Tampilkan postingan dengan label Bina Iman Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bina Iman Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Februari 2013

Arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia 2006-2016
(reposting mas Eko Gamping)

A. PENDAHULUAN

1. Pada awal milenium ini, Gereja Katolik Indonesia telah menyelenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI). Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia disahkan oleh KWI menjadi kebijakan pastoral Gereja Katolik Indonesia. SAGKI 2000 bertema: “Memberdayakan Komunitas Basis Gerejawi dan Insani.” SAGKI 2005 bertema: “Bangkit dan Bergeraklah! Gereja Membentuk Keadaban Publik Baru bangsa.”

2. Seiring dengan kebijakan itu, Komisi, Lembaga, Sekretariat, Departemen (KLSD) KWI sebagai perangkat KWI juga berusaha mengembangkan budaya kerjasama (korporatif) dengan mengedepankan kerjasama lintas-KLSD maupun lembaga-lembaga terkait lainnya. Misalnya pertemuan untuk mencari penegasan Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, yang terselenggara di Wisma Samadi Klender – Jakarta, tanggal 21 – 24 Juni 2006, terjadi atas kerjasama Komisi Kateketik KWI, Komisi Keluarga KWI, Karya Kepausan Indonesia dan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Katolik – Departemen Agama Republik Indonesia.

3. Usaha pembentukan habitus baru dan budaya kerjasama menuntut pertobatan (metanoia). Pertobatan itu mencakup perubahan sikap dan tindakan yang merupakan gerakan pembaruan menuju keadaban publik baru bangsa.

4. Tujuan kebijakan pastoral itu hanya dapat dicapai bila dimulai dengan pembinaan iman anak sejak dini.

5. Berdasarkan kenyataan diatas dan didukung pula oleh sharing pengalaman peserta Pertemuan Mencari Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, maka diperlukan penegasan bersama arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia masa kini.

B. PEMBINAAN IMAN ANAK

6. Anak sebagai subyek.

Anak sebagai pribadi yang berharga dan unik adalah subyek pembinaan. Maka anak harus menjadi fokus reksa pastoral. Yang dimaksud dengan anak disini adalah anak usia dini dan usia Sekolah Dasar (0 – 12 tahun).
7. Anak dalam tahap-tahap pembinaannya.

Dalam usaha pembinaan iman anak, kita harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak sesuai dengan karakteristik dan konteks sosial budayanya. Perlu kiranya diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh secara dominan dalam perkembangan anak yakni: keluarga, sekolah, teman sebaya dan kemajuan teknologi khususnya media.
8. Keluarga

Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica), tempat penyemaian dan pengembangan iman anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Anak dihantar dan dibimbing ke arah iman dewasa (ada keseimbangan antara pengetahuan dan penghayatan iman). Oleh karena orangtua adalah mitra Allah dalam karya penciptaan manusia baru, maka harus menjadi pembina utama dan pertama serta tak tergantikan, melalui kesaksian dan keteladanan hidup kristiani sejati yang diwujudkan dengan pemberian kasih sayang yang tulus, adil dan arif bijaksana (bdk.LG 11; GE 3; FC 50).
9. Pembina iman anak

Pembina iman anak yang utama dan pertama adalah orangtua. Dalam pelaksanaannya, orangtua bekerja sama secara sinergis dan seimbang dengan para pembina iman anak di sekolah, di paroki dan di masyarakat. Pembina iman anak harus memperhatikan martabat dan hak-hak anak.

10. Hirarki

Hirarki sebagai penanggungjawab reksa pastoral Gereja mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk membimbing, mengarahkan dan mendukung sepenuhnya reksa pastoral pembinaan iman anak. Tanggungjawab hirarki dalam reksa pastoral pembinaan iman anak terungkap dalam dokumen-dokumen Gereja universal dan partikular, antara lain:

a. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium art.11, Gaudium et Spes art. 50, Gravissimum Educationis art.3.

b. Catechesi Tradendae, art. 36

c. Familiaris Consortio, art.50

d Kitab Hukum Kanonik 1983, Kan.867.

e. Pedoman Gereja Katolik Indonesia 1995.

f. Hasil SAGKI 2000 yang dikukuhkan Sidang KWI 2000.

g. Hasil SAGKI 2005 yang dikukuhkan Sidang KWI 2005.

C. METANOIA

11. Demi tercapainya pembinaan iman anak yang seutuhnya dan sepenuhnya, diperlukan perubahan-perubahan (metanoia) dalam diri anak dan pelaku reksa pastoral.

a. Anak: menyadari dirinya sebagai subyek yang bertumbuh dan berkembang secara manusiawi dan kristiani serta inklusif sesuai tahap-tahap perkembangan yang dilaluinya.

b. Keluarga/Orangtua: menyadari bahwa keluarga adalah Gereja Rumah Tangga, yang berperan sebagai pembina utama dan pertama.

c. Wali Baptis: meningkatkan tanggungjawabnya dalam proses perkembangan iman anak baptis.

d. Gereja/Komunitas: lebih inklusif dan peduli pada pembinaan iman anak, terutama yang terlantar dalam pembinaan imannya.

e. Hirarki: lebih mendengarkan, melaksanakan dan meningkatkan mutu reksa pastoral sesuai ajaran Gereja.

f. Fasilitator/Para Pembina Iman Anak: membaharui diri terus menerus sebagai saksi Kristus sejati secara aktif-partisipatif.

g. Lembaga-Lembaga Reksa Pastoral: semakin meningkatkan kerjasama dengan membentuk jejaring yang sinergis.

D. REKOMENDASI

12. Dalam rangka sosialisasi dan realisasi arah dasar pembinaan iman anak, peserta pertemuan ini menyampaikan rekomendasi-rekomendasi kepada:
a. KWI

Mohon dukungan sepenuhnya serta kesediaan KWI dalam menindak-lanjuti hasil pertemuan pembinaan iman anak ini, dalam kerjasama lintas KLSD dan KKI demi masa depan Gereja dan bangsa.
b. Uskup Setempat

Mohon dukungan sepenuhnya dalam menindaklanjuti hasil pertemuan ini, dengan memfasilitasi pembinaan iman anak dan memasukkannya dalam program kerja Keuskupan serta mendorong Komisi-Komisi Keuskupan, Pastor Paroki untuk bekerjasama dan terlibat dalam upaya pembinaan iman anak.
c. KomKat, KomKel, KomDik, KomLit KWI, LBI dan KKI

Mohon agar membuat program kerja terpadu dalam pembinaan iman anak, dengan memperhatikan aspek-aspek perutusan dan kerjasama yang sinergis.
d. Ditjen Bimas Katolik

Mohon meningkatkan komitmen dalam pembinaan iman anak serta dukungan dana dan sarana, demi kemajuan bangsa dan negara.

Jakarta, 24 Juni 2006

PARA PESERTA PERTEMUAN PEMBINAAN IMAN ANAK GEREJA KATOLIK INDONESIA

Komisi Kateketik KWI
Komisi Keluarga KWI
Karya Kepausan Indonesia
Ditjen Bimas Katolik

1. Pada awal milenium ini, Gereja Katolik Indonesia telah menyelenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI). Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia disahkan oleh KWI menjadi kebijakan pastoral Gereja Katolik Indonesia. SAGKI 2000 bertema: “Memberdayakan Komunitas Basis Gerejawi dan Insani.” SAGKI 2005 bertema: “Bangkit dan Bergeraklah! Gereja Membentuk Keadaban Publik Baru bangsa.”

2. Seiring dengan kebijakan itu, Komisi, Lembaga, Sekretariat, Departemen (KLSD) KWI sebagai perangkat KWI juga berusaha mengembangkan budaya kerjasama (korporatif) dengan mengedepankan kerjasama lintas-KLSD maupun lembaga-lembaga terkait lainnya. Misalnya pertemuan untuk mencari penegasan Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, yang terselenggara di Wisma Samadi Klender – Jakarta, tanggal 21 – 24 Juni 2006, terjadi atas kerjasama Komisi Kateketik KWI, Komisi Keluarga KWI, Karya Kepausan Indonesia dan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Katolik – Departemen Agama Republik Indonesia.

3. Usaha pembentukan habitus baru dan budaya kerjasama menuntut pertobatan (metanoia). Pertobatan itu mencakup perubahan sikap dan tindakan yang merupakan gerakan pembaruan menuju keadaban publik baru bangsa.

4. Tujuan kebijakan pastoral itu hanya dapat dicapai bila dimulai dengan pembinaan iman anak sejak dini.

5. Berdasarkan kenyataan diatas dan didukung pula oleh sharing pengalaman peserta Pertemuan Mencari Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, maka diperlukan penegasan bersama arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia masa kini.

B. PEMBINAAN IMAN ANAK

6. Anak sebagai subyek.

Anak sebagai pribadi yang berharga dan unik adalah subyek pembinaan. Maka anak harus menjadi fokus reksa pastoral. Yang dimaksud dengan anak disini adalah anak usia dini dan usia Sekolah Dasar (0 – 12 tahun).
7. Anak dalam tahap-tahap pembinaannya.

Dalam usaha pembinaan iman anak, kita harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak sesuai dengan karakteristik dan konteks sosial budayanya. Perlu kiranya diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh secara dominan dalam perkembangan anak yakni: keluarga, sekolah, teman sebaya dan kemajuan teknologi khususnya media.
8. Keluarga

Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica), tempat penyemaian dan pengembangan iman anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Anak dihantar dan dibimbing ke arah iman dewasa (ada keseimbangan antara pengetahuan dan penghayatan iman). Oleh karena orangtua adalah mitra Allah dalam karya penciptaan manusia baru, maka harus menjadi pembina utama dan pertama serta tak tergantikan, melalui kesaksian dan keteladanan hidup kristiani sejati yang diwujudkan dengan pemberian kasih sayang yang tulus, adil dan arif bijaksana (bdk.LG 11; GE 3; FC 50).
9. Pembina iman anak

Pembina iman anak yang utama dan pertama adalah orangtua. Dalam pelaksanaannya, orangtua bekerja sama secara sinergis dan seimbang dengan para pembina iman anak di sekolah, di paroki dan di masyarakat. Pembina iman anak harus memperhatikan martabat dan hak-hak anak.

10. Hirarki

Hirarki sebagai penanggungjawab reksa pastoral Gereja mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk membimbing, mengarahkan dan mendukung sepenuhnya reksa pastoral pembinaan iman anak. Tanggungjawab hirarki dalam reksa pastoral pembinaan iman anak terungkap dalam dokumen-dokumen Gereja universal dan partikular, antara lain:

a. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium art.11, Gaudium et Spes art. 50, Gravissimum Educationis art.3.

b. Catechesi Tradendae, art. 36

c. Familiaris Consortio, art.50

d Kitab Hukum Kanonik 1983, Kan.867.

e. Pedoman Gereja Katolik Indonesia 1995.

f. Hasil SAGKI 2000 yang dikukuhkan Sidang KWI 2000.

g. Hasil SAGKI 2005 yang dikukuhkan Sidang KWI 2005.

C. METANOIA

11. Demi tercapainya pembinaan iman anak yang seutuhnya dan sepenuhnya, diperlukan perubahan-perubahan (metanoia) dalam diri anak dan pelaku reksa pastoral.

a. Anak: menyadari dirinya sebagai subyek yang bertumbuh dan berkembang secara manusiawi dan kristiani serta inklusif sesuai tahap-tahap perkembangan yang dilaluinya.

b. Keluarga/Orangtua: menyadari bahwa keluarga adalah Gereja Rumah Tangga, yang berperan sebagai pembina utama dan pertama.

c. Wali Baptis: meningkatkan tanggungjawabnya dalam proses perkembangan iman anak baptis.

d. Gereja/Komunitas: lebih inklusif dan peduli pada pembinaan iman anak, terutama yang terlantar dalam pembinaan imannya.

e. Hirarki: lebih mendengarkan, melaksanakan dan meningkatkan mutu reksa pastoral sesuai ajaran Gereja.

f. Fasilitator/Para Pembina Iman Anak: membaharui diri terus menerus sebagai saksi Kristus sejati secara aktif-partisipatif.

g. Lembaga-Lembaga Reksa Pastoral: semakin meningkatkan kerjasama dengan membentuk jejaring yang sinergis.

D. REKOMENDASI

12. Dalam rangka sosialisasi dan realisasi arah dasar pembinaan iman anak, peserta pertemuan ini menyampaikan rekomendasi-rekomendasi kepada:
a. KWI

Mohon dukungan sepenuhnya serta kesediaan KWI dalam menindak-lanjuti hasil pertemuan pembinaan iman anak ini, dalam kerjasama lintas KLSD dan KKI demi masa depan Gereja dan bangsa.
b. Uskup Setempat

Mohon dukungan sepenuhnya dalam menindaklanjuti hasil pertemuan ini, dengan memfasilitasi pembinaan iman anak dan memasukkannya dalam program kerja Keuskupan serta mendorong Komisi-Komisi Keuskupan, Pastor Paroki untuk bekerjasama dan terlibat dalam upaya pembinaan iman anak.
c. KomKat, KomKel, KomDik, KomLit KWI, LBI dan KKI

Mohon agar membuat program kerja terpadu dalam pembinaan iman anak, dengan memperhatikan aspek-aspek perutusan dan kerjasama yang sinergis.
d. Ditjen Bimas Katolik

Mohon meningkatkan komitmen dalam pembinaan iman anak serta dukungan dana dan sarana, demi kemajuan bangsa dan negara.

Jakarta, 24 Juni 2006

PARA PESERTA PERTEMUAN PEMBINAAN IMAN ANAK GEREJA KATOLIK INDONESIA

Komisi Kateketik KWI
Komisi Keluarga KWI
Karya Kepausan Indonesia
Ditjen Bimas Katolik


https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/185572631479805/

Sekolah Minggu

Posted by OMK Santo Michael On 11.41 No comments
Sekolah Minggu
(Sebuah kisah lama, smeoga menyemangati kita semua !)

Bocah-bocah dusun di lingkungan St. Antonius Sendangsari bernyanyi-nyanyi dengan gembira. Mereka nampak nongkrong di pembatas jembatan kecil di pinggir jalan Sumberlawang. Beberapa mudika dan bapak ibu nampak berbincang tak jauh dari anak-anak itu.
Nah, itu dia Pak Kardi.
“Pak Kardi datang”. Seru seorang anak. Segera saja belasan anak berlarian ke jalan. Sebuah pick up tua berwarna merah mendekat. Sesaat kemudian, Pak Kardi yang mulai beruban dengan senyum yang khas penuh kebapakan turun menyapa anak-anak itu.
“Ayo naik, naik”
tanpa disusruh dua kali anak-anak Sendangsari pun berebutan naik ke bak belakang mobil merah itu.
“kamu ikut kan, John ?” Tanya Anna.
“Yo”
Keduanya pun lantas meloncat masuk ke dalam bak, bergabung bersama kanak-kanak yang gembira.
“Sudah siaaaaaaaappppp ?” Pak Kardi berteriak bertanya.
“Siiiaaaappp komandan.” Seru anak-anak itu kompak.
Glodhag, glodhag. Dan mobil pun bergoyangan bergerak perlahan Anak-anak itu pun melambaikan tangan pada orang tua-orang tua mereka yang mengantar di tepi jalan, juga pada beberapa kakak mudika yang ikut berkumpul pagi itu. Nendra dan Anton nampak mendampingi dengan motor-motor mereka.
Siapa tak senang dolan setiap minggu pagi, dengan mobil bak terbuka berkelana ke sana kemari melintas sawah-sawah merambah dusun demi dusun ? Itulah yang dilakoni anak-anak St. Antonius Sendangsari tiap minggunya. Tapi mereka bukan sekedar dolan. Mereka bertualang untuk mengikuti sekolah minggu di gereja stasi mereka. Sebuah gereja mungil yang terletak di lereng bukit agak jauh dari dusun mereka tinggal.

Dan anak-anak itu sangat senang pada Pak Kardi. Yang walaupun kadang galak, namun setia menjemput dan mengantar mereka. Demikian juga segenap warga Sumberlawang. Maka ketika Pak Kardi sakit seluruh stasi pun sepertinya ikut merasakan kesedihan. Benar memang Pak Alex lalu menggantikan untuk sementara peran Pak Kardi, namun toh tak mungkin seakrab dan sehangat sapaan Pak Kardi yang khas dengan gigi ompongnya itu.
Dan Pak Kardi adalah seorang pensiunan yang dengan setia mengisi minggu paginya dengan menjemputi kanak-kanak yang belia itu. Tak hanya anak-anak Sendangsari, namun juga Kalisari, Tlagasari, Tuksari, hingga Ranusari. Dan karena itu kadang-kadang Pak Kardi harus mengitari trayeknya dua atau tiga kali agar semua bocah Sumberlawang dapat bertemu dengan Kristus dan sahabat-sahabat dalam iman. Kadang-kadang ia ditemani Pak Barjo, seorang guru desa di Dusun Beliksari. Pak Dar dan beberapa bapak lain kadang mengawal dengan motor mereka. Demikian juga beberapa mudika nampak setia mengiringi adik-adik mereka. Dan jadilah sebuah konvoi unik tiap minggu pagi di jalan-jalan dusun-dusun Sumberlawang.
Aku diberkati, sepanjang hidupku diberkati, mulai dari bangun pagi, saing berganti malam aku diberkati….” Terdengar nyanyi gembira bocah-bocah itu. Anna pun ikut bernyanyi dengan riang. John yang meski telah diajari berkali-kali  tetap tak mampu mengambil nada yang tepat, lebih memilih menggeleng-geleng kepala sambil bertepuk tangan. “Penghayatan estetikmu kurang sih” komentar Anna suatu kali. “Coba bibirmu lebih maju”.
Tapi segala daya upaya nampak sama saja. John pun menyerah dengan usahanya, dan kini nampak berpasrah, lebih menikmati kegembiraan bersama di tengah-tengah mereka.

“Gimana Pak, Bu Darmi sudah sehat atau belum ?” tanya Pak Barjo yang kebetulan menemani Pak Kardi pagi itu, menyapa Pak Darmo, sembari menunggu kanak-kanak Dusun Tlagasari menaiki mobil.
“Pangestunipun, Pak. Sudah agak lumayan”
“Sudah jadi periksa ke Solo kan ?”
yang ditanya mengangguk-angguk.

Tapi pagi itu Pak Barjo tak bisa menemani hingga mereka tiba di gereja stasi, ia turun di perempatan dekat makam dusun, “Saya pamit dulu ya, saya harus mampir ke rumah bulik Sri.”
“Lha ada apa to Pak ? Tanya John.
“Itu lho persiapan mantu si Warni”
Di perempatan di depan, Pak Barjo pun turun. Mobil kini kembali bergoyangan melewati jalan dusun yang mulai rusak dan menamjak.
“Mestinya ya sudah diaspal lagi. Wong jalan penting kayak gini kok lubangnya ndak karuan.” Terdengar umpatan Nendra. Pak Kardi tertawa. Ia berkata,
“Besok, habis panen ini kita usul ke Pak Kadus, gimana ?”

Sesaat kemudian mereka tiba di Stasi.
“Ayooooo turun, turun, turun !!!” Seru Anna sembari berdiri di bak belakang. John sendiri sudah berada di bawah. Ia menyambut membantu setiap anak-anak yang berlompatan turun. Tentu agak sudah bagi mereka yang terlalu kecil untuk turun dari mobil. Mereka mempercayakan diri pada tangan-tangan muda yang menopangnya. Tapi seorang yang terakhir nampak sungkan malu-malu.
“Aku bisa turun sendiri, Oom John ! “ terdengar suara lembut dari atas bak. John pun mendelik. Oops, itu Anna.
Biasanya Anna akan dengan cerewet menyemburkan aneka kosakata. Tapi pagi itu, entah kenapa, gadis manis itu tersenyum. Dan John pun kehilangan kata-kata.

Beberapa mudika nampak sudah sibuk menyiapkan tempat. Kebetulan tak ada misa minggu pagi di stasi, karena perayaan ekaristi telah dipersembahkan hari Sabtu sore sebelumnya. Dan pagi ini giliran lingkungan St. Paulus yang mengisi sekolah minggu. Kang Bambang sudah siap dengan guyon kocak habis-habisannya (ia nampak sibuk berlatih dengan beberapa anak yang sudah hadir di sana). Sementara itu, Wisnu bersiap-siap dengan gitarnya. Ia nampak begitu serius menyetem gitar. Ini menjadi obyek yang menarik bagi beberapa anak cerdas kreatif yang berbakat seni. Tak butuh lima belas menit untuk memindahkannya ke papan tulis stasi, lengkap dengan segala distorsi bentuk dan komentar pelengkapnya.

Mereka, keluar lagi untuk menjemput tiga anak-anak lagi di dusun sebelah. Kali ini Pak Kardi, Anna, dan John yang memang koordinator urusan penjemputan, ditemani Niken dan Nanang. Itung-itung bertualang, kata mereka.
Di sana, di dusun Kalisari, di depan sebuah rumah dengan warung kecil di depannya, Gaby, Prita, dan Vina sundah menunggu. Bu Warsi nampak sibuk dengan bagor berisi dagangannya.
“Lho, Bu Warsi mau ikut juga ?  Kok tumben.” Komentar Nanang dari atas motornya.
“Iya je le, mumpung ada tumpangan gratis. Nanti mampir ke Pasar Legi ya, Pak Sopir ya.” Sahut bu Warsi dengan senyum kocak.
“Oalah, mau ke pasar to ?” Si nenek pun meringis.
“He he he, boleh dong nenek-nenek kreatif.”
Para mudika itu hanya melongo.

“Iya, nanti jangan lupa oleh-oleh buat Andien ya mbah ya ?” Kata Andien kecil.
“Iya, buat Carlo juga, mbah.”
“Andi juga”
“:Klisti, Mbah.” Terdengar suara cadel.
“Toni”                                                                       
“Wal ketan juruh ya”
“Bayu minta thiwul
“Robert tape ya mbah”
Lalu terdengar suara riuh bocah-bocah itu.

Dan simbah pun terkapar.


Sabtu pagi, Juni 2004
dari kisah seorang teman.
WebRepOverall rating 


https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/185892481447820/

Rabu, 16 Januari 2013

Bina Iman Anak

Posted by OMK Santo Michael On 00.54 No comments
BINA IMAN ANAK
Saudara terkasih, betapa pentingnya kasih sayang yang kita curahkan kepada anak-anak, cinta kita lebih berarti dari uang. Perhatian, kasih sayang, masih kurang jika tidak mau memperlajari perkembangan anak tersebut. Perlu diingat masa kecil adalah landasan pendidikan (Iman, perilaku, budi pekerti, dll) untuk masa depannya, jadi sangatlah penting. Kami sekedar merangkum tulisan perkembangan anak 3-5, 6-8, 9-11 tahun, dan apa yang harus kita lakukan dalam perkembangan anak tersebut. Banyak keluarga sekarang lebih memberi beban pada pengasuh ... itu salah, kasih sayang kita sebagai keluarga lebih dibutuhkan.
Perkembangan dan Implikasi untuk Pembinaan Anak 3-5 tahun.
Perkembangan Fisik
1. Sangat aktif, selalu bergerak, fisik anak akan bertumbuh dengan pesat.
2. Ia lebih suka melakukan sesuatu daripada menjadi penonton.
3. Ia belum dapat tahan pada aktivitas yang terlalu lama.
4. Bertumbuh dengan pesat; otot besar berkembang lebih dulu daripada otot kecil.
5. Mudah terserang penyakit.

Implikasi Pembinaan
1. Ruangan Sekolah Minggu sebaiknya tidak sempit.
2. Sediakan waktu untuk mengambar memilih nyanyian dengan gerakan, permainan jari, drama.
3. Menyusun acara SM yang bervariasi, cerita Alkitab 5-10 menit saja.
4. Pekerjaan yang halus (mengunting) belum dapat dikerjakan dengan teliti.
5. Perhatikanlah anak yang kurang sehat.

Perkembangan Sosial
1. Egosentris, belum melihat dan mengerti orang lain.
2. Orientasi utama ialah terhadap keluarga (orang tua, kakak, adik).
3. Menuntut perhatian, ingin dipuji.
4. Membutuhkan dukungan.
5. Maju dalam hal bermain bersama anak lain.

Implikasi Pembinaan
1. Berilah cukup perhatian kepada setiap anak; sebaiknya mereka duduk dalam lingkaran.
2. Kenalkan orang tua dari setiap anak kecil, kunjungilah keluarganya. Bercerita mengenai keluarga dalam Alkitab.
3. Pujilah dia, asal jangan berlebihan.
4. Apa yang benar dan baik dapat didukung.
5. Berilah kesempatan bergaul dengan kawan sebaya.
6. Setialah pada kelasmu, jangan terlalu banyak ganti guru. Berilah batas-batas tertentu dalam SM tetapi terbuka juga untuk perubahan.

Perkembangan Mental
1. Pengertian akan kata-kata bertambah tetapi masih terbatas.
2. Pengertian tentang jarak dan waktu masih sangat terbatas.
3. Daya tahan konsentrasi sangat terbatas.
4. Mengerti hal yang nyata.
5. Dapat menghafal tetapi belum mengerti artinya dan juga cepat lupa.
6. Memberi respon terhadap rangsangan intelek.
7. Belajar melalui menirukan orang lain.
8. Selalu ingin tahu.
9. Daya khayal kuat, kadang-kadang sulit membedakan kenyataan dan khayalan sangat kreatif, suka membuat cerita sendiri.
10. Belajar melalui semua panca indera; melihat, meraba, merasa, mencium,mendengar.

Implikasi Pembinaan
1. Pakailah kata-kata yang sederhana, ulangi kata-kata baru, ucapan perlu jelas.
2. Tidak usah menyebut kilometer atau fakta sejarah.
3. Minta perhatian untuk waktu tertentu saja, kemudian ganti aktivitas.
4. Berbicaralah hal yang konkrit.
5. Bahan hafalan (doa, nyanyian, ayat Alkitab) harus jelas dan sederhana, sering diulangi dan dibahas ulang, sehingga pengertian bertambah.
6. Pakailah kata-kata baru, nyanyian baru (yang sederhana).
7. Jadilah teladan yang dapat ditiru. Hentikanlah kelakuan anak yang kurang baik, sebelum dicontoh oleh anak lain.
8. Jawablah dengan sabar semua pertanyaan.
9. Dengarkanlah baik-baik kalau seorang anak kecil bercerita untuk mengerti alam pikirannya. Cegahlah kalau berlebihan. Pakailah daya khayal dalam drama spontan.
10. Susunlah ruangan sedimikian dan bawa alat peraga, supaya ada rangsangan untuk panca indera.

Perkembangan Emosional
1. Emosi yang dialami pada umur ini sangat kuat, tetapi kesanggupan untuk mengontrolnya belum begitu berkembang.
2. Emosi anak kecil belum stabil dan sering berubah, mudah menangis, mudah tertawa.
3. Anak kecil sering mengalami rasa takut. Rasa takut ada emosi yang wajar dalam proses berkembang.
4. Anak kecil bisa marah dan meledak, kalau terlalu banyak halangan dan larangan.
5. Dapat menunjukkan rasa jengkel, kalau merasa dirinya sanggup, padahal belum. Akibatnya kecewa dengan hasil pekerjaannya.
6. Mudah iri hati, kalau anak lain diperhatikan khususnya adik yang masih kecil.
7. Sering menangis sambil meminta sesuatu.
8. Senang dalam alam semesta, mengagumi bunga, binatang, pemandangan.
9. Senang dengan makanan enak.
10. Dapat sayang kepada orang yang dekat kepadanya, juga dapat menunjukkan belas kasihan kepada anak lain.

Implikasi Pembinaan
1. Ciptakanlah suasana yang tenang, tetapi gembira. Sebagai orang dewasa perlu mengontrol emosi sendiri.
2. Kalau emosi negatif, tunjukkan perngertian, kemudian coba membelokkan emosi itu kearah yang positif: berikanlah aktivitas baru.
3. Hiduplah dekat pada anak untuk mengetahui apa yang ditakuti dan lindungi dia. Berilah penjelasan kalau yang ditakuti tidak beralasan. Jangan sekali-kali menakut-nakuti anak supaya tunduk.
4. Berilah seperlunya saja larangan serta penjelasan. Ledakan/tangisan jangan dibiasakan sebagai senjata/alat untuk mendapatkan sesuatu yang diingini.
5. Memberanikan untuk mengerjakan sesuatu tanpa mengharapkan hasil yang sempurna; perhatikan setiap pekerjaan dengan interes sekalipun belum sempurna.
6. Berilah pengertian, perhatian dan kasih; mengajak untuk berbuat baik terhadap anak lain atau anak kecil lain.
7. Berilah petunjuk bahwa ia boleh minta, tanpa menangis/paksaan.
8. Ajarlah bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah, sehingga anak belajar memuji Allah.
9. Ajarlah untuk berterima kasih atas segala makanan.
10. Biarkanlah dia mengekpresikan rasa sayang kepada anak lain; ajarlah dia berdoa buat teman lain.

Perkembangan Rohani
1. Mudah percaya.
2. Ikut kepercayaan orang tuanya.
3. Mulai membedakan yang benar dan yang salah.
4. Mengasihi Allah sebagai Pencipta dan Pemberi segala sesuatu yang baik, sebagai Tuhan yang dapat menolong.

Implikasi Pembinaan
1. Apa yang diajar harus benar, agar layak dipercaya/tidak menyesatkan.
2. Orang tua harus menjadi teladan yang baik. Guru SM mengusahakan hubungan yang baik dengan orang tua anaknya.
3. Ajarlah bahwa Allah mau supaya kita melakukan yang baik, Tuhan mau mengampuni kesalahan kita.
4. Memimpin anak untuk menyembah Allah sebagai Pencipta, Pembinam, Penolong.

Perkembangan dan Implikasi untuk Pembinaan Anak 6-8 tahun.
Perkembangan Fisik
1. Bertumbuh pesat, lengan dan kaki panjang tungkai kurus, kemudian jadi gemuk.
2. Gigi susu ganti gigi tetap.
3. Penuh energi, suka bergerak dan aktif sekali, lama-kelamaan keaktifan lebih terarah.
4. Masih senang berlari-lari.

Implikasi Pembinaan
1. Perlu makanan yang bergizi, dan cukup banyak istirahat, aktivitas ramai berselang-seling dengan aktivitas tenang.
2. Jagalah terhadap gula-gula/permen.
3. Latihlah, melalui permainan sepak bola atau permainan lain, berenang, dsb.
4. Permainan dibutuhkan sebagai selingan belajar, bekerja, dan bermain harus seimbang.

Perkembangan Sosial
1. Masih merasa dekat dengan orang tua. Senang dalam keluarga mereka.
2. Hormat dan segan kepada guru.
3. Dapat menyesuaikan diri dengan teman sebaya, sifat egosentris mulai hilang dan diganti dengan kesanggupan untuk mengerti.
4. Belajar berdiri sendiri, bila perlu membela diri.
5. Kurang sabar terhadap anak kecil.
6. Belum tahu "kalah dengan hormat".

Implikasi Pembinaan
1. Carilah kontak yang baik dengan orang tua. Kunjungilah keluarga mereka.
2. Janganlah mengecewakan mereka.
3. Berilah banyak kesempatan untuk bergaul dengan teman sebaya, ajarlah agar saling mengerti.
4. Guru harus dekat dengan mereka bila mereka bertengkar, ia perlu berfungsi sebagai jembatan perdamaian.
5. Ajarlah mereka untuk mengerti anak kecil.
6. Belum waktunya untuk mengadakan banyak perlombaan, lebih baik mengajarkan kerja sama.

Perkembangan Mental
1. Konsentrasi tahan lebih lama, mereka sanggup mengikuti pelajaran di sekolah sampai 43 menit.
2. Dapat mengikuti instruksi guru dan mengerjakan tugas tertentu.
3. Bertumbuh dalam hal tanggung jawab karena dapat lebih mengerti.
4. Senang mendengar cerita, meskipun sudah dapat membaca.
5. Belajar membaca, menghitung, menulis.
6. Belum mengerti hal yang abstrak. Cara berfikir berdasarkan hal yang konkrit.
7. Belum mempunyai pendapat sendiri, masih bergantung dari pendapat orang dewasa, orang tua, guru.

Implikasi Pembinaan
1. Mengharapkan/antisipasi mereka untuk duduk tenang selama bercerita, kemudian diberi kesempatan untuk bergerak.
2. Berilah tugas, seperti mengulangi ayat hafalan atau cerita.
3. Berilah tanggung jawab sesuai kemampuan.
4. Jadikanlah cerita Alkitab pusat pelajaran di SM.
5. Pakailah alat peraga dengan huruf yang jelas.
6. Pakailah kara-kata dan contoh-contoh berdasarkan hal yang konkrit dan sederhana.
7. Tidak harus ditawarkan banyak keputusan. Berilah contoh yang baik dalam kelakuan dan perkataan, dan menantikan mereka meniru contoh itu.

Perkembangan Emosional
1. Lebih stabil, tetapi mudah gelisah, gugup, kadang-kadang putus asa.
2. Pada permulaan anak merasa kuatir, belum bisa, lama-kelamaan lebih yakin akan diri sendiri.
3. Kurang sabar terhadap diri sendiri.
4. Membesar-besarkan.
5. Dapat merasakan perasaan teman lain juga perasaan orang tua.

Implikasi Pembinaan
1. Usahakan suasana yang tenang, ramah. Anak tidak boleh ditertawakan.
2. Berilah tugas yang tidak terlalu sulit. Memberanikan anak dalam segala hal yang terasa sulit.
3. Ajarlah dia bekerja dengan tenang dan menyelesaikan apa yang dimulai dengan teliti.
4. Membetulkan fakta tanpa mempermalukan.
5. Ajarlah dia untuk mengekspresikan rasa sayang dan juga menolong kawan dalam kesulitan, termasuk orang tua.

Perkembangan Rohani
1. Mereka senang datang ke SM.
2. Kenal akan Allah, mulai bertanya tentang surga, neraka dan kematian.
3. Senang menghafal ayat firman Tuhan.
4. Sudah sadar akan dosa.
5. Mengasihi Yesus sebagai teman dan penolong.
6. Mereka memiliki iman sederhana, dan dapat dibimbing untuk menerima Tuhan Yesus.
7. Anak umur ini seperti tanah liat kalau menerima firman Tuhan, tetapi seperti batu yang keras dalam memegang apa yang telah diterima.

Implikasi Pembinaan
1. Jagalah supaya kesenangan ini tetap melalui persiapan yang matang dan pelajaran yang menarik, suasana kasih, tertib.
2. Jawablah setiap pertanyaan dengan jujur.
3. Berilah ayat hafalan setiap pelajaran. Jagalah bahwa ayat tidak terlalu sulit/panjang.
4. Ajarlah bahwa Tuhan membenci dosa, tetapi mengasihi anak berdosa dan bersedia mengampuni.
5. Ajarlah banyak tentang Tuhan Yesus.
6. Memberi kesempatan untuk dapat menerima Tuhan Yesus secara pribadi.
7. Ajarlah hal yang besar dengan cara terbaik karena mereka mengalami masa perkembangan yang baik sekali untuk "menerima dan memegang".

Perkembangan dan Implikasi Pembinaan Anak 9-11 tahun.
Perkembangan fisik:
1. Aktif/penuh kegiatan, badan kuat dan seimbang, suka mengembara di alam terbuka, senang berolah raga.
2. Tertarik kepada orang yang kuat dan cakap, olahragawan sebagai pahlawan tetapi juga tokoh-tokoh yang berhasil di bidang lain.
3. Lebih senang bermain daripada bekerja, khususnya kalau pekerjaannya tidak sesuai dengan selera.
4. Suka berkelahi karena bersaing.

Implikasi Pembinaan:

1. Berilah kesempatan untuk petualangan, tantanglah dia melalui aktivitas di alam terbuka, berilah kesempatan berolah raga sesuai dengan kesanggupan yang ada.
2. Ceritakanlah tentang pahlawan-pahlawan iman dari Alkitab yang "berhasil", meskipun mereka juga menderita.
3. Tantanglah mereka, supaya mereka selesaikan pekerjaan dengan sebaik mungkin, kemudian mereka diijinkan bermain.
4. Mengadakan perlombaan yang kreatif, dan ajarlah konsep "kalah dengan hormat".
Perkembangan Fisik
1. Masih tunduk terhadap pemimpin, tetapi coba mengujinya melalui memberontak.
2. Rindu pemimpin yang tegas, berani dan berwibawa.
3. Akan mendendam kalau diperlakukan tidak adil.
4. Setia kawan, suka berkelompok dalam "gang". Anak yang kurang berani atau kurang kuat dijauhkan.
5. Mulai tertutup terhadap orang tua, tahu menyimpan rahasia.
6. Mulai menjauhi jenis kelamin lain.

Implikasi Pembinaan
1. Jadilah pemimpin yang cerdas dan yakin (persiapan yang memadai) dan mempertahankan disiplin dan suasana saling menghormati dalam kelas.
2. Tantanglah mereka, sebelum mereka menantangmu! Kewibawaan berasal dari hidup berdisiplin sendiri dan bergaul dengan Tuhan.
3. Memperlakukan mereka dengan adil.
4. Cobalah untuk mengenal dan memenangkan "kepala" kelompok, supaya dia menjadi penolong. Ajarlah mereka memperhatikan anak-anak yang lemah.
5. Cobalah untuk mendapat kepercayaan mereka tanpa memaksa mereka. Jadilah teman mereka, kakak!
6. Biarlah mereka duduk terpisah, tapi jagalah suasana saling menghormati.

Perkembangan Mental
1. Konsentrasinya baik, mudah menghafal.
2. Suka akan penyelidikan, berusaha mencari jawaban sendiri.
3. Ingin mengetahui tentang negara dan kebudayaan negara lain.
4. Memperkembangkan pendapat sendiri.
5. Senang mengadakan koleksi, misalnya perangko, kupu-kupu, serangga, ...
6. Mempunyai pengertian tentang keadilan.
7. Ingin bebas, menentang paksaan.
8. Biasanya percaya diri.

Implikasi Pembinaan
1. Merencanakan bahan hafalan yang berguna.
2. Mereka dapat diaktifkan untuk mencari jawaban sendiri dalam Alkitab atau bacaan lain.
3. Sajikan cerita misi dan cerita-cerita dari orang Kristen di negara lain.
4. Berilah kesempatan untuk bertanya, berdiskusi.
5. Memberanikan mereka untuk membagikan pengalaman tentang koleksi mereka.
6. Berlakulah adil dalam segala hal, menekankan keadilan dan sifat adil dari Tuhan.
7. Berilah kebebasan tanpa menghilangkan disiplin.
8. Meskipun mereka tampak yakin dan berani, ajarlah mereka supaya hidup bergantung dari Tuhan.

Perkembangan Emosional
1. Mereka masih senang diperhatikan, tetapi canggung menerima kasih yang dinyatakan secara terang-terangan.
2. Mereka biasanya merasa aman; tidak banyak hal yang menakutkan mereka. Dan kalau takut, mereka segan mengakuinya.
3. Dapat cepat marah, tetapi emosi marah tidak lama.
4. Senang humor, tetapi kadang-kadang tidak tahu batas dan menyakiti orang lain dengan lelucon yang tidak pada tempatnya.

Implikasi Pembinaan
1. Berilah perhatian pribadi kepada mereka, tanpa menonjolkan perhatian itu di depan kawan sebaya mereka.
2. Coba mengerti, dimana ada segi-segi yang membuat mereka merasa kurang aman, bicarakanlah tentang hal itu tanpa memancing pertanyaan, berilah kenyataan saja.
3. Tetap tenang, meskipun kena letusan marah, baru berbicara, kalau rasa marah berkurang.
4. Jangan tunjukkan sikap terlalu serius, pakailah humor di mana mungkin, tetapi ajarlah juga di mana batasan lelucon; ajarkan mereka ikut merasakan perasaan orang lain.

Perkembangan Rohani
1. Banyak pertanyaan tentang hidup sebagai orang Kristen, apa yang tidak boleh.
2. Masih senang datang ke Sekolah Minggu, khususnya kalau boleh aktif dan senang dengan guru.
3. Senang dengan cerita Alkitab tentang pahlawan iman dan sejarah bangsa Israel.
4. Suka melakonkan drama spontan, juga menyanyi dalam koor.
5. Tidak terlalu beremosi dalam kerohaniannya.
6. Terbuka terhadap perkara-perkara rohani, dan dapat diajar tentang pertobataan dan keselamatan.
7. Mereka tahu akan akibat dari perbuatan yang tidak baik/dosa dan takut akan akibat itu.
8. Sering mereka menetapkan tujuan moral yang terlalu tinggi.
9. Anak besar membutuhkan dorongan untuk membaca Alkitab pribadi tiap hari.

Implikasi Pembinaan
1. Pakailah segala kekayaan Alkitab khususnya sepuluh Hukum, untuk menanamkan suatu patokan untuk hidup keKristenan mereka.
2. Berilah tanggung jawab kepada mereka sebanyak mungkin, ajarlah mereka supaya saling memperhatikan dan saling menolong secara aktif.
3. Kurikulum Sekolah Minggu untuk umur itu harus mengajar banyak tentang pahlawan iman.
4. Berilah kesempatan untuk ekspresi kreatif. Baik sekali kalau diadakan koor.
5. Kalau menantang mereka, umpamanya untuk bertobat, tidak usah merangsang emosi.
6. Berilah pengetahuan dan kesempatan untuk bertobat dan diselamatkan.
7. Berilah pengertian bahwa dosa dapat dihapus oleh darah Tuhan Yesus Kristus dan bahwa akibat dosa boleh diserahkan kepada Tuhan.
8. Ajarlah mereka hidup sesuai dengan patokan Tuhan yang juga memberi kekuatan untuk berbuat baik.
9. Berilah dorongan secara positif: Firman Tuhan adalah"makanan tubuh rohani kita". Kalau ingin menjadi kuat, harus membaca. Memperkenalkan bahan untuk waktu teduh.
Sumber: http://binaiman.blogspot.com/

  • Facebook
  • Twitter