Tampilkan postingan dengan label PIA-PIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PIA-PIR. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Agustus 2013

Minggu itu, rekan rekan OMK Santo Michael bertugas memberi kan sedikit ilmunya kepada adik adik pia. Hari itu sehari setelah kemerdekaan RI yang ke 68. Semangat kemerdekaan yang dimiliki oleh anak anak ini sangatlah menggebu - gebu. Ketika ditanya apakah mereka berpartisipasi memeriahkan 17 an, jawab mereka serentak ,ikuuut. ada yang ikut lomba, menghias rrumah mereka dengan pernak pernik kemerdekaan dan masih banyak yang lain.

Nah hari itu , kami bersepakat untuk memberikan materi berupa pengenalan teknologi kepada anak anak. Yah,tak muluk muluk, cuman menggambar via laptop. Biarlah mereka juga mengenal teknologi,walau hidup didesa,mereka tidak boleh gaptek teknologi dan mengerti teknologi yang baik itu seperti apa. Setelah diarahkan beberapa saat, dengan bermodalkan beberapa laptop hasil pinjam meminjam dari warga lingkungan gereja, akhirnya kami mengajarkan mereka menggambar. cukup dengan aplikasi PAINT yang merupakan bawaan dari sistem operasi si laptop.

Mereka sangat antusias. Dipikirkannya ide untuk digambar. dan hasilnya tak terlalu buruk untuk pemula. Semoga suatu saat nanti mereka jago dengan teknologi,dan menjadikan bangsa ini tidak gaptek dan tidak mudah di bohongi lagi.














Senin, 01 Juli 2013

Doa untuk gubernur kami yang baru (KIKI)

Posted by OMK Santo Michael On 18.22 No comments
Karya : Antonius Dwiki / Kiki (PIA - PIR Santo Yosef Juwangi - Karangrayung)

Doa untuk gubernur kami yang baru (KIKI)

Ya Bapa,hari ini kami masyarakat Jawa Tengah mengadakan pemilihan Gubernur yang baru, Semoga dalam pemilihan ini tidak ada yang curangdan menjadi Gubernur yang bertanggung jawab. Oh pemimpin yang baru,kau memimpin Jawa Tengah yang bersih dari Korupsi. Terimakasih Bapa yang bertahta di kerajaan Surga yang mulia, Dengan doa ini,pengantaraan Tuhan Kami Yesus Kristus. Amin

Bapak Gubernur

Posted by OMK Santo Michael On 18.17 No comments
Karya : Clarita (PIA-PIR Santo Yosef Juwangi-Karangrayung)

Bapak Gubernur

Pak Gubernur
Engkau telah memimpin kami
atas doamu
kami bisa menjalankan
sekolah dengan pintar
mendapat nilai yang baik
dan kami kau beri kelancaran
bisa mengerjakan ulangan dan testing
dan kami tidak akan membohongi dan mencuri
demi doaku

Doa Untuk Gubernur Kami yang Baru

Posted by OMK Santo Michael On 18.14 No comments
Karya Stevanus Dewa / Even (PIA-PIR Santo Yosef Juwangi-Karangrayung)

Doa Untuk Gubernur Kami yang Baru

Ya Bapa
Hari ini kami mendoakan
Untuk bapak Gubernur yang baru
Semoga kau beri kesehatan
Dan kelancaran untuk memimpin provinsi  Jawa Tengah
Untuk negara Indonesia

Bapak Gubernur Jawa Tengah

Posted by OMK Santo Michael On 18.08 No comments
Karya : Bella (PIA-PIR Santo Yosef Karangrayung-Juwangi)

Bapak Gubernur Jawa Tengah


Pak Gubernur engkau beserta wakilmu
ingin mengabdi untuk negara yang lebih maju
menjanjilan sesuatu yang bermanfaat
dalam PILKADA JAWA TENGAH ini

Semoga apa yang  dijanjikan dapat terwujud dengan nyata
kami tagih janjimu
dan korupsi dapat dihapus agar Jawa Tengah ini
semakin maju

Berilah contoh sikap yang bijaksana dan
bertangggung jawab dalam memimpin
suatu masyarakat
yang adil dan makmur



Teladan-Ku

Posted by OMK Santo Michael On 18.03 No comments
Karya : Arie (PIA-PIR SANTO YOSEF JUWANGI-KARANGRAYUNG)

Teladanku

Kaulah sosok pemberi harapan...
pemberi penghiburan... pemberi teladan...
kaulah...
naungan kami...
Rakyat Jawa Tengah

Kau bagaikan embun pagi,,,
Yang memberi harapan akan...
Kesejahteraan kami..
Kau bagaikan biola..
Yang memberi penghiburan akan kami kaum kecil

Izinkan kami untuk menyentuh tanganmu
Melambaikan tangan dan memberi sapaan
Gubernur..
Pedulikanlah kami...
Kami tahu kau mencari uang
Tapi kami tidak mau kau mencuci uang...

Gubernur..
Ku ingin selalu,kau,tak lupa akan kami
Rakyat desa,rakyat kampung
Yang lemah dan membutuhkan

Bapak Gubernur

Posted by OMK Santo Michael On 17.58 No comments
Karya : Maretha (PIA_PIR Santo Yosef Juwangi-Karangrayung)

Bapak Gubernur
Engkaulah pemimpin baru kami
Pemimpin Jawa Tengah
Dengan pemilihan Pilkada
Dan dengan dukungan dari masyarakat
Engkau terpilih menjadi Gubernur baru

Oh.... Gubernur
Kami ingin engkau memimpin
Tanpa korupsi dan menipu
Dengan Gubernur kami yang baru
Semoga daerah Jawa Tengah
Engkau pimpin dengan tanggungjawab





Karya Seni PIA - PIR

Posted by OMK Santo Michael On 17.55 No comments
Silahkan Di Baca Hasil  Karya PIA - PIR SANTO YOSEF

* ARI

* RETHA

* BELA

* KIKI

* EVEN

* CLARITA

Rabu, 13 Februari 2013

Arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia 2006-2016
(reposting mas Eko Gamping)

A. PENDAHULUAN

1. Pada awal milenium ini, Gereja Katolik Indonesia telah menyelenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI). Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia disahkan oleh KWI menjadi kebijakan pastoral Gereja Katolik Indonesia. SAGKI 2000 bertema: “Memberdayakan Komunitas Basis Gerejawi dan Insani.” SAGKI 2005 bertema: “Bangkit dan Bergeraklah! Gereja Membentuk Keadaban Publik Baru bangsa.”

2. Seiring dengan kebijakan itu, Komisi, Lembaga, Sekretariat, Departemen (KLSD) KWI sebagai perangkat KWI juga berusaha mengembangkan budaya kerjasama (korporatif) dengan mengedepankan kerjasama lintas-KLSD maupun lembaga-lembaga terkait lainnya. Misalnya pertemuan untuk mencari penegasan Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, yang terselenggara di Wisma Samadi Klender – Jakarta, tanggal 21 – 24 Juni 2006, terjadi atas kerjasama Komisi Kateketik KWI, Komisi Keluarga KWI, Karya Kepausan Indonesia dan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Katolik – Departemen Agama Republik Indonesia.

3. Usaha pembentukan habitus baru dan budaya kerjasama menuntut pertobatan (metanoia). Pertobatan itu mencakup perubahan sikap dan tindakan yang merupakan gerakan pembaruan menuju keadaban publik baru bangsa.

4. Tujuan kebijakan pastoral itu hanya dapat dicapai bila dimulai dengan pembinaan iman anak sejak dini.

5. Berdasarkan kenyataan diatas dan didukung pula oleh sharing pengalaman peserta Pertemuan Mencari Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, maka diperlukan penegasan bersama arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia masa kini.

B. PEMBINAAN IMAN ANAK

6. Anak sebagai subyek.

Anak sebagai pribadi yang berharga dan unik adalah subyek pembinaan. Maka anak harus menjadi fokus reksa pastoral. Yang dimaksud dengan anak disini adalah anak usia dini dan usia Sekolah Dasar (0 – 12 tahun).
7. Anak dalam tahap-tahap pembinaannya.

Dalam usaha pembinaan iman anak, kita harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak sesuai dengan karakteristik dan konteks sosial budayanya. Perlu kiranya diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh secara dominan dalam perkembangan anak yakni: keluarga, sekolah, teman sebaya dan kemajuan teknologi khususnya media.
8. Keluarga

Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica), tempat penyemaian dan pengembangan iman anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Anak dihantar dan dibimbing ke arah iman dewasa (ada keseimbangan antara pengetahuan dan penghayatan iman). Oleh karena orangtua adalah mitra Allah dalam karya penciptaan manusia baru, maka harus menjadi pembina utama dan pertama serta tak tergantikan, melalui kesaksian dan keteladanan hidup kristiani sejati yang diwujudkan dengan pemberian kasih sayang yang tulus, adil dan arif bijaksana (bdk.LG 11; GE 3; FC 50).
9. Pembina iman anak

Pembina iman anak yang utama dan pertama adalah orangtua. Dalam pelaksanaannya, orangtua bekerja sama secara sinergis dan seimbang dengan para pembina iman anak di sekolah, di paroki dan di masyarakat. Pembina iman anak harus memperhatikan martabat dan hak-hak anak.

10. Hirarki

Hirarki sebagai penanggungjawab reksa pastoral Gereja mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk membimbing, mengarahkan dan mendukung sepenuhnya reksa pastoral pembinaan iman anak. Tanggungjawab hirarki dalam reksa pastoral pembinaan iman anak terungkap dalam dokumen-dokumen Gereja universal dan partikular, antara lain:

a. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium art.11, Gaudium et Spes art. 50, Gravissimum Educationis art.3.

b. Catechesi Tradendae, art. 36

c. Familiaris Consortio, art.50

d Kitab Hukum Kanonik 1983, Kan.867.

e. Pedoman Gereja Katolik Indonesia 1995.

f. Hasil SAGKI 2000 yang dikukuhkan Sidang KWI 2000.

g. Hasil SAGKI 2005 yang dikukuhkan Sidang KWI 2005.

C. METANOIA

11. Demi tercapainya pembinaan iman anak yang seutuhnya dan sepenuhnya, diperlukan perubahan-perubahan (metanoia) dalam diri anak dan pelaku reksa pastoral.

a. Anak: menyadari dirinya sebagai subyek yang bertumbuh dan berkembang secara manusiawi dan kristiani serta inklusif sesuai tahap-tahap perkembangan yang dilaluinya.

b. Keluarga/Orangtua: menyadari bahwa keluarga adalah Gereja Rumah Tangga, yang berperan sebagai pembina utama dan pertama.

c. Wali Baptis: meningkatkan tanggungjawabnya dalam proses perkembangan iman anak baptis.

d. Gereja/Komunitas: lebih inklusif dan peduli pada pembinaan iman anak, terutama yang terlantar dalam pembinaan imannya.

e. Hirarki: lebih mendengarkan, melaksanakan dan meningkatkan mutu reksa pastoral sesuai ajaran Gereja.

f. Fasilitator/Para Pembina Iman Anak: membaharui diri terus menerus sebagai saksi Kristus sejati secara aktif-partisipatif.

g. Lembaga-Lembaga Reksa Pastoral: semakin meningkatkan kerjasama dengan membentuk jejaring yang sinergis.

D. REKOMENDASI

12. Dalam rangka sosialisasi dan realisasi arah dasar pembinaan iman anak, peserta pertemuan ini menyampaikan rekomendasi-rekomendasi kepada:
a. KWI

Mohon dukungan sepenuhnya serta kesediaan KWI dalam menindak-lanjuti hasil pertemuan pembinaan iman anak ini, dalam kerjasama lintas KLSD dan KKI demi masa depan Gereja dan bangsa.
b. Uskup Setempat

Mohon dukungan sepenuhnya dalam menindaklanjuti hasil pertemuan ini, dengan memfasilitasi pembinaan iman anak dan memasukkannya dalam program kerja Keuskupan serta mendorong Komisi-Komisi Keuskupan, Pastor Paroki untuk bekerjasama dan terlibat dalam upaya pembinaan iman anak.
c. KomKat, KomKel, KomDik, KomLit KWI, LBI dan KKI

Mohon agar membuat program kerja terpadu dalam pembinaan iman anak, dengan memperhatikan aspek-aspek perutusan dan kerjasama yang sinergis.
d. Ditjen Bimas Katolik

Mohon meningkatkan komitmen dalam pembinaan iman anak serta dukungan dana dan sarana, demi kemajuan bangsa dan negara.

Jakarta, 24 Juni 2006

PARA PESERTA PERTEMUAN PEMBINAAN IMAN ANAK GEREJA KATOLIK INDONESIA

Komisi Kateketik KWI
Komisi Keluarga KWI
Karya Kepausan Indonesia
Ditjen Bimas Katolik

1. Pada awal milenium ini, Gereja Katolik Indonesia telah menyelenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI). Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia disahkan oleh KWI menjadi kebijakan pastoral Gereja Katolik Indonesia. SAGKI 2000 bertema: “Memberdayakan Komunitas Basis Gerejawi dan Insani.” SAGKI 2005 bertema: “Bangkit dan Bergeraklah! Gereja Membentuk Keadaban Publik Baru bangsa.”

2. Seiring dengan kebijakan itu, Komisi, Lembaga, Sekretariat, Departemen (KLSD) KWI sebagai perangkat KWI juga berusaha mengembangkan budaya kerjasama (korporatif) dengan mengedepankan kerjasama lintas-KLSD maupun lembaga-lembaga terkait lainnya. Misalnya pertemuan untuk mencari penegasan Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, yang terselenggara di Wisma Samadi Klender – Jakarta, tanggal 21 – 24 Juni 2006, terjadi atas kerjasama Komisi Kateketik KWI, Komisi Keluarga KWI, Karya Kepausan Indonesia dan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Katolik – Departemen Agama Republik Indonesia.

3. Usaha pembentukan habitus baru dan budaya kerjasama menuntut pertobatan (metanoia). Pertobatan itu mencakup perubahan sikap dan tindakan yang merupakan gerakan pembaruan menuju keadaban publik baru bangsa.

4. Tujuan kebijakan pastoral itu hanya dapat dicapai bila dimulai dengan pembinaan iman anak sejak dini.

5. Berdasarkan kenyataan diatas dan didukung pula oleh sharing pengalaman peserta Pertemuan Mencari Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, maka diperlukan penegasan bersama arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia masa kini.

B. PEMBINAAN IMAN ANAK

6. Anak sebagai subyek.

Anak sebagai pribadi yang berharga dan unik adalah subyek pembinaan. Maka anak harus menjadi fokus reksa pastoral. Yang dimaksud dengan anak disini adalah anak usia dini dan usia Sekolah Dasar (0 – 12 tahun).
7. Anak dalam tahap-tahap pembinaannya.

Dalam usaha pembinaan iman anak, kita harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak sesuai dengan karakteristik dan konteks sosial budayanya. Perlu kiranya diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh secara dominan dalam perkembangan anak yakni: keluarga, sekolah, teman sebaya dan kemajuan teknologi khususnya media.
8. Keluarga

Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica), tempat penyemaian dan pengembangan iman anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Anak dihantar dan dibimbing ke arah iman dewasa (ada keseimbangan antara pengetahuan dan penghayatan iman). Oleh karena orangtua adalah mitra Allah dalam karya penciptaan manusia baru, maka harus menjadi pembina utama dan pertama serta tak tergantikan, melalui kesaksian dan keteladanan hidup kristiani sejati yang diwujudkan dengan pemberian kasih sayang yang tulus, adil dan arif bijaksana (bdk.LG 11; GE 3; FC 50).
9. Pembina iman anak

Pembina iman anak yang utama dan pertama adalah orangtua. Dalam pelaksanaannya, orangtua bekerja sama secara sinergis dan seimbang dengan para pembina iman anak di sekolah, di paroki dan di masyarakat. Pembina iman anak harus memperhatikan martabat dan hak-hak anak.

10. Hirarki

Hirarki sebagai penanggungjawab reksa pastoral Gereja mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk membimbing, mengarahkan dan mendukung sepenuhnya reksa pastoral pembinaan iman anak. Tanggungjawab hirarki dalam reksa pastoral pembinaan iman anak terungkap dalam dokumen-dokumen Gereja universal dan partikular, antara lain:

a. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium art.11, Gaudium et Spes art. 50, Gravissimum Educationis art.3.

b. Catechesi Tradendae, art. 36

c. Familiaris Consortio, art.50

d Kitab Hukum Kanonik 1983, Kan.867.

e. Pedoman Gereja Katolik Indonesia 1995.

f. Hasil SAGKI 2000 yang dikukuhkan Sidang KWI 2000.

g. Hasil SAGKI 2005 yang dikukuhkan Sidang KWI 2005.

C. METANOIA

11. Demi tercapainya pembinaan iman anak yang seutuhnya dan sepenuhnya, diperlukan perubahan-perubahan (metanoia) dalam diri anak dan pelaku reksa pastoral.

a. Anak: menyadari dirinya sebagai subyek yang bertumbuh dan berkembang secara manusiawi dan kristiani serta inklusif sesuai tahap-tahap perkembangan yang dilaluinya.

b. Keluarga/Orangtua: menyadari bahwa keluarga adalah Gereja Rumah Tangga, yang berperan sebagai pembina utama dan pertama.

c. Wali Baptis: meningkatkan tanggungjawabnya dalam proses perkembangan iman anak baptis.

d. Gereja/Komunitas: lebih inklusif dan peduli pada pembinaan iman anak, terutama yang terlantar dalam pembinaan imannya.

e. Hirarki: lebih mendengarkan, melaksanakan dan meningkatkan mutu reksa pastoral sesuai ajaran Gereja.

f. Fasilitator/Para Pembina Iman Anak: membaharui diri terus menerus sebagai saksi Kristus sejati secara aktif-partisipatif.

g. Lembaga-Lembaga Reksa Pastoral: semakin meningkatkan kerjasama dengan membentuk jejaring yang sinergis.

D. REKOMENDASI

12. Dalam rangka sosialisasi dan realisasi arah dasar pembinaan iman anak, peserta pertemuan ini menyampaikan rekomendasi-rekomendasi kepada:
a. KWI

Mohon dukungan sepenuhnya serta kesediaan KWI dalam menindak-lanjuti hasil pertemuan pembinaan iman anak ini, dalam kerjasama lintas KLSD dan KKI demi masa depan Gereja dan bangsa.
b. Uskup Setempat

Mohon dukungan sepenuhnya dalam menindaklanjuti hasil pertemuan ini, dengan memfasilitasi pembinaan iman anak dan memasukkannya dalam program kerja Keuskupan serta mendorong Komisi-Komisi Keuskupan, Pastor Paroki untuk bekerjasama dan terlibat dalam upaya pembinaan iman anak.
c. KomKat, KomKel, KomDik, KomLit KWI, LBI dan KKI

Mohon agar membuat program kerja terpadu dalam pembinaan iman anak, dengan memperhatikan aspek-aspek perutusan dan kerjasama yang sinergis.
d. Ditjen Bimas Katolik

Mohon meningkatkan komitmen dalam pembinaan iman anak serta dukungan dana dan sarana, demi kemajuan bangsa dan negara.

Jakarta, 24 Juni 2006

PARA PESERTA PERTEMUAN PEMBINAAN IMAN ANAK GEREJA KATOLIK INDONESIA

Komisi Kateketik KWI
Komisi Keluarga KWI
Karya Kepausan Indonesia
Ditjen Bimas Katolik


https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/185572631479805/

Sekolah Minggu

Posted by OMK Santo Michael On 11.41 No comments
Sekolah Minggu
(Sebuah kisah lama, smeoga menyemangati kita semua !)

Bocah-bocah dusun di lingkungan St. Antonius Sendangsari bernyanyi-nyanyi dengan gembira. Mereka nampak nongkrong di pembatas jembatan kecil di pinggir jalan Sumberlawang. Beberapa mudika dan bapak ibu nampak berbincang tak jauh dari anak-anak itu.
Nah, itu dia Pak Kardi.
“Pak Kardi datang”. Seru seorang anak. Segera saja belasan anak berlarian ke jalan. Sebuah pick up tua berwarna merah mendekat. Sesaat kemudian, Pak Kardi yang mulai beruban dengan senyum yang khas penuh kebapakan turun menyapa anak-anak itu.
“Ayo naik, naik”
tanpa disusruh dua kali anak-anak Sendangsari pun berebutan naik ke bak belakang mobil merah itu.
“kamu ikut kan, John ?” Tanya Anna.
“Yo”
Keduanya pun lantas meloncat masuk ke dalam bak, bergabung bersama kanak-kanak yang gembira.
“Sudah siaaaaaaaappppp ?” Pak Kardi berteriak bertanya.
“Siiiaaaappp komandan.” Seru anak-anak itu kompak.
Glodhag, glodhag. Dan mobil pun bergoyangan bergerak perlahan Anak-anak itu pun melambaikan tangan pada orang tua-orang tua mereka yang mengantar di tepi jalan, juga pada beberapa kakak mudika yang ikut berkumpul pagi itu. Nendra dan Anton nampak mendampingi dengan motor-motor mereka.
Siapa tak senang dolan setiap minggu pagi, dengan mobil bak terbuka berkelana ke sana kemari melintas sawah-sawah merambah dusun demi dusun ? Itulah yang dilakoni anak-anak St. Antonius Sendangsari tiap minggunya. Tapi mereka bukan sekedar dolan. Mereka bertualang untuk mengikuti sekolah minggu di gereja stasi mereka. Sebuah gereja mungil yang terletak di lereng bukit agak jauh dari dusun mereka tinggal.

Dan anak-anak itu sangat senang pada Pak Kardi. Yang walaupun kadang galak, namun setia menjemput dan mengantar mereka. Demikian juga segenap warga Sumberlawang. Maka ketika Pak Kardi sakit seluruh stasi pun sepertinya ikut merasakan kesedihan. Benar memang Pak Alex lalu menggantikan untuk sementara peran Pak Kardi, namun toh tak mungkin seakrab dan sehangat sapaan Pak Kardi yang khas dengan gigi ompongnya itu.
Dan Pak Kardi adalah seorang pensiunan yang dengan setia mengisi minggu paginya dengan menjemputi kanak-kanak yang belia itu. Tak hanya anak-anak Sendangsari, namun juga Kalisari, Tlagasari, Tuksari, hingga Ranusari. Dan karena itu kadang-kadang Pak Kardi harus mengitari trayeknya dua atau tiga kali agar semua bocah Sumberlawang dapat bertemu dengan Kristus dan sahabat-sahabat dalam iman. Kadang-kadang ia ditemani Pak Barjo, seorang guru desa di Dusun Beliksari. Pak Dar dan beberapa bapak lain kadang mengawal dengan motor mereka. Demikian juga beberapa mudika nampak setia mengiringi adik-adik mereka. Dan jadilah sebuah konvoi unik tiap minggu pagi di jalan-jalan dusun-dusun Sumberlawang.
Aku diberkati, sepanjang hidupku diberkati, mulai dari bangun pagi, saing berganti malam aku diberkati….” Terdengar nyanyi gembira bocah-bocah itu. Anna pun ikut bernyanyi dengan riang. John yang meski telah diajari berkali-kali  tetap tak mampu mengambil nada yang tepat, lebih memilih menggeleng-geleng kepala sambil bertepuk tangan. “Penghayatan estetikmu kurang sih” komentar Anna suatu kali. “Coba bibirmu lebih maju”.
Tapi segala daya upaya nampak sama saja. John pun menyerah dengan usahanya, dan kini nampak berpasrah, lebih menikmati kegembiraan bersama di tengah-tengah mereka.

“Gimana Pak, Bu Darmi sudah sehat atau belum ?” tanya Pak Barjo yang kebetulan menemani Pak Kardi pagi itu, menyapa Pak Darmo, sembari menunggu kanak-kanak Dusun Tlagasari menaiki mobil.
“Pangestunipun, Pak. Sudah agak lumayan”
“Sudah jadi periksa ke Solo kan ?”
yang ditanya mengangguk-angguk.

Tapi pagi itu Pak Barjo tak bisa menemani hingga mereka tiba di gereja stasi, ia turun di perempatan dekat makam dusun, “Saya pamit dulu ya, saya harus mampir ke rumah bulik Sri.”
“Lha ada apa to Pak ? Tanya John.
“Itu lho persiapan mantu si Warni”
Di perempatan di depan, Pak Barjo pun turun. Mobil kini kembali bergoyangan melewati jalan dusun yang mulai rusak dan menamjak.
“Mestinya ya sudah diaspal lagi. Wong jalan penting kayak gini kok lubangnya ndak karuan.” Terdengar umpatan Nendra. Pak Kardi tertawa. Ia berkata,
“Besok, habis panen ini kita usul ke Pak Kadus, gimana ?”

Sesaat kemudian mereka tiba di Stasi.
“Ayooooo turun, turun, turun !!!” Seru Anna sembari berdiri di bak belakang. John sendiri sudah berada di bawah. Ia menyambut membantu setiap anak-anak yang berlompatan turun. Tentu agak sudah bagi mereka yang terlalu kecil untuk turun dari mobil. Mereka mempercayakan diri pada tangan-tangan muda yang menopangnya. Tapi seorang yang terakhir nampak sungkan malu-malu.
“Aku bisa turun sendiri, Oom John ! “ terdengar suara lembut dari atas bak. John pun mendelik. Oops, itu Anna.
Biasanya Anna akan dengan cerewet menyemburkan aneka kosakata. Tapi pagi itu, entah kenapa, gadis manis itu tersenyum. Dan John pun kehilangan kata-kata.

Beberapa mudika nampak sudah sibuk menyiapkan tempat. Kebetulan tak ada misa minggu pagi di stasi, karena perayaan ekaristi telah dipersembahkan hari Sabtu sore sebelumnya. Dan pagi ini giliran lingkungan St. Paulus yang mengisi sekolah minggu. Kang Bambang sudah siap dengan guyon kocak habis-habisannya (ia nampak sibuk berlatih dengan beberapa anak yang sudah hadir di sana). Sementara itu, Wisnu bersiap-siap dengan gitarnya. Ia nampak begitu serius menyetem gitar. Ini menjadi obyek yang menarik bagi beberapa anak cerdas kreatif yang berbakat seni. Tak butuh lima belas menit untuk memindahkannya ke papan tulis stasi, lengkap dengan segala distorsi bentuk dan komentar pelengkapnya.

Mereka, keluar lagi untuk menjemput tiga anak-anak lagi di dusun sebelah. Kali ini Pak Kardi, Anna, dan John yang memang koordinator urusan penjemputan, ditemani Niken dan Nanang. Itung-itung bertualang, kata mereka.
Di sana, di dusun Kalisari, di depan sebuah rumah dengan warung kecil di depannya, Gaby, Prita, dan Vina sundah menunggu. Bu Warsi nampak sibuk dengan bagor berisi dagangannya.
“Lho, Bu Warsi mau ikut juga ?  Kok tumben.” Komentar Nanang dari atas motornya.
“Iya je le, mumpung ada tumpangan gratis. Nanti mampir ke Pasar Legi ya, Pak Sopir ya.” Sahut bu Warsi dengan senyum kocak.
“Oalah, mau ke pasar to ?” Si nenek pun meringis.
“He he he, boleh dong nenek-nenek kreatif.”
Para mudika itu hanya melongo.

“Iya, nanti jangan lupa oleh-oleh buat Andien ya mbah ya ?” Kata Andien kecil.
“Iya, buat Carlo juga, mbah.”
“Andi juga”
“:Klisti, Mbah.” Terdengar suara cadel.
“Toni”                                                                       
“Wal ketan juruh ya”
“Bayu minta thiwul
“Robert tape ya mbah”
Lalu terdengar suara riuh bocah-bocah itu.

Dan simbah pun terkapar.


Sabtu pagi, Juni 2004
dari kisah seorang teman.
WebRepOverall rating 


https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/185892481447820/
  • Facebook
  • Twitter