Tampilkan postingan dengan label Mudika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mudika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Februari 2013

Orang Muda Katolik (OMK) di tengah arus hubungan antar agama dan kepercayaan (HAK)

1. Meluas Sejak ”Zaman Kita”

Arus dialog antar-agama makin kuat sejak 1960-an. Seperti teologi pembebasan, teologi pluralisme agama-agama memiliki akar resminya dari Konsili Vatikan II (1962-1965), dan benihnya diperkenalkan kepada Gereja oleh Paus Paulus VI dalam ensikliknya Ecclesiam Suam (6 Agustus 1964). Teologi pluralisme agama-agama ini merupakan buah dari panggilan Konsili bagi Gereja agar berada dalam dialog dengan agama-agama lain. Jika teologi pembebasan mengambil titik pijak pada dokumen Gaudium et Spes (“Kegembiraan dan Harapan”), maka teologi pluralisme agama-agama berpijak pada dokumen Nostra Aetate (”Zaman Kita”), deklarasi hubungan Gereja terhadap agama-agama non-Kristen. Walaupun dokumen yang ditetapkan tahun 1965 ini ini singkat saja, hanya 5 artikel, namun telah secara signifikan mengubah sikap Gereja Katolik dalam membangun hubungan dengan masyarakat dan agama-agama lain. Khususnya, artikel di bawah ini sangat revolusioner, paling tidak menurut standard Gereja tahun 1960-an:

”Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci dalam agama-agama [!: The Catholic Church rejects nothing which is true and holy in these religions]. Dengan sikap hormat dan tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran yang menerangi semua orang” (NA, 2). Sampai di sini kita teringat pula akan Lumen Gentium : ”Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta GerejaNya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendakNya yg mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG, 16)

Catatan berikutnya dalam NA artikel 2 itu mengingatkan, bahwa Gereja tidak mau terjebak dalam indiferentisme:

”Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya (2Kor 5:18-19). Di sini ingatan melayang ke LG 14 yang berseru untuk orang Katolik sendiri: ”Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah pengantara dan jalan keselamatan yakni Kristus. Ia hadir dalam TubuhNya yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (Mrk 16:16; Yoh 3:5), Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja… Maka andaikata ada orang yang benar-benar tahu bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan”

Alinea terakhir NA 2: ”Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta peri hidup Kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya yang terdapat pada mereka.

Setelah itu, menguatlah arus dialog antar-agama dalam kepala dan anggota-anggota tubuh Gereja Katolik, dibandingkan era sebelumnya. Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) dalam sidang-sidangnya sejak tahun 1990 – 1995 bergembira dengan arus teologi pluralisme. Tidak heran karena konteks Asia menuntut Gereja berdialog dengan agama-agama lain di samping dengan budaya-budaya dan realitas kemiskinan. Memang, agama-agama besar terlahir di Asia. Bahkan penerbitan dokumen Dominus Iesus 5 September 2000 oleh Kongregasi Ajaran Iman, yang menekankan karya penyelamatan Allah melalui Kristus dalam Gereja Katolik Roma, yang sebenarnya mirip LG 14, tidak mematahkan semangat dialog, selain malahan menegaskan bahwa alasan dialog memang diakui muncul karena adanya perbedaan dalam hidup bersama. Isu-isu teologis yang timbul sejak Dominus Iesus tetap menunjukkan bahwa sikap positif atas dialog tetap menempati 95%, sedangkan penolakan atas dialog pasca terbitnya dokumen itu hanya 1% (Edmund Chia, Towards a Theology of Dialogue: Schillebeeckx’s Method as Bridge between Vatican’s Dominus Iesus and Asia’s FABC Theology. Bangkok: 2003). Komisi Dialog atau Hubungan Antar Kepercayaan di FABC, KWI serta Keuskupan dan Paroki pun dibentuk untuk mengembangkan dialog dengan agama-agama lain, memantapkan hubungan ekumenis, dan relasi dengan penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dialog kemudian berkembang dalam tujuh (7) bentuk: (1) dialog kehidupan, (2) dialog dalam hidup sehari-hari, (3) dialog karya, (4) kerja sama antar lembaga, (5) dialog pakar, (6) pemahaman dalam persahabatan, (7) dialog pengalaman religius. Dengan demikian sebenarnya bisa ditegaskan kebenaran iman kita ini: Allah sendiri-lah yang menghendaki ”keluar dari dirinya sendiri”, mendatangi manusia untuk berdialog dengan manusia untuk menyelamatkan manusia.
2. Realitas Orang Muda Katolik (OMK) Dalam Arus Dialog

Rapat Pengurus Komisi Kepemudaan KWI 12 Februari 2009, menegaskan agar klausul ”mengembangkan wawasan dan pengalaman dialog dengan agama-agama lain” dimasukkan dalam rancangan Pedoman Pastoral OMK. Usulan atas kalimat itu dalam Pedoman Pastoral OMK itu bukannya tanpa alasan. Arus zaman menuntut kita berdialog antar agama, dan Komisi Kepemudaan semestinya mengajak OMK berlatih berdialog. Maka, dialog antar-agama mesti menjadi perhatian Komisi Kepemudaan pula. Kita tahu dari pengalaman, betapa urusan Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) selama ini terkesan menjadi urusan orang tua. Padahal di lapangan, banyak ajakan berdialog kepada OMK di tingkat paroki, kevikepan/dekenat, maupun keuskupan, dan nasional baik oleh pemerintah maupun majelis agama-agama dan forum-forum lintas agama. Kebutuhan untuk menampilkan OMK dalam panggung dialog ini hendaknya bukan hanya karena desakan rasa malu karena selama ini kita sukar memenuhi undangan dari saudara-saudara kita karena minimnya OMK yang mau dan mampu terlibat, namun hendaknya didorong dari dalam oleh ketulusan hati yang penuh syukur atas kasih Allah yang menggapai semua orang. Kesungguhan untuk melibatkan OMK dalam HAK sebenarnyalah bukan karena OMK kita selama ini ”mengkawatirkan” jika harus menjelaskan pengetahuan iman Katolik mereka di antara teman-teman agama-agama lain yang begitu percaya diri, namun lebih-lebih karena perutusan oleh Tuhan sendiri untuk menaburkan cinta kasihNya demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia.
3. Harapan atas OMK di Tengah Arus Dialog Agama-Agama

Pastoral OMK mesti menganut blue ocean management. Karya kepemudaan tak bisa mengincar satu bentuk saja. Fokus Karya KomKep memang hanya satu yakni pengembangan OMK secara holistik pada katolisitas/spiritualitas, kepribadian, kemasyarakatan, kepemimpinan/organisasi dan profesionalitas. OMK Indonesia dengan segala dimensinya harus berkembang, dengan program, bentuk dan cara kegiatan yang beraneka ragam dan banyak pilihan, termasuk pengembangan diri OMK dalam hal dialog antaragama dan kepercayaan. Oleh karena itu, pastoral OMK dalam konteks HAK semestinya:

1. Menetapkan tujuan pelibatan OMK dalam HAK, berdasar needs analysis, tentu saja bisa dipakai berbagai alat analisis, seperti SWOT, dll, namun juga alat pikir tiga poros keadaban publik (NotaPastoral KWI 2004).
2. Menetapkan desain program yang nyata dalam kerja sama dengan Komisi HAK. Pembinaan Orang Muda Katolik yang holistik, bersama Komisi HAK semoga berani membidik keberanian OMK agar menghayati iman dengan praktek hidup, aktif terlibat dalam hidup kemasyarakatan, berjiwa pejuang wirausaha, menjalani studi dengan baik, mudah berefleksi, mudah mengayunkan hati dalam doa, dan ringan hati menjalin persahabatan dengan teman-teman agama-agama dan kepercayaan lain. Pendek kata, menghasilkan OMK yang siap berdialog dalam ketujuh bentuknya di atas dengan teman-teman agama-agama lain.
3. Menumbuhkan minat OMK akan pengetahuan imannya. Kenyataan ini berbanding lurus dengan kemalasan membaca kekayaan iman dan intelektual, suatu depositum fidei yang dalam dan luas dari Gereja Katolik. Kemalasan dan minimnya pengetahuan iman yang menjadi suatu batu sandungan jika ingin suatu dialog yang lebih mendalam dengan teman-teman agama-agama lain. Apa yang mau didialogkan jika tak tahu persis mengenai aspek-aspek pengetahuan imannya sendiri? Apa bisa berdialog jika tidak terjun langsung dan segera bergaul dengan teman-teman muda dari agama-agama lain?

4. Peluang

Zaman kita memberi peluang baru yakni minat OMK akan teknologi informasi terkini. Jika orang muda Katolik mulai membangun jejaring dalam berbagai minat dengan aneka milist, facebook, twitter, blog, website, tentu saja alat ini akan berguna pula bagi pengembangan jejaring muda Katolik penggerak HAK. Yang saya maksud bukanlah media kontak-kontak romantisme belaka, namun terlebih bagaimana memakai media internet untuk menambah pengetahuan iman Katolik bagi OMK, dan berdialog dengan agama-agama lain dalam 7 bentuknya di atas. Beberapa website Katolik yang dikelola dengan baik oleh umat bisa ditautkan dengan website OMK dalam rangka membina HAK. Orang muda agama lain bisa diundang agar berinteraksi di dalamnya untuk berdialog. Semoga.

Yohanes Dwi Harsanto Pr, Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI. Tulisan ini pernah dipaparkan dalam diskusi Komisi HAK Regio Jawa, Februari 2009.

https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/185572251479843/

List Materi Pelatihan OMK

Posted by OMK Santo Michael On 11.46 No comments
Rekan-rekan,
Ketika beberapa kali menyusun kurikulum pelatihan, saya sering menjumpai banyak materi yang sama. Saya mencoba mendaftar berbagai materi pelatihan yang selama ini berkembang di tengah kita, sehingga sedikit banyak  membantu saya untuk mengecek kembali materi yang ada. Apakah lits sederhana ini berguna atau tidak, saya kembalikan ke teman-teman. Saya mohon tambahan dan koreksi untuk makin menyempurnakannya bagi kita semua.

Wassalam,

Cyprianus Lilik K. P.

PRAKONDISI
1.     Kontrak Belajar, perkenalan,
o    Pencairan suasana
o    Perkenalan
o    Alur proses
o    Harapan dan sumbangan
o    Kontrak belajar
o    Brainstorming
2.     Pengenalan dan Manajemen diri
o    Luka batin dan epikasi
o    Pengenalan dan manajemen diri

KATOLISITAS
3.     Spiritualitas
o    Wawasan spiritualitas
o    Olah rohani (Doa, retret)
o    Anatomi spiritualitas diri
4.     Wawasan iman
5.     Hidup menggereja
6.     Panggilan dan Perutusan

NILAI DASAR DAN KESADARAN KRITIS
7.     Universal Value, Social Human Rights, & Catholic values
o    HAM
o    Hak asasi sosial
o    ASG
o    Teologi Pemerdekaan
8.     Demokrasi dan Democratic Citizenship
o    Prinsip-prinsip demokrasi
o    Transisi Demokrasi
o    Pelembagaan Demokrasi
o    Kewarganegaraan (Civic Virtue)
9.     Analisa Sosial
o    Game ansos
o    Dasar-dasar ansos
o    Praktek ansos
o    Struktur masyarakat modern
10.  Pemetaan Ideologi (Liberalisme – Sosialisme, postmodernisme)
o    Liberalisme dan kolonialisme
o    Sosialisme
o    Postmodernisme
o    Fundamentalisme
§  Akar-akarnya,
§  Kaitannya dengan arus besar pertempuran ideologi
11.  Neoliberalisme dan Globalisasi
o    Neoliberalisme
o    Globalisasi
o    Gobal movement

KEINDONESIAAN
12.  Keindonesiaan I : sejarah, struktur sosial, antropologi Indonesia
o    Sejarah sosial masyarakat Indonesia
o    Struktur sosial masyarakat Indonesia
o    Sejarah kebangsaan Indonesia
o    Sejarah pemikiran sosial politik Indonesia
13.  Keindonesiaan II : Masyarakat politik Indonesia, dan Indonesia kontemporer
o    Indonesia dalam politik internasional
o    Indonesia dan developmentalisme
o    Masyarakat Indonesia kontemporer
o    Politik Indonesia kontemporer
14.  Keindonesiaan III : Agama-agama dan multikulturalisme
o    Sejarah agama-agama di Indonesia
o    Islam
o    Agama-agama non islam
o    Fundamentalisme religius di Indonesia
o    pluralisme dan multikulturalisme
o    Gerakan-gerakan pluralisme dan multikulturalisme Indonesia

POLITICAL SKILL
15.  Dasar-dasar politik
o    Apa itu politik
o    Dua macam politik
o    Advokasi
16.  Kebijakan publik
o    Dasar-dasar kebujakan publik
o    Pelembagaan politik Indonesia
o    Advokasi kebijakan publik
17.  Partai politik
o    Dasar partai politik
o    Sejarah Partai politik internasional
o    Sejarah partai politik Indonesia
o    Parpol Indonesia kontemporer
o    Rekruitmen politik dan kaderisasi partai
o    Komunikasi politik
18.  Lokal politik
o    Sejarah
o    Sosiologis dst

SOCIAL MOVEMENT
19.  Gerakan sosial
o    Gerakan sosial dan perubahan sosial
o    Dasar-dasar gerakan sosial
o    Manajemen gerakan
o    membangun gerakan sosial
o    pengembangan strategi gerakan
20.  gerakan sosial baru :
o    Feminisme
o    Lingkungan hidup
o    Gerakan kesenian alternatif
21.  Com dev, CO
o    Dasar-dasar Community organising
o    Animasi komunitas
22.  Jaringan (networking)
23.  Social campaign : Media dan advokasi/kampanye politik
24.  masyarakat sipil Indonesia
o    sejarah gerakan masyarakat sipil Indonesia
o    anatomi gerakan masyarakat sipil Indonesia
o    gerakan mahasiswa
o    gerakan rakyat
o    gerakan profesional
o    cyber civil society

MEDIA KREATIF
25.  Media Literacy (Cetak)
o    Dasar-dasar media
o    Media development
o    Analisa media
o    Strategi media
26.  film
27.  game dan animasi komunitas
28.  menulis
29.  aksi budaya
30.  lain-lain

ORGANISATIONAL SKILL
31.  Management – Program Planning
o    Manajemen kegiatan
o    Manajemen program
o    Manajemen organisasi
o    Manajemen perubahan
32.  Tata Kelola rumah tangga organisasi
33.  Logistik, Fundraising, dan manajemen keuangan
o    Perencanaan logistik
o    Manajemen keuangan
o    Penggalangan dana
34.  Team building & Conflict Management

PERSONAL SKILL
35.  manajemen diri
36.  meditasi
37.  olah fisik
38.  Personal planning
39.  Public Speaking
o    Debat
o    Rapat
o    Lobby
o    Seminar
o    Lain-lain
40.  Critical Thinking, Reading, & Wiriting
o    Critical Thinking
o    Critical Reading
o    Critical Wiriting
41.  Leadership
o    Transformatif leadership
o    Creative leadership
o    Teknologi partisipasi
o    Kepemimpinan Kristiani

PENUTUP
42.  Penutup :
o    Kapita selekta,
o    Review
o    Dasar-dasar pengembangan diri pasca pelatihan
o    Apa yang terlewat
o    Rencana tindak lanjut

o    Evaluasi dan Refleksi


https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/181143751922693/

Mudika atau OMK ?

Posted by OMK Santo Michael On 11.44 No comments
Mudika atau OMK ?

OMK
Kata OMK Muncul dalam diskusi teman-teman KAJ tahun 2004 untuk menanggapi banyaknya kelompok-kelompok baru kaum muda yang tidak tertampung oleh Mudika. Selanjutnya istilah ini dipakai sebagai istilah umum dalam Pernas OMK 2005. Sebenarnya kata OMK dimaksud untuk menggantikan istilah umum “kaum muda Katolik”

Dengan demikian istilah OMK sebenarnya tidak menunjuk pada “komunitas” tetapi “istilah generik” seperti kata “kaum muda Katolik”. Namun demikian selanjutnya kata OMK dipergunakan salah kaprah sebagai pengganti kata Mudika.

Sebagai istilah, OMK tidak memiliki kerangka konseptual sebagai platform gerakan kaum muda Katolik baru, istilah ini dimunculkan hanya untuk menyegarkan kembali terminologi “kaum muda”, tanpa target dan perencanaan sistematis yang diturunkan dari terminologi baru ini. Demikian pula tidak ada dasar legal formal dari istilah OMK, yang ada adalah konsensus tidak sengaja yang tersebar dan meluas.

Orangmuda Katolik dimaksudkan untuk menggantikan istilah “kaum muda Katolik” bukan Mudika.

Mudika
Istilah Mudika muncul dalam dinamika pendampingan kaum muda Paroki Katedral Bogor 1974 dan kemudian tersebuar luas. Mudika lebih dimaksud pendampingan kaum muda Katolik teritorial. Sementara KMk dimaksud untuk menyebut gerakan kaum muda Katolik di lingkungan kampus (keluarga mahasiswa Katolik). Mudika adalah istilah sementara yang muncul untuk mengisi kekosongan pendampingan kaum muda pasca Pemuda Katolik

1985 disepakati berdirinya Komisi Kepemudaan KWI, sejak saat itu, Mudika dipakai untuk menyebut komunitas Katolik muda teritorial (pemuda) yang berorientasi ke dalam gereja, sementara Pemuda Katolik sebagai ormas dipercaya mengisi peran kesternal kaum muda Katolik.

Jadi OMK atau Mudika ?
Jadi mana yang lebih tepat, OMK atau Mudika ? Keduanya sama-sama tidak ada landasan legal-formalnya, keduanya sama-sama tidak memiliki kerangka konseptual dan organisasional yang jelas.

https://www.facebook.com/groups/orangmudakatolik/doc/178452605525141/
  • Facebook
  • Twitter