Tampilkan postingan dengan label renungan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan harian. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

renungan

Posted by OMK Santo Michael On 18.21 No comments
Selasa, 19 Maret 2013

Injil Yohanes 5:1-18
5:1 Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.
5:2 Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya
5:3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.
5:4 Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya.
5:5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.
5:6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"
5:7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."
5:8 Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."
5:9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.
5:10 Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu."
5:11 Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah."
5:12 Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?"
5:13 Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.
5:14 Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
5:15 Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.
5:16 Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.
5:17 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga."
5:18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Belaskasih dan keadilan menjadi dasar setiap hukum.
Itu berarti setiap hukum atau peraturan mestinya didasarkan atau mewujudkan cinta kasih. Jika ada hukum yang bertentangan dengan cinta kasih, maka hukum itu harus disempurnakan.
Hidup kita sering terikat dengan kebiasaan-kebiasaan atau adat yang sudah berturun-turun. Namun seringkali kita tidak sadar bahwa yang menjadi kebiasaan kita itu tidak sesuai dengan belas kasih dan keadilan. Hanya karena kita terlibat dan menjadi pelaku di dalamnya, maka kita menjadi kurang kritis.
Semoga hari ini kita dapat menghayati dan melaksanakan belaskasih Allah yang sungguh-sungguh membebaskan, memulihkan, menyembuhkan. Sehingga hidup kita menjadi berkat bagi orang lain, dan bukan malah menjadi sandungan.
Tuhan memberkati.

Selasa, 12 Maret 2013

Selasa, 12 Maret 2013

Posted by OMK Santo Michael On 15.33 No comments

Injil Yohanes 5:1-18
5:1 Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.
5:2 Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya
5:3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.
5:4 Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya.
5:5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.
5:6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"
5:7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."
5:8 Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."
5:9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.
5:10 Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu."
5:11 Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah."
5:12 Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?"
5:13 Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.
5:14 Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
5:15 Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.
5:16 Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.
5:17 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga."
5:18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Belaskasih dan keadilan menjadi dasar setiap hukum.
Itu berarti setiap hukum atau peraturan mestinya didasarkan atau mewujudkan cinta kasih. Jika ada hukum yang bertentangan dengan cinta kasih, maka hukum itu harus disempurnakan.
Hidup kita sering terikat dengan kebiasaan-kebiasaan atau adat yang sudah berturun-turun. Namun seringkali kita tidak sadar bahwa yang menjadi kebiasaan kita itu tidak sesuai dengan belas kasih dan keadilan. Hanya karena kita terlibat dan menjadi pelaku di dalamnya, maka kita menjadi kurang kritis.
Semoga hari ini kita dapat menghayati dan melaksanakan belaskasih Allah yang sungguh-sungguh membebaskan, memulihkan, menyembuhkan. Sehingga hidup kita menjadi berkat bagi orang lain, dan bukan malah menjadi sandungan.
Tuhan memberkati.

https://www.facebook.com/luhur.prihadi

Rabu, 13 Maret 2013 Pekan Prapaskah IV

Posted by OMK Santo Michael On 15.24 No comments
Rabu, 13 Maret 2013
Pekan Prapaskah IV
Yes 49:8-15;

Injil Yohanes 5:17-30

Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Karena perkataan itu, orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh Yesus, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri, dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. Maka Yesus menjawab mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak, dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. Aku berkata kepadamu: Sungguh, barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sungguh, saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Dan Bapa telah memberikan kuasa kepada Anak untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kubur akan mendengar suara Anak, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum. Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri. Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Kita sering mengataan “Tuhan itu tidak tidur” / “Gusti ora sare”. Ini mengungkapkan iman kita bahwa Allah terus dan tetap bekerja. “BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga”
Kita menghormati Allah dan Anak yang bekerja dengan cara turut bekerja bersama Bapa. Apapun yang kita lakukan, kita lakukan dalam NamaNya dan demi kemuliaan namaNya.

Kalau setiap orang bekerja bersama Bapa – untuk kemuliaan Bapa – sesuai dengan kehendak Bapa, pasti dunia akan damai sejahtera. Namun seringkali yang terjadi ialah kita bekerja sendiri, mengandalkan kekuatan dan demi impiannya sendiri, tanpa mempedulikan orang lain, bahkan mengambil hak orang lain.

Bekerja keras dan menghayati misteri Salib Tuhan berarti bekerja keras seraya menyesuaikan diri dengan kehendak Bapa. Inilah proses pertobatan menuju kehidupan sejati, ada kebangkitan, pembaharuan hidup.
Selamat bekerja ---- Tuhan memberkati.
 
sumber : https://www.facebook.com/luhur.prihadi/posts/10200135784389414

Jumat, 08 Maret 2013

Kawin - cerai .... masih setia?

Posted by OMK Santo Michael On 16.59 No comments

Suatu ketika ada seseorang pemuda yang mendapat perintah untuk menikahi seorang pemudi. Karena enggan, hormat dan keseganan yang dia miliki, akhirnya pemuda itu menikahiseorang pemudi, yang adalah seorang perempuan sundal. Ketiga anak yang dilahirkannya diberi nama "aku hukum", "tidak ada belas kasih/ampun" dan "tidak ada relasi" (putus hubungan). Ketika kupikir dan kurenungkan peristiwa ini.... sangat aneh dan asing bagiku. Namun begitulah kisahnya.. kisah seorang nabi yang bernama Hosea. 
Tentu historitas relasi ini bisa dipertanyakan, namun, yang ingin disampaikan adalah bahwa figur yang ditampilkan dalam metafora perkawinan ini adalah dinamika relasi antara Allah dan bangsa Israel, yang kerap mangkir dan mengkhianati kesetiaan Allah.
Ternyata, ceritanya tidak berhenti di sini. Berkali kali Israel mengkhianatinya, namun, dengan kesabaran dan kerendahan hatinya, Allah mencoba menarik hatinya. Allah mencoba membawanya ke tempat sunyi dan sepi (padang gurun) dan berbicara dengan hatinya.
Indah sekali pernyataan itu... kutulis indah, karena konsepnya amat sederhana: cinta kasih. Cinta yang indah itu sederhana dan tanpa macam-macam topeng yang menutupinya. Indah karena di dalam cinta itu ada saling berbagi, kesetiaan, tidak terputuskan selamanya. Tapi kalau dipikir-pikir sejenak, seolah-oleh tiga aspek itu merupakan sebuah ancaman bagi kebebasan manusia? Tidak!!! Justru ketiga aspek itu merupakan bantuan Allah untuk melanggengkan aktualisasi cinta manusia.
Tentu ketika orang memutuskan untuk menikah, dia berniat memberikan diri seutuhnya bagi pasangannya, mengharapkan pasangannya bertindak demikian dan tidak mengharapkan sedikitpun pengkhianatan dari pasangannya tersebut  (Mk 10,2-12).
Tapi, kalau salah satu dari pasangan tersebut selingkuh, apa yang terjadi? Bagaimana kita harus bertindak? Mari kita melihat visi Allah tentang manusia di dalam Kej 2,18-24. Allah menciptakan manusia untuk saling menolong. Allah menciptakannya tidak sekedar untuk hidup bersama dan menghasilkan sesuatu. namun agar kedua manusia yang saling mencinta itu sanggup untuk tinggal sehati dan sejiwa bersama dengan pasangannya. Dengan kekuatan cinta yang tulus ini, diharapkan agar masing-masing merasakan kekuatan cinta dari orang lain. "Merasa diri dicintai" merupakan salah satu kondisi agar dapat mengampuni. Apalagi, sistem sosial dimana keluarga-keluarga katolik tinggal kerap tidak mendukung nilai-nilai injili yang ingin mereka hidupi. Dunia yang terpecah, egois, ingin menang sendiri, tidakjujur, serakah, terue menerus menggunakan kekerasan sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah ... adalah sekelumit gaya hidup yang ditawarkan sebagai racun yang memabukkan bagi keluarga. Kalau tidak mengikuti gaya seperti ini, mereka merasa akan terlempar keluar. Inilah serangan yang kuat kepada pasangan suami istri yang berniat sehidup semati, dalam suka dan duka, untung dan malang.. seumur hidup. Kalau kebacut terjadi perselisihan yang tidak terjembatani?
Mari kita ingat Yer 31,3 "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu aku melanjtkan kasih setiaku kepadamu".  Saya ingin menekankan kata melanjutkan sebagai salah satu bentuk kesetiaan kepada cinta itu sendiri. Yang mau dibela di sini adalah kesatuan cinta yang indah seperti bunga di musim semi. 
Maka, sebagai ajakan, marilah kita memupuk iman kita dengan mempelajarinya. Marilah kita meneguhkan iman kita dan belajar dari rosario: merenungkan misteri-misteri iman bersama dengan Bunda Maria. Mari kita ingat bahwa di dalam Gereja, kita tidak bertemu dengan sebuah rumusan teori, melainkan kita bertemu dengan seseorang yang hidup dan mati untuk kita, Yesus Kristus.
Maka, jika pernikahan adlaah sakramen cinta kasih Allah, maka kesetiaan suami istri adalah pernyataan dari cinta kasih itu sendiri.
Selamat berjuang untuk setia, seperti Yesus setia juga kepada kehidupan dan sejarah kita.
P. Alfonsus Widhi sx
Bintaro
http://alfoesercizi2010.blogspot.com/search/label/Perkawinan

Hukum pembalasan dibatalkan!

Posted by OMK Santo Michael On 16.58 No comments

Yah.. benar-benar dibatalkan dengan pernyataan Yesus di Injil Lukas 4,16-21. "Roh Tuhan ada padaku. Oleh sebab itu, Ia mengurapi aku .... untuk mewartakan tahun rahmat Tuhan telah datang" Pada hari ini, genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya!
Mendengar ini, kenapa banyak orang marah-marah dan tidak setuju. Mengapa mereka mencari-cari alasan untuk menyingkirkan Yesus? Tentu saja mereka marah. Marah bukan saja karena mendengar penggenapan nas itu.... mereka marah, juga karena Yesus membaca teksnya tidak penuh. Dia tidak meneruskan pembacaan dari Yesaya bab 61,2. kalau mau diteruskan, kalimatnya menjadi.... untuk mewartakan tahun rahmat Tuhan, hari pembalasan dari Tuhan kita!!!
Yang paling besar adalah cinta kasih
Tapi rupanya, karya misi Yesus ke dunia hendak menyempurnakan kutipan Perjanjian Lama ini. Allah yang dibawa oleh Yesus bukanlah figur yang membalas mata dengan mata. Cinta kasih yang dewasa tidak menuntut apapun juga! Bukankah Ayub dalam kitab yang lain sudah perlahan-lahan mengendus ide tentang Allah yang mencintai manusia, bukan karena cinta manusia yang rapuh.
Nampaknya, apa yang terjadi dua ribu tahun yang lalu, masih saja terungkap saat ini dengan ekspresi yang berbeda. Logika kekerasan dan balas dendam rupanya merasuk ke dalam budaya manusia modern, atau manusia digital (kalau mau disebut demikian). Lihat saja televisi, film, kata-kata, video games .... seolah-olah tidak ada lagi tempat dimana sebuah relasi yang sehat dan dewasa bisa berkembang. Apakah benar bahwa lingkungan tempat kita tinggal tidak lagi memberikan sebuah suasana yang mendukung cinta kasih, pengampunan, damai, sukacita, belas kasih, pengorbanan... cinta kasih?
Pelan namun pasti. Seorang pengikut Kristus diajak untuk bersikap kritis pada apa yang dibuat, konsekuensi yang diambil serta berani memotong rantai kekerasan dan balas dendam seperti Kristus. Memang resikonya adalah hidup kita sendiri... seperti Kristus, yang disalibkan karena menanggung resiko dari apa yang diajarkanNya. Inilah orang dewasa. Inilah orang beriman. Inilah orang yang sanggup mencinta.
selamat hari minggu,
P. Alfons sx - Postulat Xaverian, Bintaro
http://alfoesercizi2010.blogspot.com/search/label/Pengampunan

Doa = sebuah sinkronisasi 2 kehidupan

Posted by OMK Santo Michael On 16.57 No comments



Salib besar di pintu masuk Rumah Ignasius di Loyola

Hidup doa itu perlu dipersiapkan: bukan romantisisme dan kehendak baik, tetapi menemukan realitas hidup. Kadang orang pergi ke Gereja, semata-mata bukan untuk berdoa bersama dengan komunitas, melainkan berusaha mencari ketenangan, bertemu dengan teman, bisa killing time ketika tidak tahu  harus berbuat apa di rumah. Maka, orang yang mengalami ini, perlahan-lahan bisa berkembang dalam doa ketika dia berani untuk sendiri, berdiam dan memandang Salib Kristus.
Kualitas doanya akan makin bermakna kalau ada kaitannya dengan kehidupan. Apa yang dia alami dalam hidup, apa yang dia pernah baca atau dengar homili tentang kisah hidup Yesus bisa merupakan sebuah bahan doa. Marilah kita mengingat bahwa doa bukanlah pertama-tama berbicara TENTANG Allah, melainkan berbicara DENGAN Allah. Dalam dialog ini, manusia bisa merasakan kalau doa bisa menjiwai seluruh aspek kehidupan kita dan kehidupan kita berubah menjadi rentetan manik-manik rosario, sebuah untaian mawar, sebuah doa. 
Dengan demikian, berdoa itu tidak sekedar menjadi pengemis, melainkan mensinkronisasikan hidup kita dengan apa yang merupakan kehendak Allah. Ternyata, tidak cukup hanya meminta apa yang aku butuhkan dalam hidup. Allah menghendaki lebih besar dari itu: yaitu kesediaan diri kita untuk dihidupi oleh Sabda-Nya. 
Semoga, dengan semakin berdoa bersama dengan Bunda Maria, perlahan-lahan hati kita pun dibentuk oleh ibu kita ini seperti hatinya, yang sanggup mendengarkan dan menyimpan segala sesuatu di dalam hati.
selamat berdoa
p. alfons sx
http://alfoesercizi2010.blogspot.com/search/label/Doa
  • Facebook
  • Twitter