum ada pastornya. Tiga atau empat bulan sekali Rm. Adisudjono MSF mengadakan perjalanan dinasnya mengunjungi orang-orang Katolik di Jepara dan sekitarnya, melalui Cepu, Blora, Rembang, Pati dan Kudus. Kebaktian diadakan di rumah Sdr. Tan Siong Liep dan kemudian pindah di rmah Sdr. Liem Tiong Swan.
   
Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Negeri Belanda (Desember 1948) dan hubungan pulih kembali maka pastor-pastor menduduki posnya kembali di Paroki Kudus dan Pati, dan Stasi Jepara diurus oleh pastor-pastor dari paroki Kudus, berturut-turut Rm. J. Komen MSDF, Rm. A. de Koning MSF, Rm. Stienen MSF dan Rm. C. Jacobs MSF.
   
Sejak saat itu Stasi Jepara sedikit demi sedikit mulai berkembang. Pada tanggal 1 Agustus 1955, dibuka Taman Kanak-Kanak dan SD Keluarga (yang sekarang TK/SD Kanisius) di Jl. Satusan No. 22, Jepara. Mgr. A. Soegijopranoto SJ, Uskup Agung Semarang, pada tanggal 21 Oktober 1956 berkunjung ke Jepara untuk memberikan Sakramen Penguatan. Pada tahun 1961, Mgr. Soegijopranoto memberkati dan meresmikan Gereja Pecangaan. Sejak itu mulai Pecangaan berdiri sendiri sebagai Stasi. Pada tanggal 24 Maret 1963, terbentuklah Dewan Stasi Jepara yang pertama.
   

Pembangunan Gereja
Setelah terbentuk Dewan Stasi Jepara, Rm. C. Jacobs MSF mulai merintis pembangunan gereja sebagai tempat berdoa umaat yang semakin berkembang pada waktu itu. Pada tanggal 18 Mei 1964 diresmikanlah Gereja Katolik Jepara oleh Romo Kardinal Darmojuwono. Gedung gereja yang ditempati saat ini di Jl. AR/ Hakim 42, adalah mili Yayasan Kanisius yang dalam perencanaannya dipergunakan untuk SMP Kanisius. Dari sinilah mulai dipilirkan untuk mencari tanah baru. Atas kerjasama dengan Keuskupan Agung Semarang, dibeli sebidang tanah di Jl. H.O.S. Tjokroaminoto. Sdr. Yoyok Setiawan dipilih sebagai Ketua Panitia pembangunan. Namun, ada masalah dengan perijinan dari Pemerintah Daerah Jepara, yang menurut informasi, penolakan perijinan dengan alasan lokasi di tempat itu menurut planning kota dipakai sebagai KOMPLEK PERKANTORAN (sekarang didirikan Hotel Jepara Indah). Oleh karena perijinan dipersulit, maka panitia pembangunan memutuskan untuk mendirikan gereja barau dalam satu komplek gereja lama, yakni di Jl. AR. Hakim 41 A, sekarang.

Paroki Administratif
Paroki Jepara disebut sebagai paroki administratif dengan induknya paroki Kudus. Paroki ini berada seluas dengan Kabupaten Jepara. Oleh karenanya tempat tinggal umata terpencar. Sampai dengan tahun 1990-an, paroki Jepara terdiri dari 8 (delapan) Stasi: Welahan, Batealit, Bangsri, Mayong, Keling, Donorojo, Pecangaan, K. Jawa/Kedung/Mlongo dan 4 (empat) wilayah: Yohanes, Paulus, Petrus dan Yoseph. Dalam perjalanan waktu selanjutnya mengalami pengurangan sehingga paroki administratif Jepara sekarang ini terdiri dari 4 Stasi: Mayong, Welahan, Pecangaan dan Bangsri (barau 2 tahun terakhir ini hidup kembali dan 4 wilayah: Yohanes, Paulus, Petrus dan Yoseph.

Sumber : http://www.kas.or.id/?id=156&action=Read

Paroki Hati Yeses Maha Kudus, Purwodadi

Posted by OMK Santo Michael On 21.21 No comments
Purwodadi sebagai Stasi dari Paroki St. Yusuf Gedangan
Pada 1930-an di daerah Purwodadi telah diupayakan kemungkinan membuka sebuah sekolah Katholik. Usaha ini kurang berjalan dengan baik karena tokohnya pak Besut dipindahtugaskan di daerah Yogyakarta. Tahun 1941/1952 Rm. Kanjeng Soegijapranata, SJ melihat adanya perkembangan umat Katholik di Grobogan yang pada waktu itu sudah ada delapan orang yang beragama Katholik. Pada 1953, daerah Purwodadi-Grobogan memperoleh guru-guru dari Colege St. Yosef Ambarawa. Mereka disebar ke pelosok-pelosok yang masih sulit dijangkau oleh kendaraan. Karena luasnya daerah pastoral di daerah Purwodadi-Grobogan, Rm.Soetapanitra, SJ menyerahkan daerah ini pada para rama dari kongrgasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF ).
Purwodadi sebagai stasi  paroki St. Yohanes Penginjil Kudus (1957-1967)
Mulai 1957, daerah Purwodadi menjadi stasi dari Paroki St. Yohanes  Penginjil Kudus. Sebagai bagian dari paroki Kudus, stasi Purwodadi sendiri terdiri dari lingkungan Wirosari, Gundih, dan Godong. Menjelang perayaan Natal  1957, didirikan suatu paguyupan  Rukun Katholik. Pada bulan Juli 1958 berdiri SMP Rukun Katholik yang kemudian  menjadi SMP Yos Sudarso. Pada 1963-1966 ketika partai komunis mulai mempropagandakan ajarannya dan ingin menguasai daerah Purwodadi, umat mengantisipasi kekuatan PKI (1965), umat membentuk satu peleton Pasukan Garuda Pancasila. Bekerjasama dengan Gereja Kristen Jawa, umat membantu pemerintah dalam menumpas PKI. Di Purwodadi antara tahun 1966-1968, terbentuklah paguyuban Warga Minulya, suatu paguyuban ketoprak dan kelompok Laras Madya, suatu kelompok kentrung, slawatan. Bersama itu juga terbentuklah satuan Katekis Amatir yang dipelopori oleh Rm. PC. Yoedodiharjo, MSF dan dilanjutkan oleh Rm. Hastowijoyo,  MSF.

Pada 1967-1968, banyak orang Katholik yang menjabat di pemerintahan ikut serta mengembangkan pembangunan hidup menggereja, namun ada beberapa yang menghalangi perkembangan gereja. Usaha umat untuk mendirikan bangunan Gereja pada 1967 mulai menampakkan hasilnya yang nyata. Sebuah tanah bekas Asisten Residen yang berada di utara alun-alun Purwodadi resmi menjadi tanah untuk Gereja Katholik. Banyak tantangan dalam mendirikan sebuah bangunan Gereja ini. Namun berkat kelincahan dari umat dan Pastor paroki, akhirnya semua rintangan dapat diatasi. Letak tanah seluas 100 × 80 m yang di ajukan paroki diubah oleh team yang dibentuk oleh Gubernur Munadi menjadi 80m  memanjang ke timur dan 80 m  memanjang ke selatan. Selama membangun itulah umat mengadakan novena tiga kali berturut-turut mohon perlindungan dan limpahan berkat dari Hati Yesus Yang Maha Kudus. Pada hari yang ke duapuluh dua, permohonan itu ternyata dikabulkan. Untuk menunjukkan rasa syukur atas terkabulnya permohonan berkat Hati Yesus Yang Maha Kudus, maka nama itu pulalah yang di gunakan sebagai nama paroki dan pelindung paroki Purwodadi.


Purwodadi sebagai paroki  (1968-sekarang)
Perkembangan selanjutnya diwarnai oleh pendidikan sekolah Katholik. Sekolah Katholik selain mengemban tugas mendidik anak-anak dan mencerdaskannya, juga mengemban misi menghadirkan Kristus di tengah masyarakat. Perkembangan baptisan sangat sIgnifikan terjadi pada akhir 1966-970-an. Perkembangan ini dikarenakan terjadinya pembabtisan para tokoh kunci seperti lurah, carik, kasus yang membuat dampak bawahannya juga mengikuti atasannya untuk dibaptis. Perkembangan tahun-tahun selanjutnya tidak lagi mengesankan. Dari data yang terhimpun dalam sensus umat Katholik 1991, umat Katholik berjumlah 2.296 jiwa. Jumlah ini tersebar di lima wilayah dan 15 stasi. Jumlah ini berlainan dengan data statistic pemerintah 1989 yang menyebutkan jumlah umat Katholik 4.377 jiwa. Perkembangan umat diwarnai pula dengan adanya pembagian wilayah baru antara paroki Purwodadi dan Paroki Sendangguwo. Perkembangan selanjutnya mengandalkan baptisan bayi yang biasanya dilakukan minggu ketiga setiap bulan atau ada kesempatan di stasi-stasi serta baptisan dewasa setiap Natal dan Paskah. Dalam perkembangannya terkhir ini, angka kematian relative banyak mengingat kebanyakan umat yang masih tinggal di wilayah dan stasi-stasi adalah orang yang sudah lanjut usia. Sedangkan generasi mudanya pindah ke kota karena studi dan pekerjaan.

Perkembangan karya  kerasulan di Paroki Purwodadi juga semakin hidup seiring dengan pembangunan fisik Gereja. Sebagaimana di jabarkan dalam cita-cita Gereja Purwodadi pada 1991, Gereja Purwodadi mau mengikuti cita-cita keuskupan agung Semarang yang ingin menuju pada umat Allah yang beriman, mendalam, dewasa, misionerdan beriman masyarakat.

Selanjutnya paroki Purwodadi lebih berkutat pada segi kemandirian. Kemandirian dalam ketenagaan dapat dikatakan cukup baik sedangkan kemandirian keuangan masih dalam proses. Dalam keterbatasan tersebut,di paroki sudah berkembang paguyuban-paguyuban yang menggairahkan hidup menggereja. Tanggal 6 Oktober 1993 telah diusahakan perubahan status tanah dari hak guna bangunan menjadi hak milik. Usaha ini untuk mengantisipasi dari kebutuhan pengembangan sarana peribadatan yang sangat di butuhkan umat. Kini dari empatbelas stasi yang ada di paroki Purwodadi, 13 stasi telah memiliki tempat ibadat sendiri atau kapel. Stasi Karangrayung  yang selama ini belum memliki Kapel, umat hanya mengandalkan rumah umat untuk mengadakan misa syukur atau peribadatan.

sumber : http://www.kas.or.id/?id=153&action=Read

Paroki Santo Yohanes Evangelista, Kudus

Posted by OMK Santo Michael On 21.20 No comments
Melihat perlunya gereja sebagai tempat beribadah bagi umat Katolik Kudus, maka Mgr. Lijnen dari paroki Gedangan Semarang mulai merintis pendirian gereja. Tanggal 17 Juni 1911 gedung gereja pertama yang terletak di Jalan Kawedanan (sekarang J1. Diponegoro 19 Kudus) diresmikan oleh pastor P. Neijboer. Pendirian gereja tersebut digunakan sebagai kapel bagi umat Katolik di Kudus. Sampai dengan 1931, umat Kato1ik Kudus masih menjadi bagian umat dari Paroki Gedangan Semarang, dan semenjak 1932 Kudus menjadi stasi dari Paroki Pati. Kudus menjadi stasi dari Paroki Pati dengan pertimbangan, bahwa kota Kudus merupakan bagian dari wilayah karisidenan Pati, selain Rembang, Jepara dan Juana, pertimbangan lain yaitu letak geografisnya lebih dekat dengan Pati, dan juga kota Kudus termasuk daerah propinsi dari misi pastor MSF.
Selama tujuh tahun menjadi stasi paroki Pati, perkembangan umat Katolik Kudus mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah umat ini mendapat perhatian dari Keuskupan Agung Semarang dan menjadi pertimbangan untuk menjadikan stasi Kudus menjadi sebuah paroki. Selain pertimbangan tersebut, umat stasi Kudus dipandang sudah cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan keuangan dan administrasi sebuah paroki. Tahun 1939 Pastor Y. Van Beek, MSF mempersiapkan pendirian paroki Kudus. Gedung yang semula digunakan sebagai kapel kemudian difungsikan menjadi gereja. Gedung gereja di Jalan Kawedanan diresmikan menjadi paroki Kudus pada tanggal 1 Januari 1939, dan pastor pertama yang ditugaskan di Paroki Kudus adalah Pastor J. Vander Steegt, MSF.

Semasa jaman Jepang di Indonesia gereja mengalami goncangan yakni hampir semua gereja kehilangan pimpinan. Demikian pula yang terjadi di paroki Kudus, semua pastor ditawan oleh tentara Jepang di dalam kamp tahanan. Pada saat itu pastor paroki Kudus yang ditawan adalah pastor J. Komen, MSF dan pastor A. de Koneng, MSF. Selama para misionaris Belanda dalam kamp tahanan kegiatan dan karya misi gereja berhenti, begitu juga dengan kegiatan sekolah yang ditangani pastor-pastor Belanda. Pada saat itu pula karya misi gereja mulai ditangani oleh pastor-pastor pribumi. Pastor-pastor pribumi pertama yang baru datang dari negeri Belanda yakni Pastor IM. Haryadi (1944-1945) dan Pastor D. Adisoedjana MSF (l946-1948). Karena tidak mempunyai pastoran lagi, maka apabila berkunjung ke Kudus, para pastor tersebut tinggal di rumah Keluarga Lie Swie Liat (Jl. A. Yani 100 Kudus).

Pada tahun 1952 paroki Kudus mengalami peningkatan jumlah umat, akibatnya gereja pertama di Jalan Kawedanan yang mempunyai daya tampung 300 umat itu, sudah tidak mampu menampung umat lagi. Melihat itu pastor A. de Koneng, yang kembali lagi ke Kudus tahun 1952, mulai merintis pendirian gereja baru. Sebagai langkah awal adalah mencari tanah untuk bangunan gereja. Tidak lama kemudian pada tahun 1953, pastor A. de Koneng menemukan tanah di Jalan Ngantenan (sekarang Jalan Sunan Muria no 6 Kudus). Dahulu pemilik tanah ini adalah seorang Belanda bernama Bushoar, kemudian tanah itu dibeli oleh seorang arab dari Semarang untuk digunakan sebagai asrama. Dari sinilah pastor A. de Koneng bersama dengan Mgr. Albertus Soegijapranata mengadakan pembicaraan dengan orang arab tersebut, dan akhirnya tanah di Jalan Ngantenan dibeli. Dana untuk pembelian tanah berasal dari salah satu umat, yakni keluarga The Tjieng Swan, seorang direktur perusahaan rokok Prawoto. Pembangunan gereja kedua di Jalan Ngantenan dibangun oleh pastor A. de Koneng pada tahun 1954. Dengan bantuan dana dari umat, pembangunan gereja secara keseluruhan selesai pada tahun 1955, dan diberkati oleh Mgr. Albertus Soegijapranata pada tanggal 24 April 1955.

Sebelumnya, yakni tahun 1954, dise1esaikan pembangunan gedung Kanisius (sekarang SDK) di halaman belakang gereja. Pada tahun itu juga sekolah yayasan Kanisius Kudus menjadi sekolah yayasan Keluarga. Gereja di Jalan Kawedanan pun sudah tidak digunakan lagi dan pada tanggal 4 Agustus 1960 dibeli oleh gereja Kristen Jawa (GKJ) atas ijin dari Mgr. Albertus Soegijapranata.

Suatu kenyataan bahwa saat itu paroki belum terbentuk Dewan Paroki, belurn terdapat pembagian wilayah/stasi, katekes sangat terbatas, belum ada organisasi kemasyarakatan Katolik, padahal wilayah paroki gereja St. Yohanes Evangelista meliputi 3 wilayah kabupaten : Kudus, Jepara dan Purwodadi. Akhirnya, dari beberapa pertemuan muncul tokoh-tokoh awam embrio terbentuknya Dewan Paroki dan organisasi kemasya-rakatan Katolik yang kelak menjadi motor penggerak pengembangan gereja. Untuk menambah katekese dan guru agama diadakan kursus katakese selama 1 tahun atas ijin Keuskupan Agung dan digembleng oleh Rm C. Yacobs, MSF dan Rm F.X. Pradjasuta, MSF. Dipilihlah guru-guru muda dan kepala sekolah SDK, SMPK, SMAK untuk mengikuti kursus ini. Dan mereka diwajibkan mengajar agama di kelas, stasi dan wilayah. Dalam bidang organisasi kemasyaratan dibentuklah Partai Katolik, Persatuan Guru Katolik dan Pemuda Katolik, Ikatan Buruh Pancasila, Wanita Katolik dan Gugus Depan khusus Katolik. Semasa di Kudus Rm. Pradjasuta, MSF juga dikenal selalu gigih dalam memperjuangkan hak-hak umat Katolik dengan warga negara yang beragama lain, antara lain hak penguburan jenazah.

Tahun 1965 peristiwa G 30 S PKI meletus. Ada hikmah baik dan buruk bagi pengembangan gereja dan umat Katolik dari peristiwa ini. Ketegangan dan ketidakpastian terjadi, beredar selebaran gelap tentang tokoh-tokoh yang akan dihabisi. Saat itu setiap orang diwajibkan memeluk salah satu agama, banyak orang yang kemudian tertarik menjadi Katolik, muncullah banyak katekumen baru di desa¬-desa. lnilah yang kemudian melahirkan stasi-stasi Tanjungrejo (1966), Rejosari (1968), Ngrangit (1968), Bulung (1968) dan Cranggang. Dalam pengembangan stasi¬-stasi tersebut tidak dapat dilupakan jasa katekis Bapak T. Purwosumarto yang gigih mewartakan injil ke pelosok-pelosok kabupaten Kudus, beliau meninggal dalam kecelakaan sepulang mewartakan Injil di Ngrangit pada September 1972.

Tahun 1971 Rm. A. de Koning, MSF kembali bertugas di Kudus, beliau meninggal dunia dalam perjalanan ke Jepara untuk melayani umat di kota tersebut, maka Rm Cel.v.d. Vlugt, MSF yang sedang cuti di Be1anda langsung kembali menggantikannya walau semula beliau adalah pastor kepala di Salatiga. Pada tahun 1980 beliau digantikan Rm Harry Vermuelen, MSF yang kemudian diangkat menjadi pastor kepala di paroki Rawamangun Jakarta pada Maret 1981.

Kegiatan para awam makin bersemangat, teratur dan terarah. Dewan Paroki mulai tertata dengan pembagian seksi. Tahun 1976 perkembangan paroki secara teritorial baru dimulai ketika terbentuk sepuluh wilayah dalam paroki. Dalam kegiatan liturgi mulai diangkat para Prodiakon pertama sejumlah dua belas orang pada tahun 1982. Dan pada kesempatan yang sama mulai diadakan penyegaran susunan Dewan Paroki dengan pembatasan jangka waktu tugas yaitu tiga tahun.

Kegiatan seperti Koor dan Legio Maria berkembang dengan pesat pada masa bakti Rm F.X. The Tjoen An, MSF. Walaupun sangat pendek, Oktober 1988 - ¬Februari 1990, beliau berhasil memotivasi banyak kalangan untuk terlibat lebih aktif dalam kegiatan Gerejani. Ia pun membimbing umat untuk meneruskan pemugaran gereja yang sudah dimulai Rm. Jeremias Bala Pito Duan serta memindahkan SD Keluarga dari Jalan Sunan Muria 6 ke Jalan Pramuka untuk membangun aula Paroki yang lebih representatif serta pembangunan gereja Mayong. Beliau meninggal 13 Februari 1990 di RS Atmajaya Jakarta tanpa sempat menyelesaikan beberapa proyek pembangunan yang beliau motori. Maka Rm F.X. Dwinugraha Sulistya, MSF yang sejak 1 September 1989 mendampinginya, ditunjuk sebagai pejabat sementara pastor kepala Paroki Kudus dan merealisasikan pembangunan aula yang kemudian diberkati pada tanggal 3 Desember 1990. Pembangunan fisik gereja Kudus terus mengalami perubahan, semasa Rm. R.B. Pranatasurya, MSF juga dibangun pastoran baru dan perluasan sayap gereja untuk menampung lebih banyak umat.

sumber : http://www.kas.or.id/?menu=2&submenu=4&id=152&action=Read

Paroki Santo Yusuf, Pati

Posted by OMK Santo Michael On 21.18 No comments
Gedung gereja dan Pastoran Santo Yusuf Pati terletak di Jalan Kamandowo yang melintang ke arah Utara – Selatan, tepatnya pada Jl. Kamandowo No. 3 Desa Pati Kidul Kecamatan Pati Kota yang berkodepos 59114 dengan nomor telepon (0295) 381772 dan faksimili nomor (0295) 385530.
Di jalan Kamandowo ini ada sebuah bangunan yang megah yaitu Gereja Katolik Santo Yusuf beserta Pastoran dan Aulanya.
Situasi dan kondisi Paroki Pati yang sekarang ini terbentuk dari berbagai pengaruh pergolakan zaman dan revolusi di persada nusantara. Marilah kita lihat secara singkat perjalanan panjang Paroki yang dimulai pada zaman Belanda (1932 – 1941), pada zaman pendudukan Jepang (1942 – 1945), dan pada zaman kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini.

ZAMAN BELANDA (1932 – 1941)
- PENYEBARAN IMAN KRISTIANI
Disamping penyebaran kekuasaan/keperkasaan militer dan perdagangan turut tersebar pula Iman Kristiani ke Indonesia melalui orang-orang Belanda. Mereka merasa terpanggil dan wajib mewartakan Kabar Gembira ke seluruh penjuru dunia. Dari sekita banyak “Misionaris” yang berdatangan ke Indonesia, diantaranya adalah para Misionaris Keluarga Kudus, yang ingin memperkenalkan Keluarga Nazareth kepada dunia, termasuk Indonesia dan memberikan kesaksian bahwa sebenarnya semua bangsa merupakan Satu Keluarga Allah. Konggregasi MSF memulai karyanya di Indonesia khususnya di Pulau Jawa pada tahun 1932, tepatnya pada tanggal 26 Februari 1932 di Kota Semarang.

- STATUS STASI MENJADI PAROKI
Sejak tahun 1932, Pati merupakan suatu Stasi dari Paroki Atmodirono Semarang. Secara berkala Stasi ini dikunjungi oleh para Romo MSF, yaitu Rm N Havenman MSF, Rm AJ Raaymakers MSF, dan Rm J Van der Steegt MSF. Situasi dan status stasi tersebut terus berlangsung sampai mendapat status paroki pada tahun 1934, yang luas wilayahnya meliputi : Pati, Kudus, Jepara, Pecangaan dan Demak. Yang ditunjuk sebagai Pastor Paroki yang pertama adalah Rm N Havenman MSF. Peristiwa inilah yang kita peringati, kita rayakan dan kita syukuri, Hari Ulang Tahun Paroki Santo Yusuf Pati.
Pada tahun 1939, Rm J Van Beek MSF menggantikan Rm N Havenman dengan tambahan tugas yaitu mempersiapkan Stasi Kudus menjadi Paroki yang berdikari. Pada bulan September 1939 Stasi Kudus secara resmi melepaskan diri dari Paroki Pati.

ZAMAN JEPANG DAN KEMERDEKAAN
-PENDUDUKAN JEPANG
Pada masa pendudukan Jepang banyak Imam berkebangsaan Belanda yang ditahan dan dimasukkan ke dalam penjara. Akibatnya paroki-paroki mengalami kekosongan gembala, termasuk paroki pati. Karena itu para Imam Pribumi yang mengisi kekosongan tersebut antara lain Rm IM Haryadi PR dan Rm D Adisoedjana MSF.

-PEMBANGUNAN DAN PEMBERKATAN GEREJA
Peristiwa pemboman Hirosima dan Nagasaki pada tanggal 3 dan 9 Agustus 1945, merupakan kesempatan yang indah bagi bangsa Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. para Imam yang berada dalam tahanan segera dibebaskan dan mulai berkarya seperti semula. Pada tahun 1949 Rm Stiemen MSF kembali menjadi Pastor Paroki Pati untuk yang kedua kalinya dengan tugas khusus membangun gedung Gereja Paroki Pati dan mempersiapkan Stasi Juana. Pembangunan gedung Gereja Pati selesai pada tahun 1954. Pada tanggal 2 Oktober 1954 Gedung Gereja dan Pastorannya diresmikan dan diberkati oleh Mgr Albertus Soegijapranata SJ, Vikaris Apostolik Semarang dan pada saat ini Gereja dan seluruh umat dibawah perlindungan Santo Yusuf.

-NOVISIAT MSF YANG PERTAMA
Pada bulan Agustus 1956 Pastoran Pati menjadi “NOVISIAT MSF JAWA YANG PERTAMA” saat itu ada 7 Novis dan Romo A Van Der Valk MSF yang menjadi Magisternya (dari ketujuh Novis tersebut, yang sekarang masih menjadi Romo adalah Romo P.C.Joedidiharjo MSF). Sebelumnya para calon Imam MSF menjalani tahun Novisiatnyadi Negeri Belanda (Nieuwkrek). Meskipun pada tahun 1957 Novisiat harus pindah ke Yogyakarta, namun Pati boleh berbangga dan merupakan kenangan manis tersendiri, karena BATU PERTAMA PENDIDIKAN CALON ANGGOTA MSF, justru berawal dari Pastoran Gereja Santo Yusuf Pati.

sumber : http://www.kas.or.id/?menu=2&submenu=4&id=151&action=Read
  • Facebook
  • Twitter